Emosi, bunuh diri harus dibayar dengan harga mahal, emosi sesaat akan menghancurkan kehidupan seseorang. Itulah yang terjadi pada Andy, pada saat ia menarik pelatuk senjata dimulutnya, ia menyesal tapi semuanya sudah terlambat, emosi sesaat itu dibayar dengan harga mahal.

Desember 2006 lalu, Andy Sandness, pria 21 tahun asal Wyoming, Amerika Serikat ini akhirnya mengambil satu keputusan yang mengubah hidupnya.

Ketika itu, Andy menenggak sedikit minuman keras setelah pulang kerja, ia merasa tertekan, bahkan sesampainya di rumah ia mengakhiri hidupnya dengan memasukkan moncong senjata ke mulutnya hanya karena emosi sesaat.

Pada saat menarik pelatuknya ketika itu, ia menyesal, tapi semuanya sudah terlambat.

Andy segera dilarikan ke rumah sakit, dan empat setengah bulan kemudian setelah delapan kali operasi, nyawanya baru terselamatkan.

Tapi justru karena itu ia menghancurkan wajahnya, hidung dan dagunya juga hilang, bahkan sebelah matanya buta.

Dokter telah merekonstruksi wajahnya, meskipun jauh lebih baik, tapi tidak bisa memulihkan wajahnya ke bentuk semula.

Sejak itu ia pun tidak berani melihat wajahnya di cermin, tidak berani bertemu dengan teman-temannya, dan selalu menundukkan kepala saat keluar, takut orang-orang melihat wajahnya yang menyeramkan.

Setiap ada yang bertanya mengapa wajahnya berubah seperti itu, ia beralasan terluka saat berburu.

Kini ia telah merasakan akibat buruk dari emosinya, sangat mengharap dokter dapat membantunya, supaya bisa kembali ke roda kehidupan normal.

Pada 2012, dokter menghubunginya dan mengatakan, bahwa melalui operasi transplantasi wajah mungkin bisa membuatnya kembali normal. Andy sangat gembira mendengar pemberitahuan itu, dan pantang mundur meskipun tahu operasi seperti itu sangat berisiko, bahkan akan meninggalkan efek yang serius pasca opearsi.

Operasi penggantian wajah bukan saja menghadapi masalah etika, tetapi juga perlu memecahkan beberapa masalah dalam teknologi medis, jadi, Andy pun harus menunggu selama tiga tahun, dan kesempatan yang dinanti-nantikannya itu pun baru terwujud sekarang.

Juni 2016 lalu, seorang pria 21 tahun tewas bunuh diri, sebelum kematiannya ia pernah berjanji untuk menyumbangkan organnya.

Golongan darah dan data terkait lainnya dari korban tewas bunuh diri ini sangat cocok dengan Andy, asalkan mendapat persetujuan dari pihak keluarga almarhum, maka Andy bisa menjalani operasi transplantasi wajah.

Istri almarhum saat itu telah hamil delapan bulan, kematian suaminya membuatnya hancur dan tak ingin hidup lagi.

Awalnya ia tidak setuju menyumbangkan wajah suaminya, karena dia tidak ingin suatu hari nanti melihat sesosok asing yang mengenakan wajah suaminya saat jalan-jalan.

Tapi setelah memahami lebih lanjut terkait teknologi ini, akhirnya ia mengangguk setuju.

Rumah Sakit mengirim tim medis sebanyak 60 orang, menghabiskan waktu 56 jam untuk menyelesaikan transplantasi wajah Andy, kemudian operasi facelift (Tarik muka) dan kulit leher, serta merekonstruksi kerangka di sekitar mata.

Sekarang Andy kembali memiliki 5 organ yang membuatnya sangat gembira, bahkan perasaannya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Awalnya Andy pikir tidak pernah bisa lagi hidup seperti orang-orang normal pada umumnya, tapi sekarang mendapatkan kesempatan kedua dalam perjalanan hidupnya.

Dan sejak itu ia akan menghargai hidup, tidak akan lagi melakukan hal-hal konyol.

Andy dan almarhum yang menyumbangkan wajahnya itu sama-sama bunuh diri pada usia 21 tahun, hanya saja Andy masih berkesempatan mulai dari awal, sementara si almarhum telah pergi selamanya.

Hidup hanya sekali, jadi jangan sampai membuat pilihan yang salah hanya karena dorongan emosi sesaat. Mungkin kita akan membayar harga yang mahal karena kesalahan dari emosi sesaat kita. (Jhony/rp)

Share

Video Popular