Nashtifan adalah sebuah kota yang terletak di Provinsi Khorasan di wilayah timur laut Iran, dimana terdapat kincir angin terkenal yang terbuat dari bahan alami. Kincir-kincir angin tersebut telah digunakan lebih dari 1000 tahun, sebagiannya sampai saat ini masih beroperasi penuh. Kecerdasan dan keawetan orang kuno dalam membuat peralatan, mungkin dapat terlihat sekilas dari kincir angin ini.

Daerah Nashtifan berangin kencang, terutama dari bulan September sampai Desember. Antara tahun 500-900 orang lokal Persia menciptakan kincir angin yang terbuat dari tanah liat, jerami dan balok kayu ini, dengan memanfaatkankekuatan angin guna menggiling biji-bijian dan menyedot air.

Kincir angin ini dibangun di atas bukit, selain dapat mengambil manfaat dari angin, juga dapat melindungi desa. Meskipun telah digunakan selama beberapa abad, tetapi sejauh ini beberapa kincir angin masih berfungsi dengan baik, bahkan masih dapat digunakan.

Fan kincir angin itu terbuat dari bahan kayu, dibawah tiupan kuat dari angin, fan akan berputar cepat, porosnya dapat menggerakkan batu yang terletak di bagian bawah dengan cepat, maka itu gandum dapat digiling menjadi tepung. Pertemuan antara poros dengan batu harus sangat presisi, jika hanya selisih 1 cm saja, maka batu penggiling tidak dapat berfungsi dengan baik.

Dibandingkan dengan penggunaan alat-alat modern yang menggunakan listrik atau bahan bakar, kincir angin yang melulu mengandalkan kekuatan alam ini, lebih cocok untuk penduduk setempat yang hidup dalam kemiskinan.

Kincir angin dari Nashtifan ini ada petugas yang menjaga dan merawatnya, tetapi saat ini tinggal dijaga oleh seorang tua yang bernama Ali Muhammad Etebari. Dalam sebuah wawancara dengan televisi channel National Geographic, kincir angin itu tidak seperti mobil yang menimbulkan polusi udara. Yang menggerakkan kincir angin adalah udara yang bersih dan segar, yakni udara yang dapat digunakan oleh setiap orang untuk bernapas dan mempertahankan kehidupan.

Sayangnya, anak dari Ali Muhammad Etebari dan warga setempat tidak ada yang memiliki keinginan untuk mengambil alih pekerjaannya, sedangkan dia pun tidak memiliki anak buah yang dapat belajar keahliannya, sehingga warisan sejarah ini tidak dapat diturunkan ke generasi berikutnya. (Epochtimes/Hui/Yant)

Share

Video Popular