Biasanya kita menganggap rasa sakit sebagai hal yang buruk, namun sesungguhnya rasa sakit dapat mencegah kita mengalami luka yang lebih parah. Faktanya, tanpa rasa sakit, hidup kita akan menjadi lebih singkat.

Dalam buku Pain: The Gift that Nobody Wants (Rasa Sakit: Berkah yang Tidak Diinginkan oleh Siapapun), karya Philip Yancey dan Dr. Paul Brand, menulis tentang penyakit bawaan yang menyebabkan seseorang tidak dapat merasakan sakit sejak dari lahir. Dengan kekurangan panduan sensoris ini, penderita tersebut dengan mudah mengalami luka serius, gagal mencari pertolongan medis dengan tepat waktu, dan seringkali meninggal sebelum mencapai usia dewasa.

Seperti aspek negatif dari indera kita yang lain, seperti mencium bau busuk, rasa yang memualkan, suara berisik yang mengganggu, atau pandangan yang mengerikan, merasakan sakit berperan sebagai pembawa pesan bahwa ada sesuatu yang salah dan ada yang perlu segera diubah. Jika kaki Anda tersandung atau kepala terbentur, pesan yang dibawa oleh rasa sakit adalah untuk menjadi lebih perhatian terhadap lingkungan sekitar.

Namun, jika kita menderita dan pesan yang dibawanya tidak jelas, rasa sakit seolah menjadi sesuatu yang kejam, tidak perlu, dan tidak adil.

Budaya kita secara umum tidak tertarik untuk menyingkap pesan yang dibawa oleh rasa sakit. Sebuah ujaran lama yang menentang rasa sakit mengatakan: “Saya tidak punya waktu untuk rasa sakit.” Namun usaha untuk meredam rasa sakit tanpa menguraikan pesan yang dibawanya bisa menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan.

Contohnya, mulai tahun 1990, resep opioid atau penghilang rasa sakit menjadi sangat terkenal diantara para dokter ketika diharuskan menangani rasa sakit kronis, namun hal itu menghasilkan wabah kecanduan dalam masyarakat. Ketika dunia medis menyadari kesalahan mereka dan mulai menolak penggunaan pil penghilang rasa sakit, banyak yang beralih ke heroin, menyebabkan dorongan yang tidak diduga terhadap obat berbahaya ini.

Sejak tahun 1999, jumlah kematian akibat opioid (baik dari penggunaan secara ilegal maupun dari resep obat) telah bertambah empat kali lipat. Menurut Pusat Pengendalian Penyakit (Centers for Disease Control) AS, setiap harinya ada 91 orang Amerika yang mati karena overdosis obat opioid.

Ada metode yang lebih aman dalam menjanjikan hilangnya rasa sakit, namun mungkin tidak mampu menghilangkan rasa sakit dengan segera. Dan setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun menderita rasa sakit yang berkelanjutan, maka penderita akan bersedia mencoba cara apa pun yang menjanjikan atau bahkan sedikit harapan untuk menghilangkan rasa sakit.

Ini adalah drama yang dikenal baik oleh Steven Ozanich. Di usia 14, punggungnya kaku, dan selama 30 tahun berikutnya dia mencoba apa saja untuk menghentikan rasa sakit di punggungnya.

“Saya merasa putus asa. Saya sudah mencoba akupunktur, ribuan manipulasi chiropractic, terapi fisik, dan bergantung terbalik seperti kelelawar mencoba untuk meregangkan punggung saya,” ujarnya.

Akhirnya, Steven mendaftar untuk menjalani operasi: penyatuan tulang belakang dan pemasangan plat titanium. Beberapa mimggu sebelum proses operasi tersebut dilakukan, dia bertemu dengan Dr. John E. Sarno, seorang profesor bidang pengobatan rehabilitasi di Sekolah Medis New York University.

