Apa yang Mengendalikan Anda?

183

Adalah sebuah cinta pada pandangan pertama. Saya adalah seorang karyawan berusia 15 tahun dan bekerja sebagai petugas tempat parkir. Saya tidak pernah melihat yang lain selain ini, sebuah produk terbaru keluaran Toyota  namanya Celica. Mendekati usia mendapatkan izin mengemudi, saya berangan-angan memiliki sebuah mobil.

Kini impian saya telah terbentuk. Untuk dua tahun ke depan, saya akan menyimpan semua uang saya dan selama masa itu sebuah Celica tidak akan luput sekalipun dari pandangan saya sekali pun saya sedang tidak melihatnya. Ia satu-satunya mobil yang saya idamkan. Saya pergi menuju showroom mobil lusinan kali hanya untuk dapat duduk di dalamnya, merasakan dan mencium aromanya. Saya selalu mengajak bicara setiap orang yang memiliki dan melewati area parkir tempat bekerja.

Sayangnya, harga untuk yang masih baru sangatlah mahal, sehingga saya mencari dalam kondisi bekas di surat kabar setiap hari, namun yang saya temukan harganya selalu 1,000 dollar AS lebih mahal dari jumlah uang yang saya miliki. Oleh karenanya saya rajin menabung terutama setelah diterima bekerja.

Keinginan dan tekanan dari kawan sebaya untuk memiliki sebuah mobil, jenis apa saja, dan impian saya  menjadi berada di antara keraguan. Teman-teman mulai menyarankan mobil yang sekiranya mampu saya beli. Lalu Ayah memperkenalkan saya kepada seorang penjual mobil. Ketika bertemu dengannya, dengan berat hati saya memberikan daftar mobil-mobil yang sekiranya masih mampu saya beli. 

Sewaktu kami membahas masalah mobil, kelihatannya ia dapat merasakan kurangnya antusiasme saya. Kemudian ia bertanya kepada saya, “Apakah ada hal lain yang membuatmu tertarik?”

“Ya…sebuah Toyota Celica,” Saya menjawabnya, “Namun saya tahu saya tidak akan mampu membelinya.”

Ia kemudian mencatatnya dan berkata, “Biarkan saya memikirkan hal itu.”

Mata saya berbinar-binar ketika ia menanyakan tentang warna dan pilihan saya. Kemudian Ia menggambarkan sebuah lingkaran besar dengan kata Celica di dalamnya. Sebulan kemudian, Ia mengabari saya. Ia menemukan satu yang sesuai dengan anggaran saya. Hanya terdapat satu tambalan pada spatbornya di mana dapat saya perbaiki dengan biaya kurang dari 100 dollar. Keinginan terpenuhi.

Sebagai seorang pemasaran, seorang motivator, atau bahkan sebagai seorang orang tua, saya dapat menanamkan benih keinginan di hati seseorang, namun untuk menumbuhkannya, haruslah tumbuh dengan sendirinya. Begitu keinginan mengakar dalam diri, ia memiliki kemampuan untuk mengendalikannya sendiri.

Ketika keinginan itu menjadi sangat kuat, saya menyebutnya ambisi. Maka hanya beberapa orang yang dapat mencapai taraf tersebut sehingga kami menggunakan kata ‘kelaparan’ untuk mendeskripsikannya. Tentu harus merupakan ambisi yang positif, dan meraihnya pun harus dengan jalan yang lurus.

Ketika Anda mengamati orang-orang di dunia yang paling berhasil di bidang bisnis, olah raga atau politik — amatilah bahwa keinginan mengambil peranan penting di setiap aspek kehidupan mereka. Para pemenang mewujudkan keinginan mereka meraihnya dengan perhatian, fokus dan tenaga.

Michael Jordan adalah sebuah contoh yang bagus. Ia menjadi salah satu pemain basket terhebat dengan berlatih lemparan sebanyak 2.000 kali setiap harinya. Atau Joseph Schooling, perenang muda peraih medali emas olimpiade Rio, yang memiliki mimpi emas olimpiade dan menempelkannya di dinding apartemennya untuk dilihatnya setiap hari guna membakar semangatnya agar giat berlatih dan terus berusaha meningkatkan prestasinya. Apakah Anda mendedikasikan impian Anda seperti itu pula? (Robert Wilson/ The Epoch Times/ mer)