Dewa Kematian Mengatakan pada Sepasang Suami Istri “Hanya Satu dari Kalian yang Bisa Hidup”

400

Erabaru.net. Meski singkat, tapi beberapa cerita berikut ini mengandung kebenaran, dan sangat besar manfaatnya bagi kita dalam kehidupan ini!

Mari simak bersama beberapa kisah pendek berikut ini :

Cerita 1 :

www.vebma.com

Alkisah dahulu kala, ada sepasang suami isteri yang bertemu dengan dewa kematian. Dewa kematian mengatakan : “Di antara kalian berdua, hanya satu yang bisa hidup, kalian pingsut (suit) yang kalah harus mati.”

Suami isteri lalu mulai “pingsut”, dua kali pingsut keduanya seri, yang ketiga kalinya sebagai penentu kemenangan itu, sang suami kalah.

Melihat itu, dewa kematian menarik napas panjang dan berkata : “Awalnya sesuai dengan kelaziman saya, dimana jika pingsut ketiga kalinya seri, saya akan melepaskan kalian, tapi ternyata pingsut yang ketiga telah menentukan menang dan kalah.”

Si isteri memeluk suaminya yang akan mati sambil berkata : “Bukannya kita sudah sepakat selalu mengeluarkan batu sama-sama, mengapa ketiga kalinya saat saya mengeluarkan gunting, kamu malah mengeluarkan kertas.”

Pencerahan : Inilah kenyataannya, dan inilah hati (pikiran) manusia.

Ini adalah sebagian dari keegoisan manusia, sebagian dari kebodohan manusia.

Dunia yang nyata, orang-orang yang realistis, mencelakakan orang lain hingga akhirnya mencelakakan diri sediri juga.

Ketika ada orang yang ingin mengalah, sebenarnya orang itu sudah menang!

Karena itu, teruslah bersikap baik, karena pada dasarnya Anda sudah menang!

Jadi, sebagai seorang insan lebih baik selalu jujur dan berbaik hati!

Cerita 2 :

i0.wp.com

Seorang prajurit menyelamatkan diri ke dalam gua setelah diserang pasukan musuh.

Pasukan musuh mengejar di belakangnya, sementara ia bersembunyi di dalam gua sambil berdo’a tidak ditemukan oleh musuh.

Tiba-tiba lengannya tersengat oleh seekor laba-laba, sekilas terlintas dalam benaknya ingin membunuh laba-laba yang mengigitnya, tapi tiba-tiba ia merasa tidak tega, lalu melepaskannya.

Tiba-tiba laba-laba itu merayap ke gua dan merajut jaring yang baru, pasukan musuh yang melihat jaring laba-laba yang tampak utuh itu menduga di dalam tidak ada orang lalu pergi.

Pencerahan : Dalam banyak peristiwa, memperlakukan orang lain dengan baik itu sama juga membantu diri kita sendiri.

Cerita 3 :

farm5.static.flickr.com

Seorang biksu muda bertanya pada biksu tua: “Sebelum Anda mendapatkan Tao (pencerahan), apa yang Anda lakukan?”

Biksu tua : “Membelah/mencari kayu bakar, memikul air dan memasak.”

Biksu muda bertanya : “Terus setelah mendapatkan Tao ?”

Biksu tua: “Membelah/mencari kayu bakar, memikul air dan memasak.”

Biksu muda : “Kalau begitu apa yang dimaksud dengan mendapatkan Tao itu?

Biksu tua : “Sebelum mendapatkan Tao/pencerahan, saya selalu memikirkan memikul air saat membelah kayu bakar, dan ketika memikul air saya selalu memikirkan tentang memasak ; Setelah mendapatkan pencerahan, masih seperti biasa mengambil kayu bakar, memikul/mengambil air dan memasak.”

Pencerahan : Kebenaran sejati itu sangat sederhana, pikiran yang biasa itulah Dao (kebenaran-Melakukan segala sesuatu dengan tenang, santai, apa adanya tanpa dipengaruhi oleh faktor luar).

Cerita 4 :

pembinajohordt.files.wordpress.com

Anda tidak merasa lelah atau capek saat menggendong anak sendiri yang beratnya 10 kg, karena Anda suka ; Tapi Anda tidak akan bertahan lama ketika mengangkat/memeluk di dada sebuah batu seberat 10 kg.

Pencerahan : Ketika seseorang tidak suka melakukan sesuatu, meski ia sangat brilian sekalipun, tetap saja tidak ada faedahnya ; Ketika seseorang suka akan sesuatu, kemampuan yang dicurahkannya akan membuat Anda terkesima.

Jadi, seseorang yang tidak berprestasi, belum tentu tidak memiliki kemampuan, besar kemungkinan karena ia tidak suka melakukannya.