Mengurangi Kalori Dapat Memperlambat Penuaan

237
penuaan
Ilustrasi.

Telah banyak bermunculan industri bernilai triliunan rupiah guna menghasilkan produk yang melawan tanda-tanda penuaan, tetapi pelembab semacam itu hanya mampu mengatasi kulit luarnya saja. Penuaan terjadi pada tingkat yang lebih dalam, yakni pada tingkat sel, dan para ilmuwan telah menemukan bahwa makan dalam jumlah yang sedikit dapat memperlambat proses jaringan ini.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Molecular & Cellular Proteomics menawarkan sebuah pandangan tentang bagaimana mengurangi kalori berdampak terhadap penuaan dalam sel. Para peneliti menemukan bahwa ketika ribosom (pembuat protein sel) diperlambat, maka proses penuaan secara otomatis akan melambat juga. Melambatnya ribosom memang menurunkan produksinya, tetapi hal itu justru akan memberikan ribosom waktu ekstra untuk memperbaiki diri.

“Ribosom adalah mesin yang sangat kompleks, layaknya mobil Anda, dan secara berkala perlu perawatan untuk mengganti bagian-bagian yang paling cepat aus,” tutur profesor biokimia Brigham Young University, AS, yang juga seorang penulis senior, John Price. “Ketika ban aus, Anda tidak perlu membuang seluruh mobil dan membeli yang baru. Akan lebih murah untuk mengganti bannya saja.”

Jadi, apa yang paling dapat memperlambat produksi ribosom? Setidaknya untuk percobaan yang dilakukan pada tikus: mengurangi konsumsi kalori!

Price dan rekan-rekannya mengamati dua kelompok tikus. Satu kelompok memiliki akses tak terbatas ke makanan sementara yang lain dibatasi untuk mengonsumsi 35 persen lebih sedikit kalori, meskipun masih menerima semua nutrisi yang diperlukan untuk bertahan hidup.

“Ketika Anda membatasi konsumsi kalori, akan terjadi sebuah peningkatan linear dalam usia hidup,” kata Price. “Kami menyimpulkan bahwa pembatasan (kalori) menyebabkan perubahan biokimia nyata yang memperlambat laju penuaan.”

Tim peneliti Price memang bukanlah yang pertama kali menemukan hubungan antara pembatasan kalori dan umur panjang, tetapi merekalah yang pertama kali menunjukkan melambatnya sintesis protein dan mengakui peran ribosom dalam memfasilitasi perubahan-perubahan biokimia agar tetap awet muda.

“Tikus-tikus dengan pembatasan kalori lebih energik dan menderita penyakit yang lebih sedikit,” kata Price. “Dan itu bukan hanya karena mereka hidup lebih lama, tetapi karena mereka lebih baik dalam mempertahankan tubuh mereka, selain itu mereka juga muda lebih lama.”

Ribosom, layaknya mobil, amat mahal dan penting. Mereka menggunakan 10-20 persen dari total energi sel untuk membangun semua protein yang diperlukan bagi sel untuk beroperasi. Karena itu, tidak seharusnya menghancurkan seluruh ribosom ketika mulai terjadi kerusakan. Dengan memperbaiki bagian-bagian individu dari ribosom secara teratur memungkinkan ribosom untuk terus memproduksi protein berkualitas tinggi selama mereka masih layak pakai. Produksi ribosom dengan kualitas tinggi ini pada akhirnya akan membuat sel-sel dan seluruh tubuh berfungsi dengan baik.

Meskipun studi ini mengamati hubungan antara mengonsumsi lebih sedikit kalori dan meningkatkan umur, Price yakin bahwa orang tidak harus mulai menghitung kalori dan berharap untuk tetap selamanya muda. Pembatasan kalori belum diuji pada manusia sebagai strategi anti-penuaan, dan pesan penting di balik ini semua adalah adalah memahami pentingnya merawat tubuh kita.

“Makanan tidak hanya bahan yang akan dibakar, namun itu juga sinyal yang memberitahu tubuh dan sel bagaimana melakukan respon,” kata Price. “Kita mendapatkan mekanisme penuaan, yang dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih terdidik tentang apa yang kita makan,” pungkasnya. (Science Dault/Osc/Yant)