Alkisah, pada masa dinasti Ming (1368-1644), ada seorang pelajar (cendekiawan) bernama Wu Zi Tian. Karena Ibu Wu meninggal, ayahnya kemudian menikah lagi. Ibu tirinya ini pilih kasih, perhatian dan curahan kasih sayangnya lebih condong kepada adiknya.

Lambat laun akhirnya ia merasa tidak adil, lalu timbul rasa benci. Belakangan Wu Zi Tian menikah, tapi, sikap ibu tirinya itu juga tidak baik pada istrinya. Dia pun menjadi marah, dan bermaksud menemui ibu tirinya menanyakan sikapnya, tapi istrinya berusaha membujuk dan menahannya.

Tak lama ayahnya meninggal, mewariskan ladang-sawah dan uang, namun, ibu tirinya membagi ladang yang paling buruk untuknya, sementara ibu tiri dan saudaranya sendiri mengambil bagian ladang yang bagus/subur, bahkan banyak mengangkangi uang warisan ayahnya. Wu Zi Tian mau menanyakan hal itu, tapi lagi-lagi dibujuk dan ditahan istrinya.

Isteri Wu Zi Tian mengatakan, “Tidak apa-apa menderita kerugian-karena ditindas, itu adalah berkah, kalau memang itu milik kita tetap akan kita miliki, mana mungkin bisa dirampas kalau memang itu milik kita ? Semakin kita perebutkan, balasan berkah juga akan semakin terkikis.”

Akhirnya dalam waktu relatif singkat, adiknya  ketagihan main judi, semua uang habis di meja judi, hingga akhirnya ibu dan anak ini nyaris hidup seperti pengemis.

Seandainya Anda adalah Wu Zi Tian, apa yang akan Anda lakukan jika keadaannya seperti itu ? Apakah merasa senang dan tertawa puas sambil mengatakan “Tuhan tidak tidur, ternyata kalian juga akan melarat juga seperti itu!”

Saat itu, istri Wu Zi Tian benar-benar sangat memahami dengan perasaan yang dirasakan ibu dan anak itu, lalu bergegas membujuk suaminya agar membawa mereka pulang ke rumah. Mereka tidak hanya membawa pulang ibu tiri dan saudaranya itu kembali ke rumah, tetapi juga membantu saudaranya itu berhenti berjudi, hingga akhirnya menggugah hati ibu tiri dan saudaranya, kemudian sekeluarga hidup harmonis bersama.

Kebanyakan orang pada umumnya tidak mampu bisa bersikap seperti itu, melupakan masa lalu orang yang pernah menyakiti, tidak mendendam dengan kesalahan yang pernah dilakukan orang lain.

Istri Wu Zi Tian melahirkan tiga putra, belakangan ketiganya berhasil lulus dalam ujian kerajaan tertinggi (sekarang setara dengan Doktor). Kalau memang itu adalah berkah balasan baik untuk keluarga mereka, mana mungkin bisa dirampas orang lain?

Dalam satu keluarga, satu orang saja yang berhasil lulus ujian kerajaan tertinggi itu sudah tidak mudah, apalagi sampai tiga orang sekaligus, sungguh besar sekali berkah balasan baik yang diterima keluarga ini ! Karena itu, orang-orang yang lapang dada, berkahnya juga besar, terutama jangan terlalu perhitungan dengan sesama anggota keluarga sendiri!Tiga putra yang sejak kecil mengetahui akan kearifan dan kebajikan sang ibu itu sudah terkenal luas di mana-mana.(Secretchina/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular