Biasanya kita menganggap rasa sakit sebagai hal yang buruk, namun sesungguhnya rasa sakit dapat mencegah kita mengalami luka yang lebih parah. Faktanya, tanpa rasa sakit, hidup kita akan menjadi lebih singkat.

Perlawanan

Ketika pengobatan modern hampir secara eksklusif berfokus pada aspek fisik, dokter-dokter zaman dulu paham bahwa emosi amatlah memegang peranan penting dalam kesehatan dan penyembuhan. Contohnya dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, emosi negatif diyakini dapat melukai organ tubuh. Rasa takut melukai ginjal, kemarahan melukai hati, dan kesedihan melukai paru-paru.

Namun dalam kebudayaan kontemporer, penderita rasa sakit kronis seringkali sangat tersinggung ketika ada orang yang mengatakan kepadanya bahwa sumber rasa sakit adalah emosi mereka. Steven juga tahu bagaimana perasaan mereka.

“Ketika pertama kali saya membaca buku Dr. John, saya melemparnya ke tembok, buku itu membuat saya sangat marah,” katanya. “Sekarang saya tahu, melihat ke belakang, hal itu karena apa yang ditulis adalah kenyataan yang kemudian membuat saya marah.”

Hal ini bisa sangat membuat pasien yang sudah jelas mengalami masalah fisik menjadi frustasi, seperti diagnosis dari dokter yang menunjukkan penyebab sangat jelas. Namun Steven tidak terganggu.

“Anda selalu ingin menjalani pemeriksaan lebih dulu,” paparnya. “Kita ingin memastikan tidak ada suatu apa pun yang membahayakan, yang mengancam hidup Anda.”

Mungkin kedengarannya aneh untuk mengatakan bahwa bukti masalah fisik yang ditemukan tepat dimana gangguan fisik itu terjadi bukanlah penyebab utama dari rasa sakit yang dirasakan pasien, namun menurut Dr. David Hanscom, seorang ahli bedah tulang belakang di Swedish Medical Center in Seattle, hal itu adalah benar.

“Tidak logis jika taji di tulang menyebabkan sebegitu besar rasa sakit,” papar Dr. David. “Taji-taji tulang itu mungkin sudah ada di sana selama bertahun-tahun, namun tiba-tiba rasa sakit itu bisa lenyap. Mengapa?”

Dr. David tidak melakukan studi bersama dengan Dr. John, namun lewat pengalaman klinisnya sendiri, serta observasi terhadap bukti-bukti dalam literatur medis, dia mendapat kesimpulan yang mirip. Dalam buku barunya, Back In Control: A Surgeon’s Roadmap Out of Chronic Pain (Kembali Terkendali: Sebuah Peta Operasi Penanganan Rasa Sakit Kronis), Dr. David berpendapat bahwa kecemasan dan kemarahan kronis adalah akar penyebab dari hampir semua kasus rasa sakit kronis.

Dr. David menjelaskan bahwa itu adalah masalah kimia pada tubuh. Dengan kemarahan atau kecemasan dalam waktu yang lama, tubuh Anda akan mengeluarkan adrenalin, yang telah terbukti akan membuat saraf menjadi lebih sensitif. Jadi taji tulang, tendonitis, piringan pinggang yang turun, atau anomali fisik lain yang dulu tidak mengganggu Anda tiba-tiba bisa menjadi sangat menganggu.

“Anda menyelesaikan masalah ketika kecemasan berkurang, karena kimia tubuh juga berkurang, dan tubuh Anda menjadi rileks, sehingga rasa sakit juga berkurang. Hal ini bukan hanya mengatasi rasa sakit. Beberapa orang bahkan benar-benar terbebas dari rasa sakit,” papar Dr. David.

Namun, seperti halnya Steven, Dr. David mengatakan bahwa hambatan terbesar dari pilihan non-invasifnya adalah pasien itu sendiri.

“Mereka berkata, ‘Ini gila. Saya ingin dioperasi,’” ujar Dr. David. “Namun jika mereka mengalami sakit di kaki, peneliti mengatakan bahwa Anda harus membuat mereka tenang, buat mereka tidur nyenyak di malam hari, dan memberi perawatan stabil sebelum dioperasi, dan jika Anda tidak menekankan hal-hal ini sebelum operasi, biasanya hasilnya tidak bagus.”

Bagi pasien yang mau mencurahkan waktu dan tenaga untuk mengurangi emosi yang ada dibalik rasa sakit mereka, Dr. David mengatakan bahwa kebanyakan dari mereka akhirnya membatalkan operasi, bahkan pada mereka yang mengalami masalah struktur tubuh utama.

