Unjuk Rasa Puluhan Ribu Veteran PKT di Beijing

136
Selama 3 hari berturut-turut (22 – 24 Februari) puluhan ribu veteran yang berdatangan dari seluruh penjuru negeri berhasil mendobrak berlapis hambatan untuk berkumpul di Beijing dan mengajukan petisi di depan gedung Komite Disiplin Pusat. (Radio Free Asia)

Oleh: Zhang Dun

Menjelang Lianghui (Dua Kongres yakni: Kongres Rakyat Nasional dan Kongres Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok) dan Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok ke-19 (Kongres XIX), puluhan ribu veteran menjebol berlapis-lapis rintangan merangsek ke kota Beijing melakukan unjuk rasa, disinyalir memang ada yang sengaja meloloskan mereka masuk, untuk membuat kacau situasi pemerintahan Xi Jinping.

Menurut laporan Radio Free Asia dan Epoch Times, pada Rabu (22/2/2017)  – Jumat (24/2/2017) berturut-turut selama 3 hari, sebanyak puluhan ribu veteran dari berbagai penjuru daratan Tiongkok, telah berhasil menjebol berbagai rintangan. Sekali lagi berkumpul di Beijing dan melakukan unjuk rasa di depan kantor Komite Disiplin Pusat, menuntut pemerintah untuk menyelesaikan penempatan mereka sejak dipensiun.

Penuntutan perlindungan HAM para veteran kali ini berbeda dengan yang pernah mereka lakukan sebelumnya, pertama mereka lakukan disaat menjelang digelarnya sidang Lianghui. Pada saat Partai Komunis Tiongkok/ PKT dengan ketat menerapkan “pemeliharaan stabilitas”, semua pengunjuk rasa diusir keluar dari Beijing.

Namun puluhan ribu pengunjuk rasa dari para veteran malahan muncul beraksi. Perbedaan kedua adalah tempat yang dituju para veteran bukan ke gedung Komite Militer seperti yang dilakukan Oktober tahun lalu, kali ini yang dituju adalah kantor Komite Disiplin Pusat.

Dalam siaran “Focus Dialogue” VoA Suara Amerika Jumat lalu (24/2/2017) menyatakan,  di saat-saat sensitif menjelang diadakannya sidang Lianghui dan ‘Kongres XIX’, para veteran dapat berkumpul di kota Beijing yang sangat sensitif terhadap politik, tidak mengesampingkan merupakan sebuah tindakan pengacauan yang dilakukan oleh lawan politik penguasa Xi Jinping.

Yang Jianli, pendiri organisasi HAM Citizen Power Amerika mengatakan, aksi unjuk rasa veteran RRT bukanlah hal baru.

Setahun belakangan ini baru ada unjuk rasa secara besar-besaran masuk ke kota Beijing, setelah terjadi peristiwa pembantaian“ 4 Juni 1989” di Beijing yang diikuti ribuan orang berunjuk rasa. Selain Falun Gong pada 1999 berhasil melakukannya, hanya kelompok veteran saja yang bisa menembus masuk ke Beijing.

Seorang sarjana sejarah PKT Gao Wenqian berpendapat, begitu banyak veteran dapat berhasil berunjuk rasa di Beijing. Selain kedisiplinan mereka, namun dibawah kondisi “Sistem pemeliharaan stabilitas yang  telah menggunakan situs web”, tidak mungkin sedikit pun tidak mengalami pembocoran berita.

Tentu juga kemungkinan ada anasir yang sengaja melepasnya, dan mengarahkannya ke Beijing, melampiaskan ketidak-puasannya terhadap reformasi militer yang dilakukan oleh penguasa sekarang.

Penulis politik, analis situasi politik Chen Pokong mengatakan, puluhan ribu veteran melakukan unjuk rasa di kantor Komite Disiplin Pusat, merupakan sebuah aksi penuntutan terhadap kebobrokan pemerintah setempat, yang telah menyunat kesejahteraan para veteran.

