Wang Chun, wanita senja yang baru keluar dari rumah sakit, tampak masih agak lemah, dokter menyarankan untuk rawat inap beberapa waktu lagi di rumah sakit, tapi begitu terbayang sisa uangnya di ATM tidak banyak lagi, nenek ini akhirnya mengurus kepulangannya dari rumah sakit

Wanita tua tinggal di Zhiyuan County, Taiwan, ia mengandalkan uang pensiunnya untuk menghidupi dirinya. Dulunya Ia dan suaminya adalah karyawan dari perusahaan milik negara, memiliki seorang putra, dan kondisi ekonomi keluarga juga lumayan baik.

Anaknya sangat rajin belajar, tidak hanya berhasil diterima di salah satu universitas bergengsi di Taiwan, bahkan kuliah sebagai mahasiswa pascasarjana yang ditanggung negara, kemudian mengambil studi Ph.D.

Setelah lulus, ia kerja di sebuah perusahaan teknologi dengan bayaran yang tinggi. Namun, memasuki tahun ke tiga kerja di perusahaan tersebut, ia mengalami kecelakaan lalu lintas ketika bepergian dengan kekasihnya, dan tewas di tempat.

Suaminya langsung terkena serangan jantung ketika mendengar kabar buruk itu, kemudian dirawat di rumah sakit, namun, setahun kemudian, suaminya pergi juga meninggalkannya selamanya.

Setelah kehilangan secara beruntun dua orang yang sangat dicintai itu, hampir sepanjang hari wajah sang nenek dibasahi dengan tetesan air mata, ia juga selalu bertanya dan bertanya dalam hati, mengapa Tuhan begitu tega dan tidak adil padanya, tapi semua itu tidak akan pernah kembali lagi seperti waktu yang terus bergulir, jadi ia harus tegar dan melanjutkan hidupnya.

Selama puluhan tahun lamanya, perlahan-lahan wanita itu baru bisa keluar dari siksaan batin kehilangan orang-orang terkasihnya.

Pada suatu kesempatan, sang nenek diundang untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan amal, pergi ke sebuah sekolah di kawasan pegunungan berkumpul dengan anak-anak miskin.

Mereka mengunjungi sekolah dan keluarga anak-anak, untuk mengetahui langsung kondisi kehidupan dan studi anak-anak.

Saat itulah, sang nenek mengenal seorang bocah bernama Xiao Jun, bocah laki-laki yang telah kehilangan ayahnya, sementara ibunya sakit-sakitan, dan punya dua saudara perempuan.

Ketika berjumpa dengan Xiao Jun, anak itu tampak sedang sibuk mengerjakan tugasnya di ruang kelas, terlihat juga pensil yang digunakan sudah diraut berulang kali hingga tidak bisa digunakan lagi, bukunya juga sudah kumal. Setiap pelajaran dalam bukunya itu juga telah dihapal dengan baik diluar kepala Xiao Jun, si nenek tampak sangat tersentuh melihat pemandangan itu.


Singkat cerita, saat Xiao Jun duduk di bangku SD, si nenek kemudian membantunya 150 dolar NT setiap bulan. Setelah naik ke SMP, bantuannya meningkat menjadi 300 dolar setiap bulan, dan bertambah lagi 500 dolar ketika duduk di bangku SMU.

Setiap saat setelah menerima uang, Xiao Jun selalu mengirim surat tanda terima kasihnya yang hangat untuk nenek, melaporkan tentang studi dan kehidupannya setiap bulan, dan kadang-kadang menceritakan tentang keluarganya.

Sembilan tahun kemudian, setelah Xiao Jun telah duduk di bangku SMU, si nenek jatuh sakit, dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan ditemukan sejenis tumor.

Si nenek kemudian dirawat di rumah sakit, mempekerjakan perawat, lalu menjalani operasi, seluruh proses operasi berlangsung lebih dari enam bulan, si nenek tetap dirawat di rumah sakit.

Uang pensiun bulanan si nenek tidak tergolong tinggi, boleh dikata hampir semua tabungannya habis terkuras selama menjalani rawat inap lebih dari enam bulan di rumah sakit, dan selama enam bulan terakhir si nenek juga tidak mengadakan kontak dengan Xiao Jun.

Sesampainya di rumah, nenek melihat empat lembar surat dari Xiao Jun untuknya, dalam surat itu tidak ditanya mengapa nenek tidak mengirim uang, tapi isinya seperti biasa, memberritahu kepada nenek tentang studinya.

Si nenek merasa tidak sanggup lagi membantu biaya sekolah Xiao Jun, lalu si nenek menghubungi seorang petugas dari yayasan tersebut ketika itu, dan menjelaskan alasannya.

Staf dari yayasan tersebut sangat memahami dengan kondisi nenek, lalu mencari lagi orang yang peduli, dan siap untuk terus mendanai sekolah Xiao Jun.

Namun, ketika petugas dari yayasan menemani orang yang peduli itu mengunjungi rumah Xiao Jun, mereka melihat Xiao Jun tidak sekolah, menurut cerita dari tetangga Xiao Jun, bahwa tujuh tahun lalu, Xiao Jun drop out dari sekolah setelah kematian ibunya.

Ketika staf bertanya pada Xiao Jun, mengapa masih menerima sumbangan dari nenek kalau memang tidak sekolah lagi ?

Xiao Jun hanya meneteskan air mata tidak berkata apa-apa. Setelah berulang kali ditanya, bocah tanggung ini kemudian bergumam, karena miskin dan melarat, hingga tidak bisa hidup lagi.

Melihat sorot mata Xiao Jun yang tak berdaya, staf dari yayasan tampak tidak bisa berkata apa-apa, karena bantuan mereka hanya ditujukan untuk anak-anak yang sekolah. Jadi, karena Xiao Jun tidak sekolah lagi, perjalanan dalam program bantuan kali ini tidak mencapai tujuan sebenarnya. Staf yayasan hanya menyampaikan bahwa nenek tidak sanggup lagi membiayainya.

Sekembalinya dari rumah Xiao Jun, staf yayasan menmeui nenek, dan tampak marah, ketika mereka menceritakan bahwa Xiao Jun tidak sekolah lagi, hanya mengambil uang nenek untuk biaya hidup.

Tanpa sebab yang jelas si nenek tiba-tiba merasa sangat sedih, tapi, ketika membayangkan kondisi keluarga Xiao Jun yang menyedihkan seperti itu, nenek hanya bisa menghela napas tidak berkata apa-apa lagi.

Waktu terus bergulir dan dalam sekejap mata 5 tahun pun berlalu, nenek melewatkan hari-harinya seperti biasa, seorang diri melihat matahari terbit dan terbenam setiap hari, lambat laun nenek pun sudah lupa dengan Xiao Jun yang pernah dibiayainya ketika itu.

Hari itu, ketika nenek sedang asyik melihat-lihat album masa lalunya, di gerbang pintu tampak tiga anak muda, seorang laki-laki terlihat membawa dua anak remaja cantik.

Sudah sangat jarang rumah nenek dikunjungi orang, ketika anak muda itu memperkenalkan dirinya adalah Xiao Jun, tampak ada kesan yang samar-samar dalam benak nenek setelah ia mengamati dengan seksama dan cukup lama melihat raut wajah laki-laki itu.

Kemudian nenek buru-buru menyuruh mereka masuk, Xiao Jun berjalan masuk perlahan sambil menarik dua gadis remaja itu dan seketika berlutut di hadapan nenek, lalu bersujud tiga kali. Nenek termangu sejenak, dan segera memapah mereka untuk berdiri, kemudian Xiao jun menjelaskan maksud kedatangannya.

Ternyata uang bantuan dari nenek itu digunakan Xiao Jun membiayai dua saudara perempuannya untuk kuliah, dan sekarang adik perempuan Xiao Jun yang telah lulus secara khusus memilih untuk bekerja di rumah sakit Zhi-yuan.

Sementara adiknya yang bungsu juga telah kuliah di salah satu universitas. Nenek berbudi kepada kami tiga bersaudara, mulai sekarang, nenek adalah nenek kita, kata Xiao jun. Demi merawat nenek, tiga bersaudara telah memutuskan untuk menetap di sini, supaya nenek bisa menikmati masa senjanya.

Seusai menyampaikan maksud tujuannya, tiga bersaudara itu kemudian serempak memanggil nenek, si nenek memandang ke tiga anak muda itu dengan mata berkaca-kaca, dan tanpa sadar air matanya pun menetes membasahi wajahnya yang telah senja. (erabaru.net/joni/rmat)

Share
Tag: Kategori: SERBA SERBI

Video Popular