Penelitian: Suatu Hari Nanti Menciptakan Bayi Tanpa Sel Telur Bisa Menjadi Kenyataan

290
sel telur
Ilustrasi.

Para ilmuwan telah mampu menciptakan keturunan dengan menyuntikkan sesuatu selain telur dengan sperma, dalam percobaan yang luar biasa yang dapat menghasilkan revolusi embriologi. Dikatakan bahwa temuan baru ini dapat membuka jalan untuk menggunakan sel kulit bukannya telur untuk terapi kesuburan.

“Pekerjaan kami menantang dogma, digelar sejak ahli embriologi pertama kali mengamati sekitar 1827 telur mamalia dan mengamati fertilisasi 50 tahun kemudian, bahwa hanya sel telur yang telah dibuahi dengan sel sperma dapat menghasilkan mamalia hidup,” jelas Dr Tony Perry, seorang ahli embriologi molekul, penulis senior penelitian yang diterbitkan di Nature Communications. Akibatnya, peneliti telah menemukan cara yang berbeda untuk membuat embrio, dengan mengisyaratkan bahwa telur mungkin tidak cukup unik untuk melakukannya.

Biasanya, sel telur harus dibuahi oleh sel sperma supaya berkembang menjadi embrio, namun peneliti berhasil dengan cara baru,membuat telur tikus berkembang menjadi embrio tikus tanpa pembuahan. Embrio ini dihasilkan bukan lagi berupa telur, dikenal sebagai parthenogenot, dan hal yang sama dapat diterapkan untuk sel kulit dan sel lain yang standar di dalam tubuh. Parthenogenot ini kemudian disuntik dengan sperma, dan bukannya mati, malahan sel-sel mulai berkembang secara normal, akhirnya menjadi bayi tikus yang sehat.

Hebatnya, tingkat keberhasilan prosedur ini adalah 24 persen, jauh di atas tingkat kelangsungan hidup parthernogenot, yang adalah nol persen, atau untuk kloning transfer inti, yang adalah dua persen. Terlebih lagi, 30 bayi tikus dari percobaan tampaknya tidak memiliki masalah kesehatan yang tidak diinginkan, dengan beberapa dari bayi tikus bahkan akan memiliki bayinya.

Sementara masih ada banyak cara sebelum ilmuwan menggunakan sel kulit, bukannya telur, sesuatu yang tidak diyakini akan tercapai, implikasi cara baru tersebut adalah sangat besar. Ini berarti bahwa wanita yang tidak subur untuk sejumlah alasan, seperti sudah terlalu tua atau kemoterapi yang lama, masih dapat mempunyai anak. Ini juga berarti bahwa pasangan sejenis yang ingin memiliki anak juga akan mampu menghasilkan embrio antara mereka.

Manfaat tidak hanya terbatas pada manusia, baik, karena memungkinkan ahli konservasi menyelamatkan makhluk yang terancam punah. Menggunakan sel kulit, bukannya telur, secara besar-besaran dapat melestarikan hewan langka, membentuk cara yang berbeda untuk menghasilkan embrio yang kemudian dapat ditanamkan ke ibu pengganti.

Peneliti menekankan bahwa kemajuan seperti ini masih “spekulatif dan fantastis”, tetapi memberikan titik awal yang jelas.(NTDTV/Vivi)