Dibelakang itu mungkin adalah kesengajaan lawan politik pemerintahan Xi Jinping dalam partai maupun militer menciptakan kesulitan, dengan mendorong para veteran berulah, membuat penguasa Xi  keteteran dan mengacaukan terselenggaranya sidang Lianghui pada awal Maret dan “Kongres XIX” PKT yang akan diselengarakan akhir tahun ini.

Komentator independen Wang Kang mengulas, dalam setahun ini veteran RRT beberapa kali berkumpul di Beijing melakukan unjuk rasa, telah memberi tekanan cukup berat terhadap penguasa PKT.

Dianalisa dari pertarungan kekuasaan internal PKT, mungkin saja merupakan sebuah reaksi dari elit militer yang telah mengalami pembersihan oleh ketua Komisi Militer Xi Jinping.

Dipandang dari sudut penataan kembali kekuasaan pada Kongres XIX nanti, dapat dipandang pula sebagai fenomena pertarungan sengit kekuasaan tingkat tinggi dalam PKT.

Pengulas politik Shishi menanggapi ulasan-ulasan komentator tersebut diatas adalah masuk akal, karena setiap kali menjelang masa krusial, anasir-anasir PKT grup Jiang Zemin pasti akan melakukan tindakan pengacauan terhadap penguasa Xi Jinping, misalnya pada masa sidang Lianghui 2016, Zhang Chunxian, salah saorang anggota grup Jiang, penguasa di provinsi Xinjiang tiba-tiba melansir sebuah surat terbuka di situs web Wujie Xinwen-nya, menuntut Xi untuk melepaskan jabatan, dan mengancam Xi hati-hati “keamanan anda dan keluarga anda”.

Menjelang sidang Lianghui 1 Maret 2014, salah satu sarang grup Jiang di provinsi Yun Nan, terjadi peristiwa teror pembunuhan sadis di dalam stasiun kereta api kota Kunming, yang menggemparkan dalam dan luar negeri, peristiwa tersebut telah mengakibatkan 32 orang tewas, lebih dari 140 orang mengalami luka-luka.

Menurut laporan, serentetan peristiwa teror yang diciptakan oleh grup Jiang Zemin, bermaksud untuk membangkitkan ketidak-puasan dan kecaman terhadap pemerintah Xi, di dalam negeri maupun internasional, supaya Xi tidak berdaya lagi meneruskan pemerintahannya, jika Xi runtuh, maka grup Jiang akan dengan sendirinya naik panggung menggantikan Xi.

Shishi menyatakan, grup Jiang dari PKT selalu menguasai departemen Polisi Bersenjata, Keamanan Umum, Kepolisian dan Keamanan Negara. Kali ini disaat pemerintah dalam keadaan menjaga pemeliharaan kestabilan keamanan tingkat tinggi menjelang diselenggarakannya sidang-sidang PKT, kelompok besar veteran bisa muncul di Beijing untuk mengacaukan situasi, namun mereka tidak menyangka para veteran bukan ke kantor Komite Militer, melainkan mendatangi kantor Komite Disiplin Pusat.

Shishi beranggapan, menuju ke Komite Disiplin Pusat berarti meminta pemerintah Xi melakukan penyelidikan, siapa yang telah melakukan pemotongan tujangan para veteran, siapa yang mengeluarkan kebijakan-kebijakan terhadap veteran, semua ini tertuju pada mantan ketua Komite Militer Pusat Jiang Zemin dan para wakil ketuanya yang diangkat oleh Jiang sendiri, merekalah yang telah mengacaukan militer PKT.

“Jika yang memasukkan para veteran adalah anasir grup Jiang, ini ibaratnya mengangkat batu menjatuhkannya ke kaki sendiri, telah mendorong pemerintah meningkatkan pembersihan terhadap anasir-anasir grup Jiang, kesempatan untuk melakukan perhitungan kembali perbuatan-perbuatan Jiang Zemin dimasa lampau,” kata Shishi. (tys/whs/rmat)