Telepon pintar dan tablet terbukti berdampak negatif terhadap tubuh manusia. Memancarkan radiasi elektromagnetik yang pada kenyataannya berdampak pada otak sama seperti radiasi elektromagnetik yang dipancarkan microwave pada makanan. Bukan berarti ponsel akan memasak otak Anda dalam waktu dua menit, namun radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh dua telepon pintar dapat merebus telur dalam waktu 45 menit …

Karena berat badan anak dan bayi tidak begitu berat maka radiasi tidak begitu mempengaruhinya. Namun jangan mengambil risiko otak anak Anda terkena radiasi elektromagnetik.

1.Mengubah hubungan anak dengan orangtua.

Antara usia 0 tahun sampai 2 tahun, ukuran otak bayi adalah tiga kali lipat. Suara, sentuhan dan ajakan bermain orang tua membangun jalur di otak anak tersebut yang membantunya belajar ikatan emosional dengan orang lain.

Tetapi untuk anak yang menghabiskan terlalu banyak waktu berinteraksi dengan layar, akan terjadi sesuatu yang berbeda.

“Jalur saraf si anak berubah dan menjadi berbeda dengan anak yang normal, karena mempengaruhi konsentrasi, harga diri, dalam banyak kasus anak tersebut tidak memiliki hubungan pribadi yang mendalam,” kata Denise Daniels, seorang perawat.

2. “Kecanduan”

“Salah satu hal yang indah yang disodorkan oleh teknologi ini adalah Anda selalu dapat melakukan sesuatu yang baru yang hampir tiada batas, sehingga sangat sulit untuk berhenti menggunakannya,” kata Dr. Gary Small, seorang profesor ilmu kesehatan anak dan direktur Longevity Center UCLA dalam Bidang Neuroscience dan Perlaku Manusia di Institut Semel.

Telepon pintar dan tablet memungkinkan anak untuk mendapatkan apa yang diinginkannya hanya dengan menekan tombol sehingga tidak mengajarkannya untuk tidak bersikap secara berlebihan, mengendalikan rangsangan yang diterima, atau bagaimana memberi tantangan pada diri sendiri, sehingga si anak memiliki ciri-ciri kepribadian adiktif (kecanduan).

3. Memicu amukan

Jika seseorang pada usia berapa pun telah kecanduan, ia akan mengamuk jika Anda menghalangi kehendaknya.

Bukan ide yang bagus memberikan anak telepon pintar atau tablet untuk menenangkannya ketika ia sedang mengamuk.

“Jika perangkat ini menjadi metode utama untuk menenangkan dan mengalihkan perhatian si anak, akankah si anak dapat mengembangkan mekanisme mengatur dirinya sendiri?” tanya Dr. Jenny Radesky.

4. Menghambat tidur

Bukan rahasia jika meringkuk di tempat tidur sambil bermain telepon pintar, tablet, atau e-reader menjelang tidur malam akan mengakibatkan sulit tidur. Cahaya yang dipancarkan melalui layar perangkat tersebut menekan melatonin, si hormon tidur, dan menggeser siklus bangun-tidur tubuh yang alami.

“Tampaknya penggunaan perangkat ini menjelang tidur malam sungguh berdampak negatif terhadap tidur dan irama sirkadian,” kata Anne-Marie Chang, seorang ahli ilmu penyakit syaraf.

Diperkirakan bahwa 60 persen orang tua tidak mengawasi penggunaan teknologi anaknya; 75 persen anak diperbolehkan menggunakan teknologi ini di kamar tidurnya. Karena itu, 75 persen anak yang berusia 9 tahun sampai 10 tahun menderita kurang tidur sehingga mengalami penurunan akademik, menurut Boston College.

5. Mempengaruhi kemampuan belajar

Menurut peneliti, telepon pintar adalah berbahaya bagi kemampuan belajar seorang anak karena mengalihkan perhatiannya.

“Perangkat ini juga dapat menggantikan kegiatan yang menggunakan tangan yang penting untuk perkembangan keterampilan sensori-motor dan visual-motor, yang penting untuk pembelajaran serta penerapan matematika dan ilmu pengetahuan,” kata Jenny Radesky, MD, instruktur klinis di Ilmu Kesehatan Anak Bidang Perkembangan Perilaku di Universitas Boston.

Video dan game online juga membatasi kreativitas dan imajinasi anak serta memperlambat perkembangan motorik dan sensorik mata.

