Aksi Beruntun Xi Menjawab Serangan Balik Kubu Jiang (1)

158
Chen Zuoer (kiri) memiliki hubungan dekat dengan Leung Chunying (kanan), Zhang Dejiang (tengah), dan juga Zhang Xiaoming, pernah beberapa kali mengeluarkan pernyataan “Hong Kong merdeka”, memprovokasi perpecahan di tengah masyarakat Hong Kong. (internet)

Oleh: Xie Tianqi

Sejak akhir Agustus tahun lalu, surat kabar “Sing Pao Daily News” Hong Kong, berturut-turut menerbitkan artikel yang mengkritik antek Jiang yang menangani masalah di Hong Kong antara lain anggota Dewan Tetap Komisi Politbiro Pusat Zhang Dejiang, Kepala Eksekutif Hong Kong Leung Chun-ying, dan juga Direktur Kantor Penghubung Zhang Xiaoming.

Desember tahun lalu, Xi Jinping menolak diangkatnya kembali Leung Chun-ying sebagai kepala eksekutif Hong Kong. Jelang Imlek, komisaris utama Tomorrow Holding Groups Xiao Jianhua diciduk oleh pihak Beijing dari Hong Kong kembali ke RRT.

Tiga aksi oleh kubu Xi Jinping ini menjadi peristiwa simbolis terhadap perubahan situasi politik di sarang kubu Jiang yakni Hong Kong.

Hong Kong adalah sarang utama bagi kubu Jiang, selama ini baik Jiang Zemin dan Zeng Qinghong menguasai kaum mafia maupun penegak hukum di Hong Kong, dan melakukan aksi pengacauan terhadap Hu Jintao dan Xi Jinping.

Kepala Eksekutif Hong Kong Leung Chun-ying adalah orang kepercayaan yang dipromosikan oleh Zeng Qinghong. Xiao Jianhua terungkap sebagai kepanjangan tangan dalam pencucian uang bagi Zeng Wei, putra Zeng Qinghong.

Pihak Xi membersihkan kekuatan Jiang di Hong Kong dengan menargetkan tokoh di baliknya yakni Zhang Dejiang dan Zeng Qinghong. Ini sejalan dengan perpecahan terbuka sebanyak dua kali antara kubu Xi dan kubu Jiang di tingkat politburo.

Pada 26 Januari lalu menjelang Imlek, pada ajang silaturahmi PKT, dari gambar dan foto pemberitaan media massa ofisial memperlihatkan, antara empat anggota Dewan Tetap Politbiro Pusat dari kubu Xi yakni Xi Jinping, Li Keqiang (PM), Yu Zhengsheng, dan Wang Qishan, dengan tiga anggota Dewan Tetap Politbiro Pusat dari kubu Jiang yakni Zhang Dejiang, Liu Yunshan, dan Zhang Gaoli, terdapat lorong pemisah yang gamblang.

Pemandangan yang tak lazim seperti ini membuat perpecahan dan konflik di tingkat politbiro antara kubu Xi dan kubu Jiang menjadi terbuka.

7 Februari, mantan wakil dekan Chinese Academy of Social Sciences yakni Jiang Liu yang telah meninggal dikremasi di Babaoshan. Para mantan petinggi partai yakni Hu Jintao, Zhu Rongji, Wen Jiabao dan para pejabat purnawirawan menyampaikan ungkapan belasungkawa dan mengirimkan karangan bunga kepada keluarga mendiang Jiang Liu. Sedangkan Jiang Zemin dan Zeng Qinghong tidak berada dalam daftar turut berduka cita.

Zeng Qinghong dan Zhang Dejiang Membalas

Baru-baru ini fenomena kubu Jiang sedang meronta dan membalas kembali terlihat. 3 Februari lalu, Zhang Dejiang ke Shenzhen menemui Panitia Pemilihan Hong Kong, dan menginstruksikan agar memberi dukungan kepada Mrs Lam yang mencalonkan diri sebagai Kepala Eksekutif Hong Kong.

Surat kabar “Sing Pao Daily News” Hongkong kemudian menerbitkan artikel yang menghujat Zhang Dejiang dengan kata-kata “siluman negara” dan Direktur Kantor Penghubung Hong Kong Zhang Xiaoming menuding keduanya telah campur tangan urusan internal Hong Kong dan merusak tatanan “satu negara dua system.”

Artikel itu juga mengutip pidato Xi Jinping sebelumnya yang mempertanyakan lima hal pada Zhang Dejiang. 14 Februari, surat kabar “Sing Pao Daily News” kembali menghujat Zhang Dejiang dengan mengatakan “siluman negara” membabi buta mengacau demi memperluas kekuasaan di Hong Kong. Jika “siluman negara” ini tidak disingkirkan, Hong Kong tidak akan pernah damai.

21 Februari surat kabar “Sing Pao” menerbitkan “pernyataan darurat” yang mengatakan keselamatan para manajernya sangat terancam, diungkapkan sejak tengah bulan ini di depan kantor redaktur surat kabar terlihat segerombolan oknum mencurigakan yang diduga berasal dari RRT. Para manajer kantor surat kabar diikuti, difoto, dan mendapat surat kaleng berisi ancaman di sekitar mereka. Pihak kantor redaktur sudah melaporkannya pada polisi.

Pernyataan darurat oleh “Sing Pao” itu menunjukkan, menjelang pemilihan kepala eksekutif, kubu Jiang telah mengirim agen rahasianya untuk melakukan ancaman dan counter attack di Hong Kong sebagai balasan. Ini berbarengan dengan serangkaian peristiwa aneh yang terjadi.

13 Februari, Kim Jong-nam, kakak tiri dari pemimpin tertinggi Korut Kim Jong-un, terbunuh di Malaysia. Berbagai informasi menyebutkan, sebenarnya Kim Jong-nam selama ini selalu dilindungi oleh instansi terkait PKT.

Ketika Kim Jong-nam dibunuh, kedua pengawal yang disiapkan pihak RRT tidak ada di tempat dan telah pulang lebih awal. Petugas keamanan juga tidak di tempat, kejadian itu “sangat aneh dan penuh misteri”.

Momen yang sensitif, pembunuhan, serangan anarkis, dan isu keamanan yang aneh meletus berbarengan. Ini tidak bisa hanya dijelaskan sebagai suatu kebetulan.

Ini terkait dengan aktivitas teror yang direncanakan oleh kubu Jiang selama beberapa tahun terakhir ini, cocok sekali dengan informasi yang menyebutkan adanya upaya kubu Jiang menciptakan ketakutan di tengah masyarakat, dan melakukan kudeta versi lain. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG