Dia Lebih Cantik dan Anggun dari Brigitte Lin, Teman Murninya Fei Xiang, tapi Selalu Dilecehkan Li Ao Mantan Suaminya, Ia Menua dalam Keanggunannya

396

Semua orang tahu, khususnya pecinta film Mandarin, kalau Brigitte Lin adalah seorang artis Mandarin yang cantik, punya sepasang mata yang bening bersinar, lemah lembut dan elok. Tetapi tidak tahunya justru raut wajah Hu Yin Meng, temannya Lin Qing Xia itu yang lebih menarik da cantik jelita, adalah wanita tercantik idaman banyak orang.

Masa kecil Hu Yin Meng dilewati dengan siksaan batin sepanjang hari, bagaimana tidak, hubungan orang tuanya tidak harmonis, ibunya otoriter dan galak. Sementara ayahnya setiap malam tidak pernah pulang. Masa kecilnya hanya meninggalkan kenangan pahit yang menyakitkan.

Keretakan keluarga membuat Hu Yin-meng menjadi pemberontak sejak kecil, hidup semaunya, putus kuliah saat semester 2, lalu ke luar negeri, dan mengecap pendidikan di sekolah model. Membatalkan pernikahannya dengan taipan kaya, dan ia tak pernah menapak sebuah jalan hidup yang stabil.

Hu Yin-meng tanpa sengaja dan tak menyangka masuk ke dunia film, dan berkat kecantikan alaminya itu ia mendapat sambutan yang luar biasa, sejak debut perdananya Hu Yin-meng dijuluki sebagai wanita tercantik Taiwan, kontrak filmnya pun terus bergulir.

Membintangi banyak film dan televisi, bersama dengan Brigitte Lin, Hu Hui-zhong dan artis lainnya dipilih sebagai gadis Qiong Yao, dan semakin top dari hari ke hari.

 

Hu Yin-meng yang baru berusia 24 tahun ketika itu, dengan mudah mendapatkan Golden Horse Awards dalam film “At The Side Of Skyline/Far Away From Home”, banyak orang yang iri dengan sang bintang masa depan ini, banyak pria yang menjadikan Hu Yin-meng sebagai kekasih dalam impian.

Semua orang bertepuk tangan, tapi dalam hati kecilnya Hu Yin-meng justru lelah hidupnya dijadikan vas bunga, dan di tengah kegalauannya itu ia tidak menemukan masa depan, dan harus menghadapi sekian banyak pelamar yang mengejarnya seperti lalat.

Salah satu hal yang perlu disinggung adalah, teman akrab Hu Yin-meng yang paling dapat diandalkan adalah Kris Phillips (Fei Xiang) anak dari teman baik ibu Hu Yin-meng, Kris dan Hu Yin-meng sering bertukar pikiran, bicara dari hati ke hati, bahkan Kris akan membantunya menyingkirkan orang-orang yang mengganggu ketenangannya.

Boleh dibilang Fei Xiang dan Hu Yin-meng merupakan sahabat kental yang main bersama semasa kanak-kanak, rasa persahabatan mereka sangat mendalam, saling memahami, namun, karena terlalu akrab, lebih dari sekadar persahabatan. Sementara dibilang antar kekasih juga belum sepenuhnya matang, lalu menjadi teman seumur hidup yang saling memahami satu sama lain tanpa ikatan cinta.

Belum sempat memikirkan masa depan hidupnya di kemudian hari, Hu Yin-meng yang telah berusia 27 tahun kala itu bertemu dengan Li Ao yakni mantan suami satu-satunya dalam hidupnya. Li Ao adalah seorang penulis modern terkenal, selain itu juga seorang pemikir dan sejarawan, tidak hanya berani dan tajam dalam penulisan, tapi juga punya karakter yang independent.

Hu Yin-meng – Li Ao jatuh cinta pada pandangan pertama, ia mengagumi bakat Li Ao. Sementara Li Ao juga tertarik dengan pesona dan keanggunan Hu Yinmeng. Singkat cerita keduanya memutuskan untuk menikah, tanpa mempedulikan perbedaan usia 18 dan pertentangan keluarga, Hu Yin-Meng menuntaskan pernikahannya.

Pernikahan selalu tidak sesempurna seperti yang dibayangkan, tidak tahunya Li Ao punya kepribadian yang eksentrik, tak disangka suaminya tidak bisa menerima kekurangan isterinya sedikit pun. Suatu hari, ketika Li Ao buru-buru ingin ke toilet, langsung membuka pintu dan melihat istrinya tersiksa karena sembelit, membuat mukanya memerah, dan sejak saat itu Li Ao mulai muak melihat istrinya.

Hu Yin-meng pernah mengatakan, Li Ao hanya ingin menaklukkan wanita, ingin menjadikan barangnya menjadi sebuah piala kemenangan sendiri.

Setelah perjuangan yang menyakitkan, keduanya lalu memilih mengakhiri pernikahan yang hanya bertahan 3 bulan 22 hari. Namun, Li Ao menyalahkan Hu Yin-meng sebagai penyebab perceraian. Menuntun orang lain untuk membenci mantan istrinya.

