Oleh: Zeng Zheng

Pada 2 Februari 2017 pagi hari, Presiden Trump menghadiri National Prayer Breakfast dan menyampaikan pidato selama 19 menit. Setelah menyaksikan siaran langsung tersebut, saya mendapat sejumlah kesan yang ingin saya sampaikan di sini.

Mengawali pidatonya, Trump terlebih dahulu berterima kasih pada banyak orang. Dalam budaya Barat, berterima kasih seperti ini ketika berpidato patut ditiru.

Pada banyak ungkapan terima kasihnya itu, yang paling berkesan bagi penulis adalah ungkapan terima kasih Trump kepada suami istri wakil presiden Mike Pence.

Trump dengan bergurau mengatakan, selama proses kampanye, ia kerap kali mengalami masalah, tetapi setiap kali masalah muncul, selalu ada yang mengatakan, ia telah memilih Pence sebagai wakil presiden, itu berarti ia masih berotak, karena tahu apa yang dilakukannya. Itulah yang telah membantunya melewati banyak masalah dan kendala.

Lalu ia berkata, jika kriteria pemberian nilai dari 0 sampai 10, ia akan memberi nilai 12 kepada Pence.

Kemudian ia berbicara mengenai pengalamannya ketika menyambut jasad prajurit AS pertama yang diterima di masa jabatannya, dan berterima kasih pada para prajurit dan perwira AS serta kerabatnya atas pengorbanan dan sumbangsih yang telah diberikan kepada negara.

Bagian pidato berikutnya, adalah yang paling menggugah saya. Ini yang dikatakan Trump.

“Amerika Serikat adalah sebuah negara yang beragama, tapi acap kali, kita sangat mudah melupakan satu hal: Bahwa kualitas hidup kita bukan ditentukan oleh kesuksesan materi, melainkan ditentukan oleh tingkat spiritual, sebagai orang yang pernah meraih sukses secara materi, perbolehkan saya berkata demikian, saya telah bertemu banyak sekali orang yang sukses secara mteri, tapi kebanyakan dari mereka tidak berbahagia dan hidupnya sangat menyedihkan. Saya juga telah bertemu banyak sekali orang-orang yang tidak sukses secara materi, tetapi memiliki keluarga dan agama yang agung, mereka tidak memiliki banyak uang, tapi mereka sangat berbahagia. Saya harus berkata, bagi saya, merekalah orang-orang sukses yang sesungguhnya.”

Beberapa hari lalu, di dalam artikel berjudul “Bicara Tentang Keyakinan Budaya” penulis juga membahas bahwa banyak warga dari daratan Tiongkok yang berwisata ke luar negeri, sebenarnya paling banter hanya memiliki “keyakinan dompet”, dan sama sekali tidak memiliki “keyakinan budaya”.

Sekarang setelah mendengar perkataan yang sama terlontar dari Trump selaku presiden AS yang paling berpengaruh di dunia, yang juga merupakan seorang konglomerat, ini sungguh menggugah hati saya.

Sebagai seorang konglomerat yang sangat sangat tidak kekurangan uang, saya yakin, perkataan Trump ini sangat ada dasarnya, juga sama sekali tidak munafik atau naif. Pengalaman pribadi Trump, membuatnya benar-benar bisa merasakan dan meyakini hal ini.

Trump berkata, ia sangat beruntung terlahir di keluarga yang beragama, serta didikan ibunya pada dirinya sejak ia masih kecil, dan semua ajaran itu selalu terpatri jelas di dalam hatinya.

Trump berkata, kita semua berasal dari latar belakang yang berbeda, dengan agama dan pandangan yang berbeda, tapi di mata Sang Pencipta kita semua adalah setara.

“Kita tidak hanya terbentuk dari darah dan daging, kita adalah umat manusia yang memiliki jiwa, republik kita ini juga dibangun atas landasan kesetaraan ini. Kebebasan kita bukan diberikan oleh pemerintah, melainkan berkat dari Sang Pencipta,” kata Trump. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular