Ada seorang siswi kelas 3 SD, sebut saja namanya Gesty, prestasinya di sekolah lumayan baik, menengah ke atas, perilakunya sehari-hari juga cukup baik. Suatu hari, karena orang tuanya mendadak ada urusan dan tidak pulang ke rumah, membuat Gesty yang tidak tahu apa yang harus dilakukannya lalu duduk di depan pintu dan menangis. Enam jam kemudian, ketika tetangga melihatnya, bocah itu ditemukan demam karena kedinginan.

Sebenarnya fenomena seperti itu adalah manifestasi dari anak-anak yang kurang memiliki kemampuan mengatasi kondisi tak terduga. Orang tua seharusnya sejak kecil membina kemampuan anak dalam menghadapi situasi tak terduga, mendidik anak-anak cara menghadap berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari dengan tenang, misalnya bagaimana menyalakan lilin, senter dan semacamnya ketika mendadak terjadi pemadaman listrik ; bagaimana agar tidak tertipu ketika ada orang tak dikenal menanyakan sesuatu (alamat, jalan dan sebagainya) ; bagaimana mengatasi gas yang bocor ; bagaimana menghubungi telepon darurat saat orang tua tiba-tiba jatuh sakit dan sebagainya.

Berikan hal yang sulit pada anak, melatih kemampuannya dalam mengatasi sesuatu dalam kehidupan sehari-hari

Tapi, dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu ada kesempatan untuk melatih kemampuan anak-anak mengatasi segala sesuatu yang mendesak, lalu apa sebaiknya dilakukan orang tua ?

Suatu hari ibu sedang memasak untuk makan malam, ayah lalu buru-buru berkata pada Sin Sin : “Bisa tolong ayah belikan sebotol cuka di toko, di ujung gang itu ? Ingat, cepat sedikit ya, ibu mau pakai!”

Tak lama kemudian, Sin Sin pun pulang dari toko, tapi tidak tampak ada barang belanjaan apa pun di tangannya.

Hah? Ayah tampak terkejut sambil bertanya dengan kening berkerut : “lha mana cukanya? Kenapa tidak beli?”

“Cuka di toko itu sudah habis!”

“Terus toko kelontong yang di seberang itu habis juga?”

Saya tidak ke sana. Ayah bilang cuka yang di toko, di ujung gang…..kata Sin Sin terbata-bata.

Malam itu, segenap keluarga makan “ikan asam manis” tanpa aroma cuka. Sin Sin tampak menundukkan kepala sambil mengaduk-ngaduk nasinya.

Anak perempuan biasanya jauh lebih sensitif atas kesalahannya, ketika ia merasa kesalahannya itu menyebabkan ayah-ibunya kecewa, dengan cepat ia akan memperbaiki/mengubah dirinya, demikian juga dengan Sin Sin dalam cerita ini.

Karena itu, orang tua bisa memberikan hal yang “sulit” dan layak kapan saja kepada anak-anak, terlepas bisa tidaknya ia menyelesaikan hal itu, tujuannya hanya satu : Membina kemampuan anak dalam mengatasi hal yang tak terduga kapan saja. Kemampuan mengatasi sesuatu dengan baik, dapat membantu anak-anak menangani dengan baik masalah yang dihadapi, secara layak memikul kewajibannya. Kelak jika menemui masalah yang sama, dipastikan mereka bisa melakukannya dengan lebih baik.

Kemampuan mengelola diri sendiri : Menetapkan berbagai rencana hidup dan menyelesaikan tepat waktu

Mampu menguasai diri dalam mengerjakan sesuatu, tidak mudah terganggu oleh faktor eksternal; Daya tahan relatif lebih kuat saat mengalami kegagalan, kekecewaan; Punya rencana kerja, dan diselesaikan tepat waktu, memberi rasa puas atas keberhasilan yang dicapai ; Mempunyai kemampuan tertentu dalam mengelola kehidupan (aktivitas) sehari-hari ; Bisa memahami, mengontrol emosi diri, dan bisa memaklumi dengan perubahan suasana hati orang lain. Setiap kepala keluarga pasti suka dengan anak-anak yang memiliki keterampilan memanajemen diri, namun yang dimanifestasikan sejumlah besar anak-anak dalam kehidupan nyata, justru kerap bertentangan dengan harapan orang tua.

Secara umum, ketergantungan anak perempuan jauh lebih kuat daripada anak laki-laki. Lebih suka dan terbiasa segala sesuatunya diatur orang tua untuknya, mau makan apa, pakai baju apa, apa yang mau dikerjakan bahkan saat menemui kesulitan, pertama kali yang terpikirkan oleh mereka biasanya meminta bantuan orang tua.

Karena itu, memunculkan masalah tertentu pada anak perempuan : Anak perempuan selalu tidak punya rencana kerja, menunda-nunda, selalu harus diingatkan orang tua setiap mengerjakan tugas-sekolah.

Sebenarnya, ini erat hubungannya dengan pola pendidikan orang tua-Karena takut terjadi kesalahan, sehingga selalu mengingatkan ; Takut anak-anak tidak bisa mengerjakannya dengan baik, sehingga selalu membantu menyelesaikanya ; Takut anak-anak salah memilih, sehingga selalu mewakili anak-anak dan sebagainya. Karena segala sesuatunya selalu dibantu, sehingga menumbuhkan kebiasaan anak-anak tidak bisa “memanage diri sendiri”, dan keprubadian yang selalu bergantung pada orang lain.

Namun, terlepas bagaimana khawatirnya Anda, suatu saat nanti anak Anda juga akan keluar dari pelukan Anda. Coba bayangkan sejenak, jika anak Anda tidak akan tertipu dimanapun ia berada, bisa mengurus dirinya dengan baik, bukankah Anda akan merasa tenang ?

Banyak fakta membuktikan, EQ-Kecerdasan emosional jauh lebih penting daripada IQ-Kecerdasan Intelektual, yang disebut “memange diri” adalah inti dari EQ. Membina sesosok orang yang tidak mengganggu orang lain, ramah, ikhlas membantu dan emosi positif jauh lebih penting daripada mengajarinya bermain piano, bahasa Inggris, matematika atau semacamnya.

Belajar bisa mengelola kehidupan sendiri

Bagaimana seorang anak bisa mandiri setelah dewasa nanti jika hidupnya sendiri saja tidak bisa dikelola dengan baik ? Anak perempuan yang terbiasa bergantung pada orang lain, tak ubahnya seperti tiada lagi jaminan atas kebahagiaannya kelak ?

Jadi, jika ingin anak-anak tumbuh dewasa lebih cepat, sebagai orang tua sebaiknya biarkan anak-anak belajar mengurus hidup mereka sendiri. Fakta membuktikan bahwa membiarkan anak perempuan melakukan beberapa pekerjaan sendiri yang sesuai dan beberapa pekerjaan rumah tangga yang mampu dilakukannya, dapat mengembangkan ketrampilan dan kebiasaan kerja mereka. Meningkatkan kemampuan memanage diri, misalnya makan sendiri dengan sendok dan sebagainya ; mencuci sendiri buah-buahan ; mencuci pakaian sendiri, mengikat tali sepatu ; merapikan sendiri kamarnya dan sebagainya.

Dalam hal pekerjaan rumah tangga, orang tua bisa menyuruhnya membantu memilih sayuran, membersihkan sayuran, mencuci beras, mencuci piring setelah makan, menyapu lantai, membersihkan meja dan sebagainya. sementara untuk anak-anak yang lebih besar (usia), Anda juga bisa mengajarinya membuat beberapa masakan, menanak nasi, atau pekerjaan yang lebih kompleks lainnya.

Belajar mengatur tugas sekolah sendiri

Selain kegiatan ekstra dalam kehidupan sehari-hari, masalah yang paling banyak dihadapi anak-anak adalah terkait bagaimana mengatur tugas sekolah mereka. Dibandingkan dengan anak laki-laki, anak perempuan jauh lebih trampil dalam mengatur hal-hal yang berhubungan dengan sekolah mereka-Peralatan tulis menulis anak perempuan umunya teratur rapi ; Keinginan untuk maju anak perempuan sangat kuat, memiliki keinginan yang lebih kuat terhadap prestasi di sekolah ; Anak perempuan suka dengan kebersihan, tas dan buku mereka biasanya selalu terawat dengan baik. Tapi kemampuan anak perempuan dalam menilai sesuatu biasanya lemah. (Epochtimes/ Yun Xiao /Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular