Ada sejarah tradisi yang panjang di Tiongkok untuk menggunakan tanaman obat dalam menu masakan mereka. Kementerian Kesehatan Tiongkok memiliki daftar yang mencakup lebih dari 80 makanan yang dapat digunakan baik sebagai makanan maupun obat-obatan, lebih dari 110 herbal yang digunakan untuk kesehatan, dan 59 bahan terlarang dalam makanan untuk tujuan kesehatan.

Tahun lalu, Kementerian Kesehatan Tiongkok mengumumkan bahwa aweto, sejenis jamur langka yang diyakini memiliki fungsi pengisian, tidak dianjurkan untuk produk makanan biasa. Tetapi para ahli memperingatkan harus sangat berhati-hati ketika menggunakan bahan yang memiliki sifat obat yang kuat.

Minat masyarakat terhadap masakan obat telah memicu pertumbuhan restoran yang menawarkan menu makanan yang memiliki manfaat kesehatan, akan tetapi sering kali tanpa adanya bimbingan dari master koki yang berpengalaman, dan ini tentunya penuh risiko.

Semangkuk sup domba hangat yang diberi jahe dan rempah angelica Tiongkok, yang merupakan resep Tiongkok klasik diperuntukkan bagi orang yang merasa dingin dan lelah saat di musim gugur dan musim dingin. Herbal angelica Tiongkok adalah yang sering digunakan sebagai jamu tradisional. Daya pemanasan yang terkandung di dalamnya, digunakan untuk merangsang sirkulasi darah, sementara jahe dapat menghalau dingin, menghangatkan bagian dalam tubuh, dan merangsang keluarnya keringat. Daging domba memiliki panas, manfaat panas ini yang dapat mengisi ulang energi yang lemah.

Resep ini pertama kali diracik oleh Zhang Zhongjing, salah satu dokter pengobatan tradisional Tiongkok yang paling terkenal pada masa Dinasti Han Timur (25- 220 M). Sekitar 1.800 tahun kemudian, sup ini masih diresepkan selama musim dingin bagi orang yang memiliki jasmani lemah, terutama orang tua dan ibu yang baru melahirkan.

Contoh lain adalah ginseng, yang sangat populer tidak hanya di Tiongkok, tetapi juga di Korea dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, yang bermanfaat sebagai penguat energi harian. Ramuan berharga ini digunakan untuk mengisi Qi (bentuk awal eksistensi energi) dan menenangkan saraf orang yang memiliki kondisi tubuh lemah. Akan tetapi bagi orang yang memiliki Yin lemah dan Yang kuat, ginseng dapat menyebabkan rasa pusing, gembira yang berlebihan dan bahkan keranjingan.

Beberapa hal yang umum ketika menggunakan ramuan Tiongkok dalam makanan juga dapat memiliki sifat yang merugikan. Herbal Saffron (Crocus sativus), yang berkhasiat menyegarkan sirkulasi darah dan meningkatkan imunitas, dapat menyebabkan keguguran, pusing dan semangat yang berlebihan. Huang qi, atau akar milkvetch (Astragalus mongholicus), mengisi ulang energi tetapi bisa berbahaya bagi orang yang pernah mengalami pendarahan otak.

Mungkin tipe restoran seperti ini harus memiliki dokter PTT (Pengobatan Tradisional Tiongkok) sebagai instruktur dan koki yang berpengalaman dalam meracik makanan dan herbal yang dipersiapkan sebagai “hidangan obat”. Juga meminta mereka agar bahan-bahan yang digunakan dalam hidangan obat harus ditunjuk dalam daftar yang telah dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Tiongkok pada tahun 2002, dan bahwa kuantitas herbal yang digunakan tidak boleh melebihi dari yang ditentukan dalam Farmakope dari Republik Rakyat Tiongkok.

Du Zhong, atau kulit tanaman Eucommiaceae misalnya, yang dimasak sup bersama dengan ginjal babi berkhasiat untuk mengisi energi ginjal kaum pria. Ginseng, angelica dan umbi lily direbus bersama untuk mengisi energi, dan bermanfaat bagi paru-paru. Bahan umum lainnya yang digunakan sebagai makanan dan obat herbal, diantaranya termasuk jujube Tiongkok, biji teratai, buah medlar, lengkeng dan umbi gastrodia. Daun segar mint, basil, milkvetch dan bagian atas baical juga digunakan dalam masakan.

Jiao Mingyao, manajer umum restauran Tian Xia Yi Jia di Beijing, mengatakan bahwa ginseng telah dihapus dari bahan kuliner restoran, tapi aweto masih ada di beberapa menu. Jiao merekomendasikan makanan bergizi yang sesuai dengan musim, kondisi fisik individu dan lokasi. Dia mengatakan makanan yang meningkatkan energi di musim semi diantaranya termasuk kecambah dan hati ayam, daging babi dan domba untuk mengisi energi hati.

“Musim panas adalah saatnya untuk mengisi energi halus, dan menghilangkan panas dan kekeringan,” paparnya. “Adalah baik untuk mengonsumsi biji teratai, mint, chestnut air, daging burung dara, sapi dan bebek.”

Untuk musim gugur, ia menyarankan menggoreng umbi lily dengan gingko, dan membuat hidangan dengan jeruk mandarin dan pir. Di musim dingin, daging sapi dan domba, serta daging rusa semua penguat energi yang baik, paparnya lebih lanjut.

“Konsep saya pada makanan obat adalah tentang ilmu pengetahuan, memasak gizi,” ujar Jiao. “Harusnya hal ini menjadi fase lanjutan dari pengembangan bagi masakan Tionghoa, bukan hanya campuran sederhana obat herbal dan makanan saja.”

Herbal Tiongkok dan bahan obat harus dibagi menjadi kategori sifat obat yang ringan dan sifat obat yang kuat, yang seharusnya hanya diresepkan oleh dokter.

“Obat-obatan herbal yang dapat dicampur dengan bahan makanan untuk mengobati penyakit harus diserahkan kepada dokter untuk memutuskannya,” tambahnya. “Dikarenakan mereka juga termasuk bahan makanan, maka orang harus diingatkan efek sampingnya, tetapi tidak harus dilarang untuk mengonsumsinya.” (Epochtimes/Ajg/Yant)

Share

Video Popular