Keberadaan Putra Sulung Kim Jong-nam Dirahasiakan

287
Kim Han-sol, putra sulung Kim Jong-nam. (internet)

Setelah Kim Jong-nam, saudara laki-laki lain ibu Kim Jong-un diktator Korut itu tewas terbunuh, putra sulung Kim Jong-nam, Kim Han-sol menjadi perhatian umum. Spekulasi menyebutkan bahwa anak tersebut bakal dijadikan target pembunuhan juga oleh pamannya.

Kim Han-sol pernah studi di Prancis. Saat ini tidak diketahui kebeadaannya, tetapi pada waktu lalu ia pernah menuduh pamannya Kim Jong-un sebagai diktator Korea Utara.

Media ‘Yonhap’ memberitakan, Kim Han-sol yang sekarang berusia 23 tahun lahir di Pyongyang, lalu bermigrasi ke Macau saat masih berumur 2 tahun.

Pada usia 17 tahun ia dimasukkan ke sekolah internasional di Bosnia, setelah itu belajar di Prancis. Pemerintah Prancis memberikan perlindungan keselamatan kepada dirinya dan makin ditingkatkan seiring berkuasanya Kim Jong-un.

Itu baru diakhiri tahun lalu karena Kim Han-sol lulus belajar dan memilih meninggalkan Prancis. Setelah itu, keberadaan Kim Han-sol tidak diketahui orang luar. Namun berita rumor menyebutkan bahwa ia disembunyikan di Daratan Tiongkok.

Ketika Kim Han-sol masih studi di Prancis dan menerima wawancara sebuah media elektronik Finlandia ia mengatakan bahwa meskipun ia belum pernah bertemu dengan Kim Jong-il (kakeknya) dan Kim Jong-un (pamannya), tetapi kedua orang itu adalah diktator Korea Utara.

Ia tidak tahu menahu soal bagaimana Kim Jong-un mendapatkan warisan kediktatoran kakeknya. Dengan alasan menyampaikan hal ini lewat media, masyarakat jadi khawatir terhadap keselamatan dirinya yang mungkin akan terancam.

Kim Han-sol memiliki akun di Facebook, Twitter yang kemudian menghilang setelah media Korea Selatan menyampaikan berita tentang dirinya.

Yonhap juga menyampaikan bahwa keluarga Kim Jong-nam pun merasakan kecemasan yang luar biasa setelah mendengar tentang Jang Song-taek yang dieksekusi mati oleh Kim Jong-un pada 2013.

Badan Intelijen AS telah memastikan kematian Kim Jong-nam. Pemerintah Korea Selatan kemudian menyatakan, bila pembunuhan terhadap Jong-nam itu dilakukan atas suruhan Kim Jong-un, maka sekali lagi membuktikan bahwa rezim Pyongyang sangat brutal, tidak manusiawi.

Sebelumnya, Kim Jong-un sudah membunuh pamannya Jang Song-taek. Alasan membunuh saudaranya itu terutama karena adanya hubungan khusus antar kedua orang tersebut.

Media Prancis ‘Le Figaro’ memberitakan, Kim Jong-nam yang lebih berpihak kepada Tiongkok terpaksa hidup dalam pengungsian di Macau dan terus mendapatkan perlindungan keselamatan dari pihak Tiongkok.

Oleh karena itu, terbunuhnya Kim Jong-nam juga mencerminkan kegagalan Tiongkok dalam menjaga keselamatannya. Rezim Tiongkok terus menjadikan Kim Jong-nam sebagai kandidat yang dapat dikedepankan begitu kudeta terjadi di Pyongyang.

Ia memiliki nilai politik yang baik untuk digenggam. Artikel dalam media tersebut juga mengatakan bahwa ancaman terhadap anggota keluarga tidak akan berakhir dengan terbunuhnya Kim Jong-nam, salah satu orang yang paling terancam itu adalah Kim Han-sol. (ET/erabaru.net/Sinatra/rmat)