Belajar Kehidupan dari Anak Orang Kaya, Setelah Semalam di Desa

194
Ilustrasi

Seorang pria membagi cerita ini. Ada seorang pria kaya membawa anaknya ke desa untuk memahami kehidupan ‘orang miskin’ dengan tujuan agar anaknya itu mensyukuri segala sesuatu yang telah dimiliki.

Betapa beruntungnya, bahagianya keluarga itu sekarang ini. Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan “menginap semalam di desa.”

Setibanya kembali di rumah, ayahnya itu menduga bahwa hasilnya pasti menggembirakan. Lalu bertanya kepada anaknya soal kesan kehidupan desa yang ia peroleh. Anaknya hanya menjawab “Baik !” Tanpa mau berpanjang lebar.

Tak puas dengan jawaban pendek itu, ayahnya kemudian mendesak, “Sekarang kamu sudah bisa merasakan kehidupan orang miskin, bukan? Apa kesan yang kamu peroleh dari perjalanan kali ini?”

Namun jawaban anaknya justru di luar dugaan ayahnya, ia mengatakan, “Kita sekarang hanya memiliki seekor anjing peliharaan, sedangkan mereka ada 4 ekor. Kia memiliki sebuah kolam renang, tetapi mereka memiliki sungai kecil dengan panjang yang tidak terbatas. Begitu malam hari tiba, kita hanya mampu menikmati terangnya lampu mewah impor, sedangkan mereka memiliki langit yang bertaburan bintang-bintang.  Balkon kita hanya bisa digunakan untuk melihat halaman, kalah dengan mereka yang mampu melihat sampai ke kaki langit”.

Mendengar penjelasan itu, ayahnya sulit untuk menyembunyikan ekspresi terkejut dari wajahnya. namun demikian, anaknya masih meneruskan.

“Tempat tinggal kita hanya sepotong kecil dari pulau, tetapi ruang hidup mereka berlipat ganda lebih luas dari ladang besar kita. Kita menerima pelayan orang lain, tetapi mereka memberikan pelayanan kepada orang lain. Bahan-bahan makanan kita harus diperoleh dengan membeli, padahal mereka bisa memperolehnya dengan berswasembada. Perlindungan hanya kita gantungkan pada bangunan yang kita miliki, tetapi mereka memperoleh perlindungan yang lebih berharga dari sanak saudara”.

Ayah hanya bisa menatap anaknya itu dengan mulut membisu. Tiba-tiba anaknya kembali mengatakan, “Saya sekarang baru menyadari bahwa kita sebenarnya miskin”.

Artikel tersebut juga menimbulkan antusias pembaca untuk membagikan kepada kawan-kawan lainnya. Semoga bermanfaat bagi semuanya. (erabaru.net/sinatra/rmat)