Berkat Dr. John, Steven membatalkan operasinya, dan 17 tahun kemudian dia terbebas dari rasa sakit.

“Dr. John telah menyelamatkan hidup saya,” papar Steven.

Penemuan Dr. John

Di tahun 2012, majalah Forbes menyebut John E. Sarno sebagai “Dokter Terbaik Amerika” berkat “penyembuhan ajaib” yang ditemukannya. Dia telah menerima banyak penghargaan layaknya selebriti, mulai dari acara Howard Stern sampai ke mantan senator Iowa, Tom Harkin.

Dikatakan bahwa jutaan orang telah merasakan manfaat dari penemuannya, namun mungkin saja Anda belum pernah mendengar namanya. Hal itu mungkin karena strategi Dr. John dalam menangani rasa sakit agak tidak umum dan agak aneh jika dibandingkan dengan pemahaman kita sekarang mengenai mekanisme rasa sakit.

Dari sudut pandang Dr. John, rasa sakit bukan berasal dari bagian fisik, namun dari bagian mental dan emosional. Dia menyebut proses itu sebagai tension myoneural syndrome, atau TMS. Pemikirannya adalah, bahwa perasaan kita yang gelap dan tidak terekspresi keluar menyebabkan ketegangan yang kronis, dan kemudian menyebabkan rasa sakit di tubuh fisik.

Dr. John menemukan gagasan ini di tahun 1970-an, ketika sedang memeriksa seorang wanita yang ia panggil Helen, yang hanya terbaring di tempat tidur karena rasa sakit yang parah. Dibawah pemeriksaan psikoanalisis, Helen mengingat bahwa dia sedang disiksa oleh ayahnya. Kenangan akan hal ini kemudian terkumpul dan menyebabkan kejatuhan mental, dan sebuah perasaan bahwa dia akan segera mati. Namun setelah beberapa menit menangis dan mengguncangkan badannya, rasa sakit yang dirasakan Helen selama bertahun-tahun tiba-tiba lenyap.

Hasil pengamatan seperti ini meyakinkan Dr. John untuk memandang rasa sakit kronis sebagai mekanisme perlindungan diri, sebuah pengalih dari perasaan yang tidak siap Anda hadapi.

Bagi mereka yang ingin melawan iblis emosi, yang berdiam dibalik rasa sakit yang mereka rasakan, proses yang harus dijalani adalah pembukaan tabir. Dalam sebuah film dokumenter tentang Dr. John berjudul All the Rage (Semua Kemarahan), Larry Davis (dari “Seinfeld” dan “Curb Your Enthusiasm”) mengakui sambil menangis dalam sesi pertemuannya dengan Dr. John. “Tiba-tiba saja, rasa sakit itu hilang. Pengalaman tersebut adalah pengalaman religius paling nyata yang pernah saya alami,” kata Larry.

Menginjak usia 93 tahun, kini Dr. John sudah pensiun, namun orang lain telah meneruskan pekerjaannya. Salah satunya adalah Steven Ozanich, yang telah menulis tiga buku dan menerima sambutan baik dari masyarakat, tentang pengalamannya dalam menolong orang menangani TMS-nya. Banyak yang sembuh hanya dengan membaca bukunya saja.

Steven bukanlah seorang dokter, dan dia tidaklah harus menjadi dokter. Perawatan yang dilakukan Dr. John tidak memerlukan pendidikan medis apa pun karena prosesnya sangat sederhana yaitu hanya membuat pasien yang menerima gagasan atau cara pandang baru dalam memandang sakit.

“Sumber rasa sakit adalah emosi yang tidak diinginkan,” jelas Steven. Baik itu rasa sakit di kaki, pergelangan tangan, atau sakit punggung, Steven akan menanyakan satu pertanyaan yang sama: “Apa yang terjadi pada hidup Anda?” (Epochtimes/Jls/Yant)

Bersambung

Share
Tag: Kategori: Headline KESEHATAN

Video Popular