Biasanya kita bersikukuh dengan pendirian kita sendiri, tidak mudah untuk mengaku salah, bahkan boleh dikata tidak pernah mengakui kesalahan. Bukan kita tidak pernah melakukan kesalahan, tapi tidak mau mengakuinya. Hidup ini seperti sebilah cermin, dari seorang teman di sana, saya melihat sosok saya yang tidak mau mengaku salah.

Seorang teman mengirimi saya gambar dan meminta saya mengeditnya, setelah ngobrol singkat, saya pun paham dengan maksudnya. Kemudian saya bilang ke teman saya : “Ini sangat mudah, dan dengan cepat bisa saya kerjakan.” Namun, mungkin karena nada saya terdengar sombong, sehingga menyebabkan teman saya agak kesal. Lalu dengan kesal teman saya bilang : “Sudah puluhan jam saya kerjakan sejak kemarin, tapi belum juga selesai, sementara kamu yang baru lihat sekilas malah bilang gampang, saya jamin tidak akan bisa kamu kerjakan.” Katanya ketus.

Faktanya memang tidak semudah yang saya bayangkan, karena setelah dicoba ternyata kesulitannya sangat memusingkan saya, banyak poin yang tidak saya pahami, dan perlu mencari tahu tekniknya. Setelah menghabiskan waktu sekitar dua jam, akhirnya selesai juga. Ketika saya mengirim gambar yang sudah selesai saya kerjakan itu ke teman saya, dua jam kemudian teman saya baru merespon, dan dengan nada dingin mengatakan “caramu ini saya juga bisa.”

Saya tahu dia baru bilang bisa setelah melihat cara kerja saya, tapi apa perlu berdebat hanya karena masalah sepele ini ?

Seperti kata pepatah, “rasam minyak ke minyak, rasam air ke air (orang mencari golongannya), lalu bilang cara kerja saya juga seperti itu. Menurut saya sebab utamanya adalah orang yang membuat teknik itu terlalu memperhatikan pada teknik/skillnya, tidak ingin orang lain tahu bahwa masih ada hal lain yang tidak dikuasainya. Kesalahan teman adalah penyakit (kesalahan) diri kita sendiri.

Bagaimana mungkin tidak ada yang tidak bisa dilakukan seseorang ? Dan bagaimana mungkin manusia itu tidak akan salah? Kalau memang ada sesuatu yang salah, harus berani mengakui kesalahan, dengan begitu baru akan dihargai orang lain. Jika tidak, bukan hanya akan kehilangan teman, tetapi juga akan dicemooh/dipandang rendah oleh orang-orang, dan di mata orang lain sama saja dengan sesosok orang yang tidak bermutu. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share

Video Popular