BANDUNG – Pusat Vulkanologi dan Mitigas Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian ESDM menanggapi bencana gerakan tanah di Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, berdasarkan informasi dari BPBD Sumedang dan sejumlah pemberitaan media.

Berdasarkan data PVMBG yang dicantumkan dalam situs resminya, gerakan tanah terjadi di Jalan Raya Bandung-Cirebon ruas Kampung Cireki RT 02 RW 02 Desa Bugel, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Gerakan tanah terjadi pada Senin (6/3/2017) sekitar pukul 19.30 WIB. Kejadian serupa pernah terjadi pada Oktober 2016 dan telah ditinjau oleh Tim Tanggap Darurat Gerakan Tanah dalam laporan16 Oktober 2016 dengan nomor 2737/45/BGL.V/2016.

Menurut PVMGB, jenis gerakan tanah berupa nendatan pada badan jalan yang amblas sepanjang 10 m dengan kedalaman mencapai 0,5 hingga 1 meter. Akibatnya, akses Bandung-Cirebon terputus sehingga kendaraan harus dialihkan memutar lewat Jalan Tol Cipali.

Catatan PVMBG, secara umum lokasi gerakan tanah merupakan lereng perbukitan bergelombang dengan kemiringan agak terjal – terjal. Pada bagian badan jalan berupa dataran dan di bagian selatan jalan terdapat Sungai Cipeles. Lokasi bencana berada pada elevasi antara 50-75 meter di atas permukaan laut.

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Maret 2017 di Kabupaten Sumedang (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi bencana berada pada zona potensi gerakan tanah Menengah – Tinggi. Artinya daerah tersebut mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah.

Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

Menurut PVMBG, faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan: Kemiringan lereng yang terjal, curah hujan yang tinggi sebelum dan saat terjadi gerakan tanah dan adanya erosi terhadap tebing Sungai Cipeles yang berada di bawah badan jalan. Faktor lainnya adalah sifat fisik batulempung yang mengembang dan tanah pelapukan yang lunak dan mudah jenuh air dan penataan air permukaan yang kurang baik.

Atas kejadian itu bedasarkan laporan terdahulu, PVMBG merekomendasikan kepada masyarakat pengguna jalan agar selalu waspada pada musim hujan (terutama pada malam hari) karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.

Tak hanya itu, saluran air permukaan segera dibenahi dengan saluran yang kedap air dan harus dapat menampung debit air yang optimal supaya pada saat hujan lebat air tidak melimpas ke jalan dan tidak menjenuhi lereng.

Selain itu direkomendasikan, untuk penguatan lereng harus dibuat tiang pancang pada tebing sungai dan di tepi badan jalan, serta dilengkapi dengan tembok penahan dengan konstruksi beton bertulang yang menembus hingga batuan dasar supaya lereng stabil. Termasuk penanaman pepohonan yang berakar kuat dan dalam untuk menstabilkan lereng serta dibuat penahan erosi pada tebing sungai Cipeles. (asr)

Share

Video Popular