Hukum Alam Tidak Berjalan Mundur

492

Tadi siang saya ke bengkel sepeda motor. Kecuali servis rutin juga ada yang saya keluhkan secara khusus yaitu suara yang mengganggu kenyaman saya waktu motor saya kendarai di jalan yang banyak lubang. Tentu maksud saya adalah jalan yang rusak. Karena saya bukan ahli dalam hal memperbaiki sepeda motor tetapi ingin menikmati berkendaraan dengan motor yang sudah bukan baru lagi itu, tidak ada cara lain kecuali ke bengkel ahlinya.

Sementara saya menunggu giliran motor saya ditangani, saya berbicara dengan seseorang yang berkepentingan sama dengan saya. Kebanyakan orang punya naluri yang sama, yaitu mudah akrab ketika mempunyai kepentingan yang sama. Demikian juga saya dengan orang ini. Tanpa saling mengenal sebelumnya, bahkan tahu nama masing-masing sekalipun, kami sudah bisa ngobrol dengan santainya. Tentu tentang motor yang bermasalah.

Berikut sebagian percakapan kami yang punya kesan khusus:

Dia: “Padahal motor saya masih terhitung baru lho pak. 2015 lho”.

Saya: “Servisnya juga rajin?”

Dia: “Who… terasa kurang enak sedikit saja langsung saya bawa ke sini”.

Saya: “Jadi baikkah kemudian?”

Dia: “Sepertinya nggak mungkin kembali seperti semula”.

Saya: “Sekalipun semua sudah diganti?”

Dia: “Ya. Kecuali ganti STNK dan BPKB-nya…..”, dia tertawa dan saya mengerti maksudnya, yaitu beli sepeda motor baru.

**************

Mekanik: “Sudah pak (maksudnya perbaikan sudah selesai dilakukan), tapi tidak bisa kembali seperti baru, paling tidak lebih baik dari tadi lah…..”.

Dia: “Ya…… tidak apa-apa, saya mengerti,” kelihatannya dia seorang sosok yang bijak.

**************

Akhirnya sepeda motor saya selesai juga. Saya langsung pulang. Dari percakapan di bengkel tadi saat saya melewati jalan rusak yang harus saya lewati tanpa ada pilihan lain, saya ingat lagi bincang-bincang santai itu. Jalan ini entah berapa kali telah diperbaiki. Tetapi rasanya bukan semakin baik tetapi semakin parah. Mungkin hujaman deras hujan yang sering turun lebih sering dibandingkan pengaspalan jalan yang hanya beberapa tahun sekali.

Perjalanan saya terhenti karena ada iring-iringan pengantar jenazah yang berjalan kaki mengangkut keranda. Ekspresi mereka berbeda-beda. Ada yang bergurau, ada yang berbincang serius entah tentang apa, tetapi juga ada yang menangis sesegukan. Yang terakhir saya sebut ini pastilah keluarga si jenazah.

**************

Saya tidak mengerti, mengapa hari ini saya begitu sensitif pada beberapa hal yang saya temui. Sepeda motor yang tidak mungkin kembali seperti baru walaupun diperbaiki, jalan yang lagi-lagi rusak walaupun berulangkali diperbaiki, jenasah dan ibu yang menangis dengan anak di gendongannya.

Saya ingat konsep tentang alam semesta yang saya baca dalam buku tulisan Mr. Li Hongzhi yang berjudul Zhuan Falun: ‘terbentuk-bertahan-rusak-musnah’. Segala sesuatu akan musnah setelah tiba waktunya. Memperbaiki hanyalah sebuah upaya memperpanjang fase ‘bertahan’ menuju ke’musnah’an atau bagi manusia sebagai individu cuma memperpanjang masa ‘tua dan sakit’ sebelum ke’mati’annya. Itulah hukum alam yang tidak berjalan mundur.