Nyonya Tua Ini Sangat Kasar Pada Menantu Perempuannya, Tapi Memintanya Merawatnya Setelah Menderita Kelumpuhan! Tak Disangka yang Tersakiti Akhirnya Justru Putranya Sendiri

447

Tak lama setelah nikah, Xiaoyun pun hamil, saat 40 hari kehamilannya, ia sudah merasakan reaksi kehamilannya.  Beberapa bulan pertama itu, ia selalu memuntahkan apapun yang dimakannya.

Tiga bulan pertama kehamilannya, badan Xiao Yun menurun tajam 10 kg, belakangan kemudian, ia bahkan mau mengandalkan infus untuk mempertahankan gizi, melindungi janinnya.

Ibu mertuanya telah berusia lebih dari 54 tahun, mengetahui reaksi kehamilannya yang begitu hebat, si mertua  bukan saja tidak merasa kasihan sedikitpun, bahkan ia merasa menantunya itu hanya pura-pura saja, sengaja dibikin-bikin.

Saat itu, kakak iparnya juga hamil, punya kondisi fisik yang baik, tidak begitu merasa mual semasa kehamilannya, karena itu mertuanya selalu memuji-muji putrinya di mana-mana, sedangkan Xiao Yun menantunya selalu diejek.

Di tengah kehamilannya itu, Xiao Yun juga kerap dilecehkan dengan kata-kata kasar, sehingga Xiao Yun pun kerap merasa jengkel sendiri, tapi karena mempertimbangkan kelak melahirkan masih harus mengandalkan mertua juga, sehingga Xiao Yun terpaksa menelan sendiri pahit getirnya.

Singkat cerita, Xiao Yun melahirkan seorang anak perempua cantik, Xiao Yun yang semula larut dalam kebahaginan itu buyar seketika karena ucapan mertuanya. Saya sudah tua, tidak bisa mengurusmu, lebih baik kau hubungi ibumu saja suruh ke sini mengurusmu semasa nifas!


Xiao yun menikah dari kampung halamannya yang jauh, menempuh jarak lebih dari dua ribu kilometer dari tempat tinggalnya sekarang, sementara ibunya cacat dan hanya memiliki satu lengan.

Tidak berada di sisi ibu dan merawatnya saja sudah menjadi anak tidak berbakti, jadi Xiao Yun tidak tega harus menyiksa ibunya seperti itu. Dan semasa nifas, Xiao Yun mengurusnya sendiri, untuk merawat kehidupan baru si kecil dalam perutnya.

Saat bayi Xiao yun berusia lebih dari dua bulan, kakak iparnya melahirkan seorang anak laki-laki. Mertuanya Xiao Yun sangat bahagia mengetahui hal itu, dan selalu memuji-muji putrinya hebat setiap kali bertemu dengan siapapun, bahkan si mertua pindah ke rumah kakak iparnya itu untuk membantu mengurus masa nifasnya pasca melahirkan.

Melihat perlakuan yang sangat jauh berbeda, benar-benar membuat hati Xiao Yun seketika menjadi dingin, belakangan suaminya menceritakan hal yang sebenarnya, bahwa mertuanya sengaja tidak mau membantu Xiao Yun semasa nifas karena ia melahirkan anak perempuan.

Sekembalinya mertua setelah selesai mengurus pasca persalinan kakak iparnya, Xiao Yun mengusulkan tinggal secara terpisah. Dia telah mengetahui akan karakter mertuanya, kalau memang sangat menyakitkan dirinya tinggal bersama mertua, jadi lebih baik masing-masing saja.

Dan kebetulan usulan Xiao Yun untuk tinggal secara terpisah itu sesuai dengan keinginan mertuanya. Sejak itu, selama beberapa tahun lamanya, mertuanya tidak pernah membuatkan satu baju pun untuk cucunya sendiri, apalagi membeli, sementara baju-baju yang dipakai anak-anak dari kakak iparnya itu semua dibuat oleh mertuanya.

Xiaoyun melihat semuanya itu, dan mustahil rasanya kalau Xiao yun tidak marah dan kesal, tapi ia hanya menantu dari luar daerah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sampai sekarang, Xiao yun masih mengingat dengan jelas, satu hal yang terjadi ketika itu.

Saat itu, suaminya sedang bekerja di luar untuk menambah penghasilan keluarga, sedangkan ia sendiri bercocok tanam di rumah sambil manjaga anak. Gandum ketika itu disimpan di rumah, dianginkan di halaman, ketika itu, ia sedang tidur siang, tiba-tiba dibangunkan oleh kilatan petir yang menggelegar .


Xiao Yun yang terkejut seketika berlari keluar, tampak hujan turun dengan deras,  Xiao Yun bergegas mengumpulkan gandumnya, tapi terlambat, nyaris dalam sekilas itu hujan lebat tumpah ruah membasahi bumi, semua gandum terendam dalam air hujan, namun, ketika ia menangis meratap, ia melihat mertuanya tertawa senang di sisi jendela.

Saat itu, dengan pedih Xiao Yun hanya bisa menahan air matanya. Dia bersumpah menghadap langit yang menggelegar dengan petirnya, seumur hidup ini, ia dan nyonya tua yang tak lain adalah mertuanya itu tak terdamaikan lagi selamanya.

Belakangan, Xiao yun dan suaminya ke kota, memulai usaha kecil-kecilan menjual sayuran, sementara mertuanya pindah ke rumah kakak iparnya, membantunya menjaga anak. Perlahan-lahan waktu pun bergulir, tak terasa 7, 8 tahun pun berlalu.

