Dewa Kematian Mengatakan pada Sepasang Suami Istri “Hanya Satu dari Kalian yang Bisa Hidup”

252
kehidupan
Sepasang suami isteri bertemu dengan dewa kematian. Dewa kematian mengatakan : Salah satu dari kalian hanya satu yang bisa hidup. (Getty images)

Meski singkat, tapi beberapa cerita berikut ini mengandung kebenaran, dan sangat besar manfaatnya bagi kita dalam kehidupan ini!

Mari simak bersama beberapa kisah pendek berikut ini :

Cerita 1

Alkisah dahulu kala, ada sepasang suami isteri yang bertemu dengan dewa kematian. Dewa kematian mengatakan : “Di antara kalian berdua, hanya satu yang bisa hidup, kalian pingsut (pingswit) yang kalah harus mati.”

Suami isteri lalu mulai “pingsut”, dua kali pingsut keduanya seri, yang ketiga kalinya sebagai penentu kemenangan itu, sang suami kalah. Melihat itu, dewa kematian menarik napas panjang dan berkata : “Awalnya sesuai dengan kelaziman saya, dimana jika pingsut ketiga kalinya seri, saya akan melepaskan kalian, tapi ternyata pingsut yang ketiga telah menentukan menang dan kalah.”

Si isteri memeluk suaminya yang akan mati sambil berkata : “Bukannya kita sudah sepakat selalu mengeluarkan batu sama-sama, mengapa ketiga kalinya saat saya mengeluarkan gunting, kamu malah mengeluarkan kertas.”

Pencerahan : Inilah kenyataannya, dan inilah hati (pikiran) manusia. Ini adalah sebagian dari keegoisan manusia, sebagian dari kebodohan manusia.

Dunia yang nyata, orang-orang yang realistis, mencelakakan orang lain hingga akhirnya mencelakakan diri sediri juga.

Ketika ada orang yang ingin mengalah, sebenarnya orang itu sudah menang !

Karena itu, teruslah bersikap baik, karena pada dasarnya Anda sudah menang!

Jadi, sebagai seorang insan lebih baik selalu jujur dan berbaik hati!

Cerita 2 :

Seorang prajurit menyelamatkan diri ke dalam gua setelah diserang pasukan musuh.

Pasukan musuh mengejar di belakangnya, sementara ia bersembunyi di dalam gua sambil berdo’a tidak ditemukan oleh musuh. Tiba-tiba lengannya tersengat oleh seekor laba-laba, sekilas terlintas dalam benaknya ingin membunuh laba-laba yang mengigitnya, tapi tiba-tiba ia merasa tidak tega, lalu melepaskannya.

Tiba-tiba laba-laba itu merayap ke gua dan merajut jaring yang baru, pasukan musuh yang melihat jaring laba-laba yang tampak utuh itu menduga di dalam tidak ada orang lalu pergi.

Pencerahan : Dalam banyak peristiwa, memperlakukan orang lain dengan baik itu sama juga membantu diri kita sendiri.

Cerita 3 :

Seorang biksu muda bertanya pada biksu tua: “Sebelum Anda mendapatkan Tao (pencerahan), apa yang Anda lakukan?”

Biksu tua : “Membelah/mencari kayu bakar, memikul air dan memasak.”

Biksu muda bertanya : “Terus setelah mendapatkan Tao ?”

Biksu tua: “Membelah/mencari kayu bakar, memikul air dan memasak.”

Biksu muda : “Kalau begitu apa yang dimaksud dengan mendapatkan Tao itu?

Biksu tua : “Sebelum mendapatkan Tao/pencerahan, saya selalu memikirkan memikul air saat membelah kayu bakar, dan ketika memikul air saya selalu memikirkan tentang memasak ; Setelah mendapatkan pencerahan, masih seperti biasa mengambil kayu bakar, memikul/mengambil air dan memasak.”

Pencerahan : Kebenaran sejati itu sangat sederhana, pikiran yang biasa itulah Dao (kebenaran-Melakukan segala sesuatu dengan tenang, santai, apa adanya tanpa dipengaruhi oleh faktor luar).

Cerita 4 :

Anda tidak merasa lelah atau capek saat menggendong anak sendiri yang beratnya 10 kg, karena Anda suka ; Tapi Anda tidak akan bertahan lama ketika mengangkat/memeluk di dada sebuah batu seberat 10 kg.

Pencerahan : Ketika seseorang tidak suka melakukan sesuatu, meski ia sangat brilian sekalipun, tetap saja tidak ada faedahnya ; Ketika seseorang suka akan sesuatu, kemampuan yang dicurahkannya akan membuat Anda terkesima. Jadi, seseorang yang tidak berprestasi, belum tentu tidak memiliki kemampuan, besar kemungkinan karena ia tidak suka melakukannya.

Cerita 5 :

Semasa Perang Dunia II, sekeluarga Yahudi dianiaya, anak sulung dan anak bungsu kemudian masing-masing mencari bantuan.

Anak sulung pergi menemui orang yang pernah membantunya, sementara anak bungsu pergi menemui orang yang pernah dibantunya. Hasilnya, justru anak sulung yang diselamatkan, sedangkan anak bungsu dikhianati.

Pencerahan : Orang-orang yang menyayangimu akan selalu bersedia berkorban untukmu, tapi orang yang Anda cintai belum tentu bersedia berkorban untuk Anda. Dalam kehidupan nyata, mereka yang benar-benar setia terhadap Anda adalah orang-orang yang pernah berjasa (memberikan bantuan) kepada Anda, dan orang-orang yang mencintai Anda.

Cerita 6 :

Burung Gagak terbang ke arah timur, dan bertemu burung merpati. Keduanya bertengger di atas sebuah pohon untuk istirahat. Merpati melihat gagak terbang dengan susah payah, lalu dengan penuh perhatian bertanya pada gagak : Kamu mau kemana ?

Gagak menjawab dengan nada jengkel : Sebenarnya saya tidak mau pergi, tapi penduduk di sini tidak suka mendengar cuitan (suara) saya.

Dengan ramah merpati berkata : Tidak perlu membuang-buang tenaga, kalau memang kamu tidak bisa mengubah suaramu, terbang kemananpun tetap tidak akan disambut dengan hangat.

Pencerahan : Begitu juga dengan kerja, daripada mengubah target atau tujuan, lebih baik mengubah/memperbaiki caranya, mengubah lingkungan, dan mengubah diri sendiri.

Cerita 7 :

Karena tidak hati-hati, seekor keledai jatuh ke dalam sumur kering, orang-orang berusaha menolongnya, tapi tidak berhasil, lalu memutuskan menguburnya. Keledai meratap dengan sedih, tapi ketika tanah mulai jatuh ke bawah sumur, sang keledai tiba-tiba berhenti meratap dan menjadi tenang.

Keledai berusaha menjatuhkan tanah-tanah di punggungnya, lalu menginjaknya, sehingga ia bisa berdiri sedikit lebih tinggi. Dengan cara ini, sang keledai terus naik ke atas seiring dengan jatuhnya tanah-tanah dari atas, hingga akhirnya ia berhasil keluar dari dalam sumur kering di tengah gemuruh takjub orang-orang yang memandangnya.

Pencerahan : Yang bisa menyelamatkan Anda pada saat-saat genting, hanya diri Anda sendiri.

Cerita 8 :

Seorang pemuda yang putus asa mencari sukses, seorang filsuf memberinya satu biji kacang sambil berkata : “Peras kacang itu.”

Dengan sekuat tenaga si anak muda memeras kacang itu, kulit kacang pun hancur, dan terlihat biji kacang.

Kemudian Filsuf menyuruhnya menggosok. Anak muda itu pun menggosoknya dan menghancurkan kulit tipis dari pembungkus biji kacang, hanya menyisakan buah/isinya yang putih. Kemudian sang Filsuf menyuruhnya memeras lagi isinya, tapi sekeras apa pun ia memeras, isi kacang itu tidak hancur dan tetap utuh.

Filsuf berkata : “Meskipun sering mengalami kesulitan, dan banyak kehilangan, tapi tetap harus memiliki sekeping hati (semangat) yang pantang menyerah.”

Setelah membaca cerita singkat di atas, bukankah sangat mencerahkan pikiran kita ? Jangan lupa dishare agar semua orang dapat memetik manfaatnya. (NTDTV/Jhn)