Oleh: Chen Junchun

Untuk memanfaatkan limbah, mengurangi polusi dan meningkatkan pilihan akan bahan bangunan, Elijah Djan Mahasiswa Afrika Selatan  mengembangkan jenis batu bata yang dihasilkan dari limbah kertas.

Ia berharap bahwa batu bata yang yang ramah lingkungan dan hemat uang ini dapat segera melewati uji coba tes air, kebakaran dan lain-lain, dengan demikian menjadi produk komersial dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Djan (21) adalah seorang mahasiswa teknik industri. Pada saat berusia 11 tahun, ia telah mempunyai ide menggunakan kertas daur ulang untuk membuat bahan bangunan, dan memenangkan penghargaan dalam kompetisi sains nasional.

Dalam beberapa tahun terakhir, ia telah mendesain dan melakukan pengujian jenis batu bata ini, bahkan di halaman belakang rumahnya sendiri mencoba membuat sebidang dinding, akhirnya berhasil mengembangkan prototipe dari produk ini yang dinamakan Nubrix.

Elijah Djan menyatakan, ia terinspirasi sebagai anak seorang guru yang menonton sang ayah membakar buku pelajaran usang. Ia tahu bahwa perbuatan itu tidak ramah lingkungan, tapi ayahnya mengatakan, kecuali ada cara yang lebih baik untuk menggunakan limbah kertas ini, kalau tidak, akan tetap diperlakukan seperti itu.

Beberapa bulan kemudian, Djan menonton sebuah film dokumenter yang memberitakan kurangnya perumahan murah di Afrika Selatan, maka timbullah pikiran sekilasnya, kenapa tidak menggunakan kertas daur ulang untuk menciptakan bahan bangunan?

Ide itu memotivasinya pada 2006 untuk kali pertama membuat batu bata dengan kertas daur ulang.

Sekarang, setelah pengembangan Nubrix, ia harus membuatnya lulus tes anti air, tes tahan api, tes tahan panas, tes daya tahan dan tes kebisingan guna mendapatkan izin resmi untuk kemudian dikomersialisasikan serta diproduksi massal.

Djan pada awalnya tidak punya uang untuk melakukan serangkaian tes tersebut, tetapi ia memenangkan hadiah pertama dalam kontes inovasi di Afrika Selatan pada 2016, dan berahsil menggondol hadiah pertama dalam program inovasi senilai kurang lebih US$ 15.000 (200 juta rupiah), maka ia kini memiliki modal dan kesempatan untuk meningkatkan Nubrix, agar sesuai dengan standard komersial.

“Bagi saya, batu bata ini hanyalah awal. Pada akhirnya, saya berharap dapat menggunakan produk daur ulang untuk membuat aneka bahan bangunan yang berbeda,” kata Djan.

Menurut data statistik pemerintah Afrika Selatan, negara itu memproduksi 180 juta ton produk sampah pada tahun 2011, hanya kurang dari 10% yang berhasil didaur ulang. Itu sebabnya, upaya Djan dalam hal ini tidak hanya tepat waktu tapi kemungkinan juga tepat disaat dibutuhkan. (hui/whs/rmat)

Share
Tag: Kategori: SERBA SERBI

Video Popular