Gadis berusia 22 tahun etnis Irak bernama Joanna Palani telah mengambil langkah berani. Ia memutuskan untuk berhenti kuliah dan pergi ke Suriah untuk melawan organisasi teroris ISIS.

Di sana ia bertugas sebagai penembak jitu yang sejauh ini sudah berhasil menghantarkan lebih  dari 100 nyawa orang ISIS ke pintu neraka.

Selain itu, ia telah menyelamatkan sejumlah wanita dan gadis yang dijadikan budak seks, dan mengajarkan mereka keterampilan bela diri untuk melawan ancaman ISIS.

Tanpa diduga, ketika Joanna Palani pulang ke negaranya Denmark, ia diperlakukan sebagai teroris karena menduga ia telah bergabung dengan kelompok ISIS yang menjadi musuh nomor satu dunia.

Kepada siapa saja yang berhasil menangkapnya, akan diberikan hadiah uang sebesar lebih dari satu juta Dollar AS.

Joanna Palani yang lahir di kamp pengungsi PBB, ketika berusia 9 tahun ia pindah ke kota Kopenhagen dan mulai belajar menembak di sana.

Tetapi saat pahlawan yang berhasil menyelamatkan banyak orang ini kembali ke Denmark, Ia terus mengalami banyak kesulitan.

Pada 2015, paspornya disita oleh polisi dan badan intelijen Denmark. dan pada 7 Desember tahun lalu, ia harus mendekam selama 3 pekan di penjara atas instruksi dinas tersebut.

Ketika berada dalam tahanan itu  Joanna Palani mendengar bahwa dirinya sedang dicari oleh  ISIS yang ingin menjadikannya sebagai budak seks. Dinas intelijen Denmark yang mengetahui hal itu kemudian berusaha untuk melindunginya, tetapi ditolak.

“Saya tidak percaya intelijen,” katanya.

Meskipun jalan yang ditempuh dalam perjuangan melawan ISIS berliku-liku, tetapi ia menegaskan,  “Saya sudah siap mengorbankan nyawa dan kebebasan saya demi usaha untuk menghentikan pembantaian yang dilakukan ISIS. Dengan demikian, saya berharap semua warga Eropa bisa merasa aman. Tetapi, saya diperlakukan sebagai teroris oleh negara ini. Saya hidup di salah satu negara terbaik di dunia, tetapi sering saya merasakan seperti tidak memiliki rumah, berada di atas ranjang dengan rasa dingin dan lapar. Saya tidak percaya siapa pun”.

Akibat melanggar larangan perjalanan, Joanna yang kembali ke Suriah untuk melawan ISIS, bisa dikenakan sanksi masuk bui selama 6 bulan sampai 2 tahun oleh pemerintah Denmark. Ia yang oleh kedua belah pihak baik Denmark maupun ISIS dianggap sebagai musuh hanya mampu mengeluh,  “Saya telah berjuang demi keamanan Denmark, memberikan segalanya hingga tak tersisa buat diri saya sendiri, namun di saat bersamaan, hak kebebasan saya juga mau direnggut Denmark”.

Joanna Palani yang kini menghadapi ancaman jiwa, setiap 3 hari harus berpindah-pindah tempat persembunyian. Ia tidak mengeluh soal keadaan ini.

“Saya pernah membantu sejumlah keluarga membebaskan diri dari bahaya yang mengancam, ketika mata saya menatap sorotan mata gadis cilik yang baru terlepas dari ketakutan, saya sadar bahwa apa yang saya lakukan itu berarti,” katanya.

Artikel menarik untuk disebarluaskan. (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular