Oleh: Zeng Zheng

Sampai di sini, tak pelak saya teringat akan paham absurd materialis yang dipropagandakan oleh Partai Komunis Tiongkok/PKT selama ini. Dan karena pandangan filosofi dari paham materialisme PKT ini membuat manusia beranggapan diri mereka hanyalah seonggok daging saja. Selesai begitu sudah mati, tidak ada jiwa setelah kematian.

Tidak ada tempat berpulang. Melakukan kejahatan pun tidak akan mendapat pembalasan, juga tidak percaya akan surga dan neraka. Percaya pada Tuhan atau Dewa adalah kebodohan, adalah pilihan yang kolot, tidak terbuka, tidak maju teknologi, dan tidak rasional.

Dan hanya para warga PKT yang akan menjadi seperti sekarang ini, seperti berani merampas organ tubuh praktisi Falun Gong hidup-hidup, berani memproduksi beraneka makanan beracun hanya demi uang. Berani merusak lingkungan tanpa rasa takut, dan lain sebagainya. Semua itu adalah karena warga PKT yang tidak takut akan hukum sebab akibat, tidak ada rasa takut dalam pikiran mereka.

Ketika disekap di Kantor Polisi Chongwen kota Beijing karena saya berlatih Falun Gong, saya pernah bercerita tentang hukum tabur-tuai kepada seorang polisi di sana. Waktu itu ia menjawab, “Saya sudah puas bisa hidup sampai usia 45 tahun, saya justru paling tidak percaya akan karma dan tidak percaya akan neraka.”

Melihat orang seperti ini dan mendengarkan perkataannya, sungguh membuat saya sedih. Tapi bagi orang yang tumbuh besar di negara PKT, yang mendapat pendidikan atheis dengan paham materialisme ala PKT seperti ini, apa yang bisa diharapkan dari mereka?

Jika bukan karena berkultivasi Falun Gong, saya juga akan menjadi seorang penganut ‘paham materialisme’ yang arogan seperti mereka.

Jadi, melihat seorang presiden AS yang paling berkuasa di dunia dan yang ingin ditiru oleh banyak negara-negara besar, termasuk juga oleh PKT, berbicara dengan tulus soal umat manusia yang bukan sekedar seonggok daging berjalan. Tapi benar-benar memiliki jiwa, ini membuat saya sangat tersentuh.

Kemudian, Trump berbicara soal kebebasan berkepercayaan dan kebebasan beragama, yang merupakan anugerah dari Tuhan dan bagian penting dari kebebasan (secara umum). Itu sebabnya ia akan menempuh segala upaya untuk menghentikan paham terorisme yang merusak kebebasan semacam ini.

Ketika berbicara soal kegiatan kebrutalan teroris yang mengerikan itu dengan mengatas-namakan agama di dunia. Ia berbicara soal aksi teroris ISIS dengan pemenggalan kepala orang, dan menyatakan, walaupun dalam sesaat situasi tidak menggembirakan, hal seperti ini juga harus dihentikan. Setiap negara memiliki tanggung jawab moral untuk menghentikannya. Trump berkata, pemerintahannya akan mengerahkan upaya terbesar untuk menjamin kebebasan beragama bagi seluruh warga AS.

Ia juga mengatakan, AS memiliki sistem keimigrasian yang paling longgar di seluruh dunia, tapi sekarang sistem itu telah disalahgunakan dan dimanfaatkan oleh sejumlah orang untuk merusak nilai-nilai yang paling dihargai oleh rakyat Amerika.

Pemerintahannya akan menetapkan kebijakan baru untuk memastikan imigrasi ke Amerika tetap diminati sekaligus melindungi norma kebebasan beragama dan kebebasan pribadi AS, serta orang-orang itu harus meninggalkan pemikiran untuk menindas kebebasan pihak lain dan mendiskriminasi orang lain.

“Kami menyambut imigran, tapi kami harap para imigran yang datang ke Amerika adalah orang-orang yang mencintai Amerika, mencintai nilai-nilai kehidupan Amerika, dan bukannya membenci kami, serta membenci nilai-nilai kehidupan kami. Kami akan menjadi sebuah negara yang aman dan bebas, semua warga memiliki agama kepercayaannya, dan tidak perlu khawatir akan mendapat perlakuan anarkis atau diskriminasi,” kata Trump.

Sampai di sini, saya teringat lagi akan Peristiwa Flushing di New York. Di tempat itu, sekelompok berandal yang disetir oleh PKT dalam jangka waktu lama memindahkan cara-cara kekerasan ke AS, terus menerus memprovokasi dalam bentuk kekerasan verbal maupun tindakan, mencaci maki dan menyerang para praktisi Falun Gong di Flushing.

Jika konsep dan kebijakan keimigrasian Trump diterapkan secara ketat, maka para berandal itu seharusnya diusir dari Amerika, karena mereka telah mengakibatkan praktisi Falun Gong mengalami kekerasan dan dimusuhi untuk jangka waktu yang lama.

Menjelang akhir Trump mengatakan, “Selama kebebasan kita, terutama kebebasan beragama terjamin, Amerika pasti akan terus berkembang makmur. Hanya ketika kelompok yang paling lemah pun terbuka jalannya untuk menuju sukses, Amerika baru akan sukses. Selama kita memiliki keyakinan terhadap sesame dan keyakinan kepada Tuhan, Amerika akan makmur dan kuat.”

Trump juga menambahkan, keyakinan terhadap Tuhan telah memberikan dukungan kepada kita.

“Selama kita memiliki keyakinan kepada Tuhan, selamanya kita tidak akan sendiri, Tuhan akan memberikan dorongan dan kekuatan yang abadi pada kita semua,” katanya.

Di akhir pidatonya, ia mengatakan kepada para pejabat pemerintah AS yang berada di Washington DC, “Kita selamanya akan memohon kebijaksanaan dari Tuhan, agar kita bisa melayani rakyat banyak sesuai dengan kehendakNya. Di negara yang dilindungi oleh Tuhan ini, inilah yang diinginkan oleh warga Amerika. Terima kasih semua, Tuhan memberkati Anda semua, Tuhan memberkati Amerika!”

Setelah mendengar pidato ini, serta keyakinan terhadap Tuhan yang menyatu begitu mendalam hingga meresap ke tulang sungsum, menyatu dengan kehidupan dan jiwa raga. Saya kembali merasakan satu hal, antara negara PKT dengan AS, juga dengan dunia yang beradab ini, betapa jauh perbedaannya.

Di saat Presiden AS berpidato, sikapnya yang “tegar” dan “natural” dikala bekerja di bawah perlidungan Tuhan, selamanya tidak akan bisa diselami dan dipahami oleh orang-orang yang disebut “Percaya diri”, yang tak memiliki kepercayaan tapi mati-matian mencarinya. Jika tidak memiliki “percaya diri” yang berkeyakinan terhadap Tuhan, juga mutlak tidak mungkin bisa eksis. (sud/whs/rmat)

SELESAI

Share

Video Popular