Tahun lalu, Xiaoyun dan suaminya membeli sebuah rumah minimalis secara angsur, meskipun harus bekerja keras untuk kehidupan sehari-hari, tapi ia puas,  ia juga tidak banyak ambisi, dan itu adalah kebahagiaan terbesarnya selama sekeluarga sehat sentosa.

Tapi kebahagiaan yang tenang ini buyar seketika, tahun setengah tahun lalu, mertuanya lumpuh. Kakak iparnya mengatakan, bahwa ia akan membawa ibunya ke kota, dan tinggal bersama dengan keluarga Xiao Yun.

Xiao Yun langsung meradang saat menerima telepon dari kakak iparnya, sudah bertahun-tahun tak pernah melihat kegusarannya seperti itu, suaranya terus bergetar. Dasar nyonya tua, mertuanya yang tak tahu diri itu, apa haknya mengusulkan permintaan tersebut.

Tapi suami Xiaoyun tetap saja menyambut kedatangan ibunya, pada saat pindah ketika itu, mertuanya mengatakan : Tidak baik juga kan kalau saya yang sudah lumpuh ini tinggal terus di rumah putri sendiri ! kan tidak baik juga kalau dilihat orang lain dan mencibir kalian tidak berbakti! Xiao Yun langsung membanting pintu dan masuk ke kamarnya setelah mendengar kata-kata mertuanya.

Sehari-hari suaminya menjaga dagangannya di pasar, sehingga sebagian besar waktu Xiao Yun selalu berada di rumah, sementara mengenai mertuanya, Xiao Yun selalu mengabaikan dan menganggapnya angin lalu.

Mendapat perlakuan menantunya seperti itu, mertuanya pun jadi kesal, setiap saat suaminya pulang, mertuanya langsung mengadukan hal itu kepada anaknya, sementara anaknya juga tahu betul dengan sikap ibunya dulu yang selalu menyiksanya (Xiao Yun), tapi dengan pertimbangan kelak tetap akan mengantar ibu juga ke peristirahatan terakhirnya, sehingga ia pun meminta Xiao Yun, isterinya agar memakluminya, dan rawat dengan baik mertuanya.

Suami Xiaoyun, selain harus membawa dagangannya ke pasar grosir, ia juga harus selalu memikirkan keadaan ibunya di rumah.

Lama kelamaan, membuatnya tertekan, lalu mendiskusikan hal itu dengan isterinya, berharap agar Xiao yun bisa turut membantu merawat ibunya. Melihat suaminya yang tertekan seperti itu, Xiao Yun pun tidak tega, tapi kekesalan Xiao Yun tertekan seketika begitu mengingat perlakuan mertuanya dulu, dan dia benar-benar tidak sanggup kalau disuruh membalas kejahatan (perlakuan mertuanya) dengan kebaikan.

Perlahan-lahan, keluarga kecil yang dulunya sangat bahagia ini, akhirnya selalu diisi dengan pertengkaran yang semakin hebat dari hari ke hari, hingga akhirnya pria (suami Xiao Yun) yang tak tahan dengan beban berat itu di luar dugaan mengancam isterinya, jika Xiao Yun tidak membantunya merawat ibu, maka lebih baik cerai saja.

Xiao Yun sendiri juga memiliki batas kesabaran, meskipun sadar apa yang dikatakan suaminya itu hanya emosi sesaat, tapi akhirnya Xioa Yun dengan teguh mengurus perceraian dengan suaminya. Malam itu, mertuanya kembali membuang kotoran di tempat tidur. Kini tinggal suaminya sendiri yang membereskan segalanya, saat itu sudah jam tiga pagi.

Mantan suaminya hanya istirahat dua jam di tempat tidur, dengan badan yang lelah ia bangun lagi mengantar sayuran ke pasar grosir, tapi tak lama kemudian terjadi kecelakaan lalu lintas ketika ia melewati lampu merah. Meskipun kecelakaan itu tidak sampai menewaskan korban, tapi luka yang dialami korban yang ditabraknya itu cukup parah, korban kehilangan sebelah kakinya, dan setelah didiskusikan, suami Xioa Yun harus mengganti kerugian itu sebesar 500,000 dolar, tapi suami Xiao Yun sama sekali tidak sanggup menggantinya dengan uang sebanyak itu.

Menghadapi keluarga yang berantakan , pria ini benar-benar lelah secara fisik dan mental. Hingga akhirnya ia memilih menghindar, dia menjual rumahnya, kemudian membawa ibunya ke panti jompo, sementara ia sendiri memilih masuk penjara.

Ada satu kebenaran yang sangat sederhana, tetapi banyak yang tidak memahaminya. Sebagai orang tua, jangan keterlaluan (sikap/perlakuan), anda pikir menantu anda telah merampas putra anda, sehingga selalu dengan sengaja bertentangan dengannya, padahal, tindakan apapun yang “sengaja” orang tua (mertua) lakukan (Ketidak-harmonisan hubungan antara mertua dan menantu seperti contoh di atas), akhirnya orang yang paling tersakiti itu tetap saja putra anda sendiri.

Memperlakukan dengan wajar dan baik menantu sendiri itu adalah wujud cinta kasih terbesar terhadap putra sendiri. Semoga para mertua di mana saja bisa memahami dan menyadari akan kebenaran ini. (Beauties.life/Jhon/asr)