Pada Dinasti Qing (abad ke-17 hingga ke-20), seorang hakim Kabupaten Huating (kini Distrik Songjiang, Kota Shanghai) bernama Xu Zhi (dibaca: sü ce), selalu melaksanakan tugas dengan jujur dan bijaksana, sehingga orang-orang memujinya.

Pada suatu hari, seorang sarjana kemiliteran menyeret seorang pemuda desa ke kantor pengadilan, ia mengadu kepada sang hakim: “Saya sedang berjalan santai, orang desa ini memikul kotoran hewan (untuk pupuk), tidak mau menghindar, sehingga baju saya ia kotori.”

Setelah mendengar aduan tersebut, Hakim Xu Zhi berpura-pura memukul meja dan membentak orang desa itu: “Kamu orang desa, datang ke kota, mana boleh mengotori baju Tuan ini, harus dihukum berat, sama sekali tidak dapat diampuni!”

Orang desa itu sangat ketakutan dan hanya bisa memohon ampun dengan memelas. Namun, dalam benak hakim itu berpikir, si sarjana ini terlalu mengada-ada, orang desa tidak sengaja mengotori sedikit bajunya saja, diseret datang minta diadili, jelas hendak memamerkan kewibawaannya dan berlaku sewenang-wenang terhadap orang desa. Kali ini, saya akan mematahkan keangkuhannya untuk memberi dia pelajaran.

Hakim Xu Zhi dengan suara lantang mengatakan kepada orang desa itu: “Masih tidak bersujud dan membenturkan dahimu ke lantai sebanyak 100 kali untuk Tuan itu? Jika sudah selesai saya akan melepaskanmu.”

Orang desa yang jujur itu tidak berani melanggar, maka meminta si sarjana duduk menghadap selatan dan ia mulai bersujud membenturkan dahinya ke lantai. Hakim Xu Zhi menyuruh seorang petugas berdiri di samping mereka untuk menghitung.

Sarjana itu sedang kegirangan. Ketika petugas sampai pada hitungan ke-70, tiba-tiba hakim Xu berteriak, “Berhenti!” Lalu bertanya kepada sarjana: “Rupanya saya sedikit lalai, lupa bertanya kepada Anda apakah sarjana sastra atau sarjana kemiliteran ?”

Ia menjawab: “Saya sarjana kemiliteran .”

“Wah ini ada kekeliruan! Terhadap sarjana sastra menurut peraturan harus bersujud 100 kali, tetapi terhadap sarjana kemiliteran hanya perlu bersujud 50 kali. Orang desa itu telah kelebihan menyembah Anda, maka Anda harus mengembalikan kelebihan 20 kali dan menyembah orang desa itu,” ujar Hakim Xu Zhi. Maka disuruhlah orang desa itu duduk menghadap ke arah selatan dan memerintahkan si sarjana kemiliteran untuk menyembah.

Si sarjana kemiliteran marah dan menolak bersujud kepada orang desa itu, maka sang hakim memerintahkan petugasnya untuk memaksa sarjana itu tengkurap di lantai sambil berkata: “Anda adalah sarjana kemiliteran , harus mengerti bahwa rakyat merupakan fondasi negara. Anda justru memandang rendah penduduk desa dan tidak mau mengalah terhadap sedikit kejadian tidak menyenangkan, bila Anda kelak menjadi pejabat tinggi militer, apakah rakyat masih bisa bertahan hidup dengan keangkuhan Anda? Hari ini saya menghukum Anda bersujud untuk memperingatkan Anda agar kelak jangan menyiksa rakyat. Orang bijak zaman dahulu mengatakan: Merugikan rakyat berarti merugikan negara, bagaimana boleh membiarkan perbuat-an merugikan rakyat? Menyakiti manusia sama dengan menyakiti langit, bagaimana boleh dibiarkan!”

Segera ia memerintahkan si sarjana kewiraan bersujud sebanyak 20 kali kepada orang desa itu.

Setelah mendengarkan teguran dan wejangan sang hakim, hati sarjana kewiraan itupun menyesal dan dengan rendah hati langsung bersujud hingga selesai, kemudian meminta maaf dengan tulus kepada orang desa. Orang desa itu menyampaikan beribu-ribu terima kasih dan si sarjana tersipu malu melanjutkan perjalanannya.

Dengan cepat peristiwa tersebut tersebar luas, masyarakat bersuka-cita mendengarkan kasus itu dan apa komentar mereka?

“Belum pernah menyaksikan hakim yang begitu baik!” (Epoch Times/tys)

(Dikutip dari “Míng Zhai Xiao Shi” karangan Zhu Lián, Dinasti Qing)

Share

Video Popular