April 2016 lalu, gempa kuat menimpa Kumamoto, Jepang. Dua gempa kuat berkekuatan 7 pada skala Richter dan gempa susulan, membuat retak jalan-jalan setempat.

Selanjutnya, hujan deras yang terus menerus pada bulan Juni, letusan gunung berapi Aso, membuat kawasan bencana semakin buruk, sementara sebagian besar korban bencana tetap tinggal di dalam ruangan kayu seadanya.

Sampai pada tanggal 11 Agustus 2016, data yang dirilis Pemerintah Jepang menunjukkan, gempa Kumamoto menyebabkan 49 korban tewas di tempat, 1 hilang, dan satu-satunya korban hilang inilah aktor utama dari kisah berikut ini.

Korban hilang itu bernama Akira Yamato (transliterasi-red), berusia 22 tahun, adalah seorang mahasiswa semester IV di Kumamoto Gakuen University, Kumamoto, Jepang.

Akira yang ceria suka jalan-jalan seorang diri dengan mobil, juga kerap mengendarai mobilnya  membantu teman-temannya.

Setelah terjadinya gempa 14 April 2016, Akira yang tidak mengalami cedera, dimana setelah mendengar kabar keluarga temannya tertimpa bencana parah dan aliran air yang terputus itu, kemudian sengaja mengendarai mobilnya mengantar air ke rumah temannya pada malam hari 15 April 2016.

Pagi pada 16 April, ketika Akira dalam perjalanan pulang usai mengantar air, terjadilah gempa utama yang lebih kuat dari sebelumnya.

Ketika anggota keluarga dan teman-teman memastikan keselamatan Akira, informasi terkait sudah terputus.

Kuatnya gempa utama saat itu, diiringi dengan tanah longsor yang langsung mengakibatkan jembatan Aso runtuh secara total, dan kebetulan saat itu Akira sedang mengendarai mobilnya melewati Jembatan tersebut, dan naas bagi Akira, ia ikut jatuh ke sungai seiring dengan runtuhnya jembatan Aso.

Pemerintah setempat mengerahkan tim penyelamat, melakukan pencarian yang sulit yang sulit di sekitar hilir jembatan yang runtuh, selain tim penyelamat, anggota keluarga dan teman-teman Akira juga mengerahkan berbagai sumber daya untuk menemukan petunjuuk keberadaan Akira.

Usaha pencarian berlangsung sekitar dua minggu, namun, tidak ada kemajuan yang berarti, sementara itu, kawasan di Prefektur Kumamoto akan segera memasuki musim hujan, untuk mencegah tanah longsor dan bencana sekunder lainnya, polisi dan petugas pemadam kebakaran memutuskan untuk sementara menghentikan operasi pencarian.

Tapi orang tua Akira dan putra sulungnya tidak menyerah, setelah mengajukan cuti panjang dari kantor, mereka pun mulai melakukan pencarian sendiri sambil membawa teropong dan peralatan lainnya.

Hanya ada satu keyakinan dalam benak kedua orang Akira : Bisa secepatnya menemukan anaknya! Tidak peduli apakah hujan deras, atau terik mentari yang membakar, orang tua Akira akan terus mencari menyusuri sepanjang sungai.

Dalam upaya pencarian itu, mereka menemukan sepotong kain kecil, dan memastikan apakah kain itu pakaian anaknya ; Kemudian mereka juga menemukan sepotong pelat logam, dan menduga jangan-jangan itu adalah kepingan dari pelat logam mobil, mereka menelusuri inci demi inci sungai yang panjang itu.

Ibu Akira mengatakan : “Sebelum sepasang tangan ini memeluk Akira, saya tidak pernah akan menyerah.” Mereka bahkan meminta bantuan para pendaki, mereka turun dengan tali pengaman, menuju ke zona bahaya yang sulit dicapai itu untuk melakukan pencarian.

Setelah musim hujan, pada 23 Juli 2016, pemerintah Jepang memutuskan mengaktifkan kembali pencarian, membantu dua orang tua itu mencari anaknya, yang juga merupakan satu-satunya korban hilang dalam gempa Kumamoto.

Mungkin Tuhan juga tersentuh oleh kekuatan cinta ini, pada hari kedua digelarnya usaha pencarian itu, ditemukan sebuah mobil Akira terjepit di antara batu-batu besar.

Melihat itu, ibu Akira bergegas ke sana ingin segera menggali dan menemukan anaknya, tetapi batu-batu besar itu tidak bisa digerakkan sejengkalpun hanya dengan tangan kosong. Sang ibu yang tertekan itu terpaksa dengan meratap sedih berbicara dengan putranya : “kamu pasti kedinginan ya? Sabar ya nak, kita akan segera membawamu pulang?”, sang ibu meninggalkan pakaian dan ketel di sampingnya, serta bangau kertas yang telah disiapkan.

Mobil Akira terkubur di pesisir sungai dan terapit oleh batu-batu besar, sementara mesin besar yang dibutuhkan juga sulit diturunkan, sehingga upaya penggalian berlangsung dengan susah payah, hingga pada 11Agustus 2016, jasad Akira baru dibawa bisa ke atas berikut mobilnya.

Melihat jasad putranya yang dirindukan siang malam, ayah dan ibu Akira membungkuk-bungkukkan badannya,  mengucapkan terima kasih kepada tim penyelamat yang telah bekerja keras.

Rongsokan mobil Akira yang dikendarainya saat gempa, bentuknya sudah tak karuan tertindih oleh batu-batu besar, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya hantaman yang harus ditanggung!

Sejak bencana hingga 11 Agustus 2016, upaya pencarian tanpa henti selama hampir 4 bulan itu, ayah Akira akhirnya mewujudkan janji awalnya : Setelah hasil tes DNA keluar, akhirnya bisa membawa pulang anaknya ke rumah, dan saya pun merasa lega.”

Sementara Ibu Akira terus berkata kepada putranya : “ Selamat pulang kembali ke rumah nak, kamu pasti lelah ya, dan kamu pasti menderita.”

Berkat kegigihan cinta dan dalamnya kasih sayang orang tua Akira, akhirnya satu-satunya korban hilang akibat gempa Kumamoto berhasil kembali ke pangkuan keluarganya meski hanya berupa jasad. Dalam upacara pemakaman yang diselenggarakan dua minggu kemudian, lebih dari 500 orang dari seluruh Jepang secara khusus menghadiri upacara penghormatan tersebut.

Upaya pencarian yang gigih dilakukan orang tua Akira selama 4 bulan, dan keyakinan akan membawa pulang anaknya itu menyentuh hati seantero masyarakat Jepang setelah diberitakan media setempat.

“Terkadang, “orang yang hilang” karena suatu peristiwa itu jauh lebih kejam daripada “dipastikan meninggal”, karena ia terus menyiksa anggota keluarga yang menanggung siksaaan kerinduan terhadap kerabat yang tidak ditemukan.

Jika melihat kembali ke belakang, akan terlintas dalam benak kita dengan gempa dahsyat Jepang tahun 2011, masih ada lebih dari 2.500 korban hilang yang tidak ditemukan hingga detik ini di daerah bencana tersebut. Bahkan ada seorang suami yang terus mencari jasad isterinya dengan menyelami dasar laut selama bertahun-tahun lamanya, namun nihil. (Beauties/life/Erabaru.net/Jhon/asr)

Share

Video Popular