Mengapa RRT Tak Mampu Produksi Film “Hacksaw Ridge?”

333
“Perang Shangganling” sebenarnya adalah suatu ajang perang “yang tidak adil” dimana Korea Utara yang dibantu pasukan PKT, hendak mencaplok Korea Selatan. Oleh karena itu, perang tersebut merupakan tindakan melawan keadilan. Walaupun demikian, PKT tetap “mengirimkan satu juta lebih prajuritnya ke Korea Utara untuk menjadi umpan bedil dan meriam”. (internet)

Oleh: Yan Dan

Baru-baru ini seseorang dari Komisi Politik salah satu wilayah militer di provinsi Hubei menulis artikel berjudul “Seberapa Jauh Beda Shangganling dengan Hacksaw Ridge?” yang memicu pembicaraan hangat.

Artikel ini membangkitkan persamaan pandangan terhadap film epik militer AS “Hacksaw Ridge” yang telah menghebohkan seluruh bioskop di RRT dengan “latar belakang yang nyata, perspektif gambar yang unik, dan pemandangan yang menggugah dan telah berhasil merebut hati jutaan penonton.

Hal yang paling sukses dalam film perang ini adalah meningkatkan citra positif pasukan AS, dan secara trampil berhasil merebut hak suara dalam opini internasional.

Tak sulit didapati, yang dimaksud anggota Komisi Politik soal “Shangganling” itu bukanlah film, melainkan sebuah pertempuran yang pernah terjadi.

Tapi sebenarnya, pada 1950-an abad lalu, seorang “sutradara merah” yang mendukung Partai Komunis Tiongkok/ PKT pernah memfilmkannya dengan judul “Shangganling”.

Begitu ditayangkan, walaupun “Shangganling” juga sempat mempengaruhi satu generasi di RRT, tapi tetap tidak mampu “menaklukkan dunia”.

Menyaksikan film AS “Hacksaw Ridge” ini, banyak orang pun berniat menelusuri, mengapa film “Shangganling” hasil karya PKT itu tidak mampu menaklukkan dunia? Apakah benar karena teknik yang kurang kompeten dan performan yang tidak sempurna?

Sebenarnya bagi orang yang memahami kisah di balik film “Hacksaw Ridge” mungkin tak akan sulit merasