Air Jernih Tidak Ada Ikannya

380

Suatu saat, ketika ada waktu senggang, saya mengajak dua orang teman minum teh sambil mengobrol. Teman A, seorang pengusaha kecil, mengeluhkan: “Zaman sekarang sulit sekali mendapatkan seorang pegawai yang piawai, orang yang punya sedikit kemampuan bekerja hanya beberapa hari saja sudah mencari pekerjaan yang lebih baik.”

Mendengarkan perkataan ini, teman saya B menjawab dengan santai: “Jika mata hanya melihat kesalahan dan kekurangan orang lain, maka Anda bagaikan sebuah tong sampah. Jika hanya memandang keunggulan dan kelebihan orang lain, maka Anda akan menjadi kotak pengumpul harta.”

Dari perkataan itu saya berpikir, di dunia fana ini, siapa yang tidak bersalah? Bagaimana bersikap murah hati dengan orang lain, terletak pada bagaimana Anda menghadapi kesalahan dan kekurangan orang lain. Namun ada banyak pimpinan manajemen perusahaan yang tidak jelas akan prinsip ini.

Teringat dulu ada guru pernah berkata kepada saya: “Jika Anda seorang bijak, Anda memandang orang lain selalu yang baik, dilihat dari sisi manapun semuanya nampak indah. Jika Anda seorang pecundang, Anda selalu memandang hina dan rendah kepada orang lain, dari atas ke bawah tampak menyebalkan. Orang yang memiliki hati belas kasih, dia melihat pegunungan, aliran sungai, tumbuhan dan pepohonan serta semua kehidupan akan merasa sangat menarik.”

Air jernih tidak ada ikan, manusia yang terlalu menuntut tidak ada teman, pepatah ini terdapat dalam Han Shu Dong Fangsu Zhuan. Artinya, air jika terlalu jernih, bahkan planktonpun tidak ada, maka ikan tidak bisa hidup disana, menuntut orang lain terlalu ketat dan keras, maka tidak ada orang yang bisa menjadi temannya.

Diibaratkan terlalu memperhitungkan kekurangan dan kesalahan orang lain, tidak bisa bermurah hati, juga tidak bisa menahan orang berbakat. Manusia tidak mungkin bisa melakukan segalanya dengan sempurna, Konghucu hingga usia 70 tahun baru bisa “bertindak sesuai hati, tanpa melangkahi”. Manusia pada umumnya sangat sulit mencapai taraf seperti dia.

Seorang pemimpin jika menuntut bawahannya melakukan pekerjaan dengan sempurna, maka orang tersebut tidak akan mendapatkan orang berbakat. Meskipun bisa menemukan orang yang berbakat, tetapi dengan cepat orang tersebut terinjak-injak. Inilah kesalahan yang mudah sekali dibuat oleh seorang pimpinan.

Oleh sebab itu, dengan ketat mematut diri dan memperlakukan orang lain dengan murah hati adalah dua pengertian yang berbeda. Seseorang boleh semaksimal mungkin dengan ketat menuntut diri sendiri, tetapi dia tidak bisa menggunakan dirinya sebagai patokan untuk menuntut orang lain, mengharapkan dan menuntut terlalu tinggi pada orang lain, akan mendapatkan hasil yang sebaliknya, akhirnya akan kehilangan seluruh rekannya.

Pimpinan yang terlalu cerdik acapkali tidak bisa menoleransi kesalahan atau perbedaan watak orang lain, dia akan menuntut perilaku orang lain sesuai dengan patokan dirinya. Namun, manusia selalu memiliki watak, sikap dan cara bergaulnya yang berbeda, serta memiliki taraf semangat yang berbeda juga. Karena itu muncul pergesekan dan konflik, pertentangan itu merupakan hasil yang pasti. Jika seseorang pengurus tidak memiliki kelapangan dada dan bertoleransi, mempergunakan kekuasaan untuk menekan orang lain, alhasil hati pasti tidak sesuai, dikhianati dan di tinggal oleh orang terdekat.

Dalam sejarah Tiongkok banyak sekali kisah tentang bermurah hati mengampuni kesalahan orang lain, “Raja Zhuang mencopot hiasan topi” adalah sebuah contoh yang paling bagus. Menurut cerita pada zaman Chun Qiu, suatu hari Raja Zhuang dari Negara Chu mengadakan pesta mengundang seluruh pejabat negara, bersenang-senang minum arak dan melihat tarian serta mendengarkan lagu.

Menjelang malam, Raja Zhuang memerintahkan orang untuk menyalakan lilin. Saat itu Raja Zhuang juga minta selir kesayangannya Maiji dan Xuji menyulang arak kepada pejabat-pejabatnya.

Mendadak, bertiup seberkas angin kencang, semua lilin padam. gelap gulita menyelubungi semua orang, Selir cantik Xuji merasakan ada orang yang meraba dirinya, dengan reaksi yang sangat cepat dia menarik putus hiasan topi orang tersebut, setelah kembali ke samping Raja Zhuang, dia memberitahu Raja bahwa seseorang telah merabanya, nanti setelah semua lilin dinyalakan, lihat hiasan topi siapa yang putus, akan segera tahu siapa yang tadi meraba dirinya.

Tidak disangka Raja Zhuang berkata kepada semua hadirin: “Bukankah sangat menyenangkan jika kita minum arak dalam kegelapan? Untuk sementara jangan menyalakan cahaya!” Terakhir ketika semuanya selesai minum arak, Raja Zhuang bertanya lagi kepada semua orang: “Sungguh menyenangkan! Mari kita putuskan hiasan topi kita untuk merayakannya.”

Mendengarkan perkataan Raja Zhuang, semua orang memutuskan hiasan topi masing-masing. Raja Zhuang beranggapan, mengundang para pejabat untuk berpesta pora adalah demi kegembiraan bersama, jika orang dalam keadaan mabuk tidak menutup kemungkinan tanpa sadar berbuat tidak senonoh, jika demi hal tersebut menghukum pejabat dalam undangan, maka akan kehilangan maksud awal yang baik itu.

Lewat beberapa tahun kemudian, ketika Raja Zhuang menyerang Negara Zheng, ada seorang jenderal bernama Tang Jiao yang luar biasa berani, menggempur posisi musuh, membuat kewibawaan Raja Zhuang meningkat, dialah orang yang hiasan topinya diputuskan Xuji.

Dia dengan gagah berani membunuh musuh, untuk membalas kelapangan dada dan kemurahan hati Raja Zhuang pada malam itu tidak mempermalukan dirinya.

Dari contoh ini kita bisa melihat, sebagai seorang pimpinan ketika menyelesaikan masalah karyawan, haruslah fleksibel tidak seharusnya mencari-cari kesalahan kecil. Pepatah mengatakan: “Tidak ada emas yang 100% murni, tidak ada manusia yang sempurna.” Terhadap masalah sepele, tidak ada salahnya jika dihadapi dengan murah hati.

Laozi pernah mengatakan mengatur seperti memasak ikan kecil, jangan sering diaduk-aduk. Suatu organisasi jika peraturannya terlalu ketat dan keras, pengikutnya pasti tidak akan langgeng, seperti masakan ikan yang diaduk-aduk, hancur berantakan. (Guang Ming / The Epoch Times / lin)