Ungkapan Hati pada Ayah dan Ibu

156

Sudah 16 tahun lamanya saya tidak berjumpa dengan ayah dan ibu. Saat-saat paling berharga dalam hidup selama 16 tahun ini, hanya saya bisa lewatkan sendiri, tak dapat berbagi dengan mereka. Ketika ayah dan ibu menghadapi saat kritis antara hidup dan mati, saya hanya bisa mencemaskan dari tempat nan jauh. Saya hidup di luar negeri semenjak meneruskan sekolah juga tidak merasa santai dan bahagia.

Kedua orang tua saya sudah berusia lanjut, tertimpa penganiayaan selama 11 tahun ini, suasana ‘masyarakat harmonis’ penuh kedamaian yang digemborkan pemerintah, hanya diperuntukkan bagi orang lain. Jika kain penutup layar disobek, terlihat kekejamannya, pemandangan yang terhampar di layar begitu indah dan megah itu, dirajut oleh tetesan darah dan air mata dari banyak keluarga yang terbungkam, termasuk keluarga saya. Jika langit dan bumi bisa melihat betapa rindunya saya, maka kerinduan itu sudah membalut rapat Samudera Pasifik.

Ayah pandai dalam berbagai bidang, beliau seorang profesor fisika di fakultas pendidikan Jinan Provinsi Shandong, dia berkepribadian tanpa pamrih, dimana saja dia selalu sebagai pusat perhatian masyarakat. Ibu penuh bakat, bersikap ceria dan terbuka, di matanya hidup ini bagai kaledoskop.

Ayah dan ibu bergandengan selama 40 tahun, serasi dan harmonis bagai harpa dan kecapi, senang dan bahagia. Walaupun saat hidup dalam serba kekurangan, keluarga kami masih penuh dengan muatan kegembiraan, bukan kemiskinan. Ketika kami beranjak dewasa, adik laki-laki saya pergi ke Beijing dan saya pergi ke Amerika, kami berdua bagaikan seekor burung kecil yang terbang ke tempat idaman masing-masing, tetapi tak bisa menahan diri untuk merindukan kehangatan rumah di kampung halaman, mencemaskan kesehatan ayah dan ibu.

Hingga pada suatu hari, ayah dan ibu mempelajari Falun Gong, kami sangat penasaran atas keefektifan Falun Gong dalam hal menghalau penyakit dan menyehatkan tubuh dan teori yang mengharuskan seseorang menjadi orang baik.

Ketika saya mendengar ayah dan ibu bertutur harus menjadi seorang manusia yang berakhlak tinggi, berdasarkan kriteria Sejati, Baik, Sabar, untuk menuntun segala perilaku kita, kami semua dapat merasakan keindahan Falun Gong. Kami bercerita apa yang kami dambakan, melampaui ruang waktu dan dimensi, hati berubah menjadi semakin murni dan bersih, seperti kembali ke waktu yang dulu, perasaan kedekatan itu bagai tak pernah berpisah walau hanya sehari. Kehidupan membentangkan di depan mata sebuah gambaran yang selama ini tidak pernah kami alami, kami saling bergandeng tangan dalam perjalanan kembali ke asal dan pulang ke jati diri.

Awan dan angin tiba-tiba berubah, pada 20 Juli 1999, orang kerdil yang berkuasa dalam tubuh PKT (Partai Komunis Tiongkok) atas kemauannya sendiri memutuskan menganiaya Falun Gong, itu adalah hari yang tak terlupakan. Mulai saat itu, kesengsaraan dan air mata darah memadati kalender harian yang ada di rumah kami. Di bawah teror merah nyawa seseorang bisa dilenyapkan dengan sangat mudah, dengan sekejap mata, sejumlah besar masyarakat yang berkultivasi ‘Sejati Baik Sabar’, didorong ke arah berlawanan dengan pihak komunis yang selalu mengatakan dirinya ‘agung dan benar’.

Sejak itu ayah dan ibu kehilangan kebebasannya, hati saya juga seperti ditekan sebuah batu raksasa, menjadi hancur. Sama sekali tidak ada kabar dari mereka, tak jelas hidup atau meninggal, hari-hari berubah menjadi sangat panjang.

Mengapa sepasang orang tua yang berkultivasi Sejati Baik Sabar harus menerima kesengsaraan tanpa sebab seperti ini? Begitu terancamkah penguasa oleh masyarakat yang hanya mengejar keyakinan mereka yang indah, dan haus menjebloskan mereka ke dalam penjara?

Beginilah nyawa dari para pengikut Falun Gong direnggut dengan kejam, dari usia yang termuda hanya beberapa bulan hingga orang tua yang uzur, puluhan ribu keluarga menjadi hancur berantakan, banyak sekali tragedi tragis tak adil yang terjadi membuat langit dan bumi menjadi murka.

Tetapi saya merasa sangat bangga pada ayah dan ibu, tak peduli dalam lingkungan yang seberapa bahaya, mereka tetap memegang teguh prinsip menjadi orang baik, mempertahankan dengan teguh keyakinan, tidak menyerah dengan kekuasaan jahat manapun. Namun sebagai anak, hati saya sakit sekali, ditilik dari usia mereka yang telah uzur, bagaimana saya bisa tidak menjadi khawatir?

Dalam dunia saat ini yang menjunjung tinggi nilai Hak Asasi Manusia, cerita kejam semacam ini yang masih terjadi dan berulang-ulang terjadi, di negara kuno yang memiliki kebudayaan selama 5.000 tahun, hingga saat ini kekejaman itu masih tetap terjadi.

Bila penganiayaan tidak berhenti sehari, kesengsaraan banyak orang akan kian bertambah, bila penganiayaan tidak berhenti, hati saya tak bisa merasa tenang walau hanya sedetik. Ayah dan ibu yang telah uzur, keteguhan hati Anda bisakah menggugah jiwa mati rasa yang sedang tertidur?! Kepada orang yang ikut melakukan kejahatan ini, apakah hati Anda sama sekali tidak ada rasa penyesalan dan takut, telah memberikan kesengsaraan terhadap orang-orang yang tak berdosa? Hentikanlah penganiayaan terhadap Falun Gong.