Hu Yin-meng sendiri sebenarnya masih sedih dan tersiksa kenapa orang yang saling mencintai tidak bisa saling bersama seumur hidup, tapi tak disangka ia terus dilecehkan, dihina dan dipermalukan oleh mantan suaminya, Li Ao.

Hal yang paling klasik adalah dalam sebuah bukunya tertulis kata-kata, “Orang yang cantik tapi sembelit, tidak ada bedanya dengan orang biasa.”

Dalam salah satu acara TV Li Ao yang bertema “ada yang mau disampaikan Li Ao,” dimana lebih dari seratus episode itu selalu berisi kata-kata yang mempermalukan Hu Yin-meng, secara terbuka menunjukkan fotonya yang mempermalukan Hu Yin-meng, tanpa menyisakan rasa hormat sedikitpun.

Li Ao bahkan masih tidak puas dengan kepergian Hu Yin-meng. Hu Yin-meng telah meninggalkan cahaya terangnya dan telah dirasuki iblis.

Bahkan mertuanya yang tidak senang dengan pernikahan mereka juga tidak dilewatkan Li Ao, ia menunjukkan foto dan mengkritik mantan mertuanya yang galak menakutkan, perilakunya juga menjengkelkan.

Hu Yin-meng benar-benar bingung dengan laki-laki yang selalu menyerangnya ini apakah itu sosok suaminya yang pernah sangat dikagumi dan dicintainya. Ia tidak bisa keluar dari luka yang menyayat hatinya, dan memutuskan tidak akan pernah menikah lagi sampai akhir hayatnya.

Hu Yin-meng yang kini tinggal di Amerika Serikat terus menyadari kegetiran tanpa adanya tempat bernaung, masalah makanan yang sulit diadaptasinya itu membuatnya semakin kurus, tapi ia memaksa diri untuk terus membaca, terutama buku-buku tentang psikologi. Dalam proses menyimak buku yang dibacanya, dia mulai menerjemahkan dan memasukkan pemikiran barat dalam buku psikologi.

Ia menemukan  kepercayaan dirinya saat membaca, dan selama beberapa tahun ia telah menerjemahkan sejumlah besar buku psikologi Barat, sehingga membuat orang-orang dalam mengaguminya sebagai orang yang berbakat. Selain itu, Hu Yin-meng juga menulis otobiografinya, dan merekam perjalanan hidup pribadinya.

Li Ao, kini mulai menyesal kehilangan orang yang dicintai, saat ulang tahun Hu Yin-meng yang ke-50, Li Ao mengirim 50 bunga mawar. Dan secara pribadi ia menorehkan beberapa patah kata, “Jika ada seorang wanita yang baru, cantik dan terombang-ambing, menarik sekaligus samar-samar, santai dan anggun, juga sedih dan seksi, tidak bisa dimengerti dan dipahami, tentu tidak lain adalah Hu Yin-meng.”

Sayangnya, ketika mengenang dan memandang wanita anggun itu, entah dimana sudah keberadaan awan yang berarak.

Setelah bertahun-tahun, Hu Yin-meng sudah melepaskan cinta dan benci, ia bahkan tersenyum sambil mengatakan bahwa sudah bertahun-tahun Li Ao mantan suaminya itu masih juga belum bisa meletakkan, masih ada rasa cinta dan benci padanya.

Hu Yin-meng tidak lagi menjadikan aktris sebagai labelnya, juga tidak ada lagi sanjungan dan pujian padanya di Taiwan sebagai wanita tercantik masa itu, tapi memanggilnya seorang intelektual, penulis dan penerjemah.

Akhirnya Hu Yin-meng menyingkirkan beban yang disebabkan oleh penampilan fisik, kini ia hidup dengan semarak dirinya.

Sekarang, dia masih bersikeras untuk tidak menikah, tapi hidup bersama dengan asisten yang enam tahun lebih muda darinya, bersama-sama membesarkan putrinya, meskipun tidak lagi percaya pada detakan cinta, tapi ia tetap percaya masih ada kehangatan cinta.

Kini, Hu Yin-meng tela memasuki usia ke 64, meski telah memasuki masa-masa senja, tapi tidak menghentikan langkahnya untuk terus beraktivitas, dia sedang berjuang untuk membantu orang yang menderita karena siksaan depresi dan kecemasan, agar para penderita penyakit mental bisa segera memulihkan kesehatan mentalnya, kini hati Hu Yin-meng serasa lebih damai, dan menerima dengan ikhlas masa-masa senjanya.

Hu Yin-meng kini bisa bersyukur dan menikmati kebahagiaannya dengan membaca, menulis kaligrafi, menikmati teh, ceramah kuliah, dan hidupnya juga menjadi lebih sederhana.

Melepaskan cinta dan benci, Hu Yin-meng yang sepanjang hidupnya menggapai kebahagiaan itu meskipun sudah senja, tapi ia tetap terlihat cantik dan anggun di usianya yang ke 64 tahun. Meskipun paruh pertama perjalanan hidupnya itu disertai dengan lika-liku, tapi babak kedua dalam perjalanan hidupnya justru terkesan hangat, tenang dan damai. (joni/rmat)