Dr. David tidak hanya mengamati hal-hal ini pada pasiennya. Katalis utama yang dia temukan adalah, perjuangan panjang seseorang dengan rasa sakit kronisnya tidak akan berhenti sebelum orang itu melihat ke dalam dirinya.

“Ketika saya sungguh-sungguh menangani masalah kemarahan saya sendiri, dimana saya sendiri tidak menyadarinya, dalam sekitar enam minggu kemudian gejala penyakit saya lenyap,” jelasnya.

Tak bisa lari ataupun sembunyi

Sakit punggung belakang adalah penyebab nomor satu dari kasus kelumpuhan di seluruh dunia.

Namun Steven mengatakan bahwa, sekalipun operasinya sukses, pasien itu mungkin masih akan menderita karena TMS.

“Jika Anda menghilangkan gejala penyakit dengan cara buatan seperti operasi, obat, manipulasi, atau apa pun, otak tidak akan bisa disangkal, dan dia akan dengan segera menggantinya dengan gejala lain,” katanya. “Saya sudah pernah melihat orang-orang yang mengalami TMS di gigi, dan setelah gigi itu dicabut, maka TMS itu pindah ke gigi yang lain.”

Sama halnya seperti rasa sakit, kecanduan bisa berperan sebagai penopang untuk melindungi seseorang dari emosi yang menyakitkan, jelas Steven. Minuman keras dan obat bisa menutupi TMS untuk sementara waktu, namun ketika seseorang akhirnya benar-benar terbuka, rasa sakit terlihat muncul untuk menutupi perasaan gelap yang tersimpan di dalam kegelapan diri sampai orang ini siap untuk menghadapinya.

Salah satu klien Steven, seorang pecandu alkohol yang datang mengeluhkan sakit perut, sebelumnya sudah pernah menemui beberapa dokter, namun tak satupun yang berhasil menemukan penyebabnya.

Rasa sakit di perutnya muncul selama 24 jam ketika dia berhenti mengonsumsi alkohol Steven menjelaskan bahwa itu hanyalah pengalihan yang diciptakan oleh otak untuk menutupi kekosongan ketika pengaruh alkohol hilang.

“Kita ambil semua pengalihan itu dan yang tersisa hanyalah emosi dasar yang mendasari semua masalah,” jelas Steven. “Dia telah bertarung melawan penyakit itu dan sekarang sudah membaik. Malahan, kini dia telah membuka klinik untuk menangani kecanduan.”

Penyembuhan

Dr. David dan Steven mempunyai tekniknya masing-masing dalam menolong orang menghadapi emosi yang menyakitkan mereka, namun keduanya sama-sama berkata bahwa langkah pertama adalah mencari akar penyebab yang sesungguhnya.

“Ini benar-benar tentang seseorang yang sudah siap untuk sembuh. Jika seseorang belum siap, dia akan berteriak dan keluar ruangan,” papar Steven.

Menurut Hippocrates, “Adalah lebih penting untuk mengetahui tipe orang yang berpenyakit daripada tipe penyakit yang diderita seseorang,” namun pengobatan modern sepertinya telah melupakan gagasan ini.

Steven menekankan bahwa pembatasan ketat yang telah dilakukan oleh industri farmasi, telah membuat pemahaman yang lebih mendalam terhadap pasien secara individu, nyaris mustahil dilakukan.

“Sekarang dalam dunia pengobatan modern, pasien hampir menjadi sasaran praktek semata, kami hanya memberi mereka perawatan secara acak tanpa pemikiran apa pun di belakang pasien,” ujarnya. “Anda masuk, menjalani pemeriksaan atau suntikan, dan berjalan keluar. Namun itu bukanlah pengobatan yang paling tepat.”

Sekarang opioid sudah tidak boleh digunakan pada kebanyakan pasien, dunia perawatan medis kehilangan cara untuk menangani rasa sakit tersebut. Dr. David yakin bahwa jika para pasien dan dokter bisa mengetahui penyebab emosional dari proses protektif dibalik rasa sakit, hal itu akan dapat mengubah dunia.

“Banyak masalah di masyarakat sekarang yang disebabkan kecemasan dan diperkuat oleh kemarahan,” katanya. “Saya berpikir perlu ada implikasi besar di masyarakat untuk membuat suatu diagnosis menjadi tepat.” (Epochtimes/Jls/Yant)

Share
Tag: Kategori: Headline KESEHATAN

Video Popular