JAKARTA – Survei yang digelar oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia masih menunjukkan terjadinya angka penyalahunaan narkoba di tingkat pelajar dan perguruan tinggi.

Survei ini dipublikasikan oleh BNN pada Februari 2017 dengan tema “Survei Penyalahgunaan Narkoba dan Peredaran Gelap Narkotika Pada Kelompok Pelajar dan Mahasiswa di 18 Provinsi Tahun 2016.”

Menurut dokumen BNN dalam situs resminya dilansir, Sabtu (4/3/2017) angka prevalensi penyalahgunaan narkoba diukur dengan merujuk pada 2 periode waktu, yaitu pernah pakai narkoba seumur hidupnya walaupun hanya satu kali (ever used). Periode kedua adalah setahun terakhir pakai (current users) yaitu mereka yang pernah pakai narkoba dalam satu tahun terakhir dari saat survei.

Data BNN menyebutkan, angka prevalensi penyalahgunaan narkoba cenderung semakin menurun dalam 10 tahun terakhir, baik untuk pernah pakai dan setahun pakai. Angka prevalensi pernah pakai menurun dari 8,1% (2006) menjadi 3,8% (2016). Jika pada tahun 2006 ada 8 dari 100 orang pelajar/mahasiswa yang pakai narkoba maka pada 2016 hanya ada 4 orang yang pakai narkoba.

Oleh karena itu, selama 1 dekade, telah berhasil dikurangi separuh pelajar/mahasiswa yang pernah pakai narkoba. Kecenderungan angka prevalensi dikalangan pelajar ditopang pula terjadinya penurunan pada kelompok lain, terutama di kelompok rumah tangga.

Angka prevalensi setahun terakhir juga cenderung turun dari 5.2% (2006) menjadi 1,9% (2016). Atau bisa dikatakan pada tahun 2006 mereka yang pakai narkoba dalam setahun terakhir (current users) ada 5 dari 100 pelajar/mahasiswa, tetapi saat ini hanya ada 2 orang saja (2016).

Dengan demikian, lebih dari separuh mereka yang pakai narkoba dalam setahun terakhir dapat dikurangi dalam 1 dekade terakhir. Di tahun 2016, dari mereka yang pernah pakai narkoba (3,8%), sekitar separuhnya masih mengkonsumsi narkoba dalam setahun terakhir (1,9%).

Angka prevalensi pernah pakai menurut lokasi studi di tingkat kabupaten/kota, terlihat jika pada tahun 2006 relatif tidak jauh berbeda besarannya (8,1%). Namun sejak tahun 2009 sampai 2016, angka prevalensi pernah pakai cenderung lebih tinggi di kota dibandingkan di kabupaten. Pola yang relatif sama juga terlihat pada angka prevalensi setahun pakai.

Hal menarik pada angka prevalensi setahun pakai di lokasi kabupaten cenderung turun dalam 4 kali survei dari 5,5% (2006) menjadi 1,6% (2016), tetapi tidak di Kota Laki-laki lebih berisiko pakai narkoba dibandingkan perempuan.

Rasio laki-laki dengan perempuan yang pernah pakai narkoba sekitar 4 berbanding 1, artinya diantara 4 laki-laki pengguna narkoba ada 1 perempuan yang pernah pakai narkoba, pola ini relatif tidak berubah dalam 1 dekade terakhir.

Angka prevalensi pernah pakai pada laki-laki 13,7% dan perempuan 3,3% (2006), sedangkan di tahun 2016 laki-laki 6,4% dan perempuan 1,6%. Angka prevalensi yang pernah pakai pada laki-laki cenderung menurun dari 13,7% (2006) menjadi 6,4% (2016) dalam 1 dekade terakhir. Demikian pula untuk yang pernah pakai setahun terakhir. Namun, pada kelompok perempuan kecenderungan penurunan angka prevalensi pernah dan setahun pakai narkoba mulai terlihat sejak tahun 2009 sampai 2016.

Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi angka prevalensi penyalahgunaan narkoba baik yang pernah pakai dan setahun pakai, kecuali tahun 2016. Dengan demikian, SMP memiliki angka prevalensi terendah, dan tertinggi adalah perguruan tinggi. Namun, ditahun 2016, angka prevalensi narkoba di tingkat SMA relatif tidak jauh berbeda dibandingkan perguruan tinggi.

Mereka yang pernah pakai narkoba relatif sama besar (4,3%) antara SMA dan perguruan tinggi, tetapi pada kelompok yang pakai narkoba setahun terakhir mereka yang di SMA (2,4%) lebih tinggi dibandingkan perguruan tinggi (1,8%) di tahun 2016.

Metodologi Survei

Survei oleh lembaga pimpinan Komjen Budi Waseso itu bekerjasama dengan lembaga UI dilakukan dengan metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif berupa pengumpulan data dalam bentuk angket terhadap pelajar/mahasiswa pada sekolah dan perguruaan tinggi yang terpilih.

Sedangkan metode kualitatif yakni pengumpulan data kepada beberapa pelajar dan stakeholder terpilih untuk menunjang kelengkapan data kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan melalui pengamatan lapangan, wawancara mendalam, dan Diskusi Kelompok Terarah (DKT) dengan sasaran informan yang memiliki kapasitas sesuai dengan kebutuhan studi.

Lokasi survei dilakukan di 18 provinsi dengan memilih 2 sampai 4 kota/kabupaten per provinsi. Provinsi di Jawa dan Bali dipilih secara acak sebanyak 4 kota/kabupaten. Jumlah responden tahun 2016 mencapai 33.135 responden yang tersebar di 18 provinsi di Indonesia. Jumlah responden tersebut lebih kecil dibandingkan survei tahun 2011, yang berjumlah 38.663 orang yang tercatat.

Responden umumnya tinggal bersama orangtuanya. Namun, terjadi penurunan proporsi dari 73% (2011) menjadi 62% (2016) mereka yang saat ini tinggal bersama orangtuanya. Mereka yang tinggal menumpang dengan orang lain, kontrak/kost, dan tinggal di asrama/mess mengalami peningkatan. Ini mengindikasikan semakin banyak yang tidak mendapatkan pengawasan dari orangtua, mereka berisiko lebih terpapar dengan peer group-nya. (asr)

Share

Video Popular