Anak-anak harus diajarkan untuk mengendalikan emosinya sejak usia dini, kata sosiolog Thomas Scheff.

Thomas Scheff mengacu pada emosi sebagai “peristiwa internal,” isyarat berwujud yang bekerja sebagai “sinyal yang mengingatkan kita pada keadaan dunia di dalam dan di sekitar kita”.

Scheff berpendapat bahwa membantu anak untuk belajar dan berbicara mengenai emosinya akan menyediakan alat yang diperlukannya untuk lebih memahami dan mengendalikan perasaannya dari waktu ke waktu.

“Dunia emosi adalah kekacauan besar dalam masyarakat modern karena kita belum benar-benar mendefinisikan apa yang kita maksud dengan emosi yang berbeda,” kata Thomas Scheff, seorang profesor emeritus sosiologi di Universitas California-Santa Barbara. “Emosi didefinisikan saling tumpang tindih. Amarah adalah salah satu jenis kegusaran. Jadi, apakah kegusaran? Semuanya serba tidak jelas.”

“Saya sangat tertarik untuk mulai memperkenalkan emosi pada usia dini yaitu pada taman kanak-kanak-karena saya pikir anak perlu diperkenalkan pada emosinya dengan cara yang berbeda.”

“Untuk melepas dan mengabaikan apa yang banyak orang lakukan untuk menangani emosinya, Anda juga dapat menyembunyikan satu emosi. Misalnya, pada kasus di mana seseorang belajar untuk menyembunyikan rasa malu di balik kemarahan dan agresif, yang dapat benar-benar berubah menjadi sangat berbahaya.”

Mengakui gerakan populer terhadap pendidikan sosial-emosional bagi murid TK sampai murid kelas 12, Scheff berpendapat bahwa sementara ini bagian sosial tampaknya berhasil, namun komponen emosional masih kurang berhasil.

6 Emosi

Setelah menghabiskan bertahun-tahun mempelajari stigma penyakit mental, Scheff telah mengabdikan paruh karier keduanya untuk penelitian tentang emosi dan dampak tabu berlama-lama dengan emosi.

Karyanya telah meneliti sifat rasa malu yang merusak dan perannya dalam kemarahan dan agresif dan kecenderungan budaya kita untuk mengabaikan emosi sebagai “perasaan” belaka, daripada mengenali emosi sebagai kejadian fisiologis.

Dalam karya barunya yang dipublikasikan dalam jurnal Medical Sciences, Scheff menawarkan cara sementara untuk mulai menambahkan komponen emosi pada pengajaran murid TK sampai murid kelas 12 yang kooperatif, berdasarkan deskripsi dari masing-masing enam emosi: sedih, takut, marah, bangga, malu, dan kelelahan yang berlebihan.

“Dalam masyarakat modern, memahami emosi yang dilanda oleh kesulitan elemental: Arti kata yang merujuk pada emosi begitu membingungkan sampai kita hampir tidak tahu apa yang kita bicarakan. Bila dibandingkan dengan keyakinan dan penelitian yang sebenarnya tentang perilaku, pikiran, sikap, persepsi, dan dunia materi, ranah emosi masih belum diketahui”, tulis Thomas Scheff.

“Asumsi umum adalah bahwa emosi tidak penting, namun berperan kunci dalam perilaku individu dan bahkan bangsa,” kata Scheff.

Untuk mulai menangani kesenjangan, katakan pada anak: “Ceritakan apa saat terbaik dalam hidupmu.”

“Saya sudah melakukan ini dalam seminar di universitas, di mana mahasiswa mulai berbicara tentang saat terbaik dalam hidupnya, di mana mahasiswa tertawa, kadang menangis, namun menyukainya,” kata Scheff.

“Ada cara mendekati orang-orang muda dengan emosi tanpa menakut-nakutinya, dan mendapatkan bagian positif dari kehidupannya sehingga akhirnya mereka akan berbicara tentang hal-hal yang lebih sulit. Sering terjadi bahwa beberapa emosi yang diabaikan atau disembunyikan adalah penyebab kesulitan.

“Ada cara mengajar emosi, dan saya pikir emosi diperlukan untuk kehidupan pribadi kita, sebagai masyarakat, sebagai bangsa,” pungkasnya.(Epochtimes/Vivi/Yant)

Share

Video Popular