JAKARTA – Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso meyakini bahwa Siti Aisyah adalah sosok yang diperalat oleh pihak intelijen untuk dimanfaatkan membunuh Kim Jong-nam di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Senin (13/2/2017). Oleh karena itu memberikan bantuan atau menyelamatkan Siti Aisyah merupakan langkah yang tepat.

“Jadi apa yang mesti kita lakukan sekarang adalah bagaimana memikirkan dia, memberikan bantuan hukum sehingga anak yang susah, dibodohi pihak intelijen Korea Utara ini bisa kita selamatkan,” kata Sutiyoso dalam dialog sebuah stasiun televisi.

Pria yang dikenal dengan sapaan Bang Yos ini mencontohkan tentang operasi-operasi intelijen yang dilakukan oleh sejumlah lembaga intelijen di dunia. Sutiyoso mencontohkan tentang operasi intelijen yang dilakukan Badan Intelijen Israel atau Mossad untuk memburu mantan pasukan nazi  SS karena membunuh orang  Yahudi.

Pada operasi Mossad, kata Sutiyoso,  para mantan tentara nazi diburu hingga di ujung dunia walaupun para  mantan tentara nazi SS berusaha untuk menyembunyikan identitas mereka bahkan mengganti wajah atau berpindah warga negara. Namun demikian, pada kenyatannya para tentara nazi ini tetap berhasil dibunuh.

Sutiyoso juga mencontohkan tentang operasi CIA yang memburu Osama bin Laden hingga ke Afghanistan.  Tentunya faktor yang  menjadi latar belakang hingga CIA membunuh Osama dikarenakan dia sebagai tokoh berbahaya dan terorisme.

Terkait kasus pembunuhan Kim Jong-nam, Sutiyoso menilai bahwa hingga pada akhirnya kim jong-nam dilenyapkan dikarenakan pada keturunan Kim Jong-il meninggalkan Kim Jong-nam sebagai putra sulung. Sedangkan Kim Jong-un yang berkuasa saat ini sebagai putra bungsu dan memandang bahwa kakaknya itu sebagai orang bahaya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini juga menilai bisa saja pada suatu saat Kim Jong-nan akan menggantinya posisi Kim Jong-un. Bahkan jika tidak berkuasa, Kim Jong-nan justru bisa dimanfaatkan oleh pihak lawan. “Kalau tidak dia juga bisa digarap oleh lawan-lawan dia seperti Korea Selatan dan Amerika Serikat, jadi harus dilenyapkan,” kata Sutiyoso.

Soal operasi pembunuhan Kim Jong-nam, Sutiyoso menilai bahwa operasi yang dilakukan seperti di Malaysia dilaksanakan dengan sebuah organisasi. Misalnya, Kim Jong-un sebagai bos besar kemudian Badan Intelijen Korea Utara sebaga bos lalu melibatkan  pengendali agen intelijen.

Selanjutnya, kata Bang Yos,  para pengendali agen intelijen ini melakukan perekrutan kepada berbagai pihak yang dianggap mempunyai akses atau yang bisa melakukan sebagai kaki tangan. Hingga akhirnya dipilihlah Siti Aisyah setelah dipelajari lebih dalam tentang kepribadiannya dan sebagainya bersama seorang temannya warga negara Vietnam.

Sutiyoso  menduga bahwa agen intelijen Korea Utara yang sebenarnya adalah orang yang ‘memagari’ Doan Thi Huong. Hal ini dilihat pada kenyataannya bahwa sosok menjadi pacar Siti Aisyah adalah seorang berkewarganegaraan Malaysia.

Lebih jauh Bang Yos menuturkan bahkan Aisyah dan Doan Thi Huong sudah beberapa kali melakukan latihan seperti aksi lucu-lucuan bak reality show. Aisyah, kata Bang Yos,  jika dlihat pada latar belakangnya seperti ekonomi dan pendidikan maka sungguh mudah untuk dibohongi melakukan kegiatan komedi tanpa dia ketahui kejadiannya sebenarnya bahwa aksi itu sebagai pembunuhan.

“Saya rasa ini anak tidak sadar, bahkan paling tidak dia latihan tiga kali, setiap latihan diberi 100 dolar, jadi sebelum pembunuhan itu juga berlatih dekat sana, bagaimana Siti Aisyah disuruh membekap mulut pakai tangan dengan diolesi body lotion misalnya pura-puranya begitu latihan saja, terus yang Vietnam ini tukang suntik,” jelas Sutiyoso. (asr)

Share

Video Popular