6. Menghambat anak untuk menunjukkan tindakannya

Sangat mudah untuk mengatakan sesuatu yang buruk tentang seseorang di belakangnya-namun tentu tidak begitu mudah untuk mengatakan keburukan seseorang langsung di hadapannya. Anda dapat melihat ekspresi wajah sakit hati dan merasakan penderitaannya, yang memaksa Anda merasa menyesal.

Tetapi jika Anda mengatakan keburukan seseorang secara online, Anda tidak dapat melihat hal-hal seperti intonasi suara, bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan bahkan mencium aroma yang dikeluarkan tubuh (selama interaksi tatap muka).

“Ini semua penting untuk membangun hubungan antar manusia. Namun semua ini lenyap sebagian besar akibat teknologi modern. Anak menghabiskan begitu banyak waktu berkomunikasi melalui teknologi yang tidak mengembangkan keterampilan dasar komunikasi yang telah digunakan oleh manusia sejak masa lampau. Komunikasi tidak hanya sekedar kata-kata,” kata psikolog Jim Taylor.

7. Meningkatkan kecenderungan penyakit mental

Karena komunikasi secara online lebih mudah diakhiri secara emosional, maka kini lebih banyak orang dipermalukan melalui internet. Banyak sekali gambar dan forum online yang menyebabkan seorang anak yang sedang masa pertumbuhan atau remaja merasa tidak nyaman dengan tubuhnya yang sedang tumbuh.

Menurut para ahli, terlalu banyak waktu yang dihabiskan dengan telepon pintar atau tablet telah menjadi faktor penyebab meningkatnya rata-rata depresi, kecemasan, gangguan pendekatan dengan orang lain, gangguan kurangnya perhatian, psikosis, dan perilaku anak yang bermasalah.

8. Menyebabkan obesitas

Kita sering diam saat menggunakan perangkat, jadi jika seorang anak kecanduan perangkat, maka ia tidak bergerak saat menggunakannya, sehingga aktivitas fisiknya terbatas, yang cenderung mengakibatkan peningkatan berat badan.

Menurut penelitian, 30 persen anak-anak yang diperbolehkan menggunakan perangkat di kamar tidurnya mengalami peningkatan angka kejadian obesitas.

Ketika seorang anak menderita obesitas, akan ada banyak masalah lain yang muncul. Tiga puluh persen anak penderita obesitas akan menderita diabetes, di mana penderita obesitas berisiko lebih tinggi untuk menderita stroke dan serangan jantung yang dini.

Beberapa ahli bahkan percaya bahwa anak-anak abad ke-21 adalah generasi pertama yang tidak akan lebih panjang umur daripada orang tuanya akibat menderita obesitas dan banyak menggunakan perangkat teknologi.

9. Menjadi agresif

Karena anak tidak dapat belajar empati akibat menggunakan perangkat secara berlebihan, anak merasa jauh lebih nyaman untuk berkomunikasi secara online, dan menjadi seorang yang suka mempermalukan orang lain melalui internet yang dianggap normal untuk sebagian besar anak.

Berbagai macam video game yang mengandung unsur kekerasan menumpulkan kepekaan anak terhadap kekerasan.

Kebiasaan agresi yang umum ini memicu anak berpikir bahwa perilaku kekerasan adalah cara yang normal untuk menangani dan memecahkan masalah.

10. Memicu kecemasan sosial

Belajar keterampilan sosial adalah penting untuk keberhasilan seorang anak secara keseluruhan. Jika anak gugup berinteraksi dengan orang lain, maka akan menghambat kemampuannya untuk mencapai yang terbaik yang sebenarnya sanggup ia lakukan.

“Teknologi harus membuat komunikasi menjadi lebih mudah pada saat yang tepat. Tetapi saat kita memiliki jalan untuk itu (ke bentuk komunikasi yang lebih langsung), kita tidak memanfaatkannya,” kata Dr. Kate Roberts, seorang psikolog sekolah yang berpusat di Boston.

Meskipun anak mungkin menolak, ada baiknya untuk mendorongnya untuk meletakkan telepon dan berinteraksi dengan keluarga dan anak seusianya sehingga ia dapat mengenali ekspresi wajah dan bahasa tubuh, belajar empati, dan merasa lebih nyaman di sekitar orang saat ia menjadi dewasa.
“Anak membutuhkan waktu untuk tatap muka,” kata Denise Daniels. (NTDTV/Vivi/Yant)

Share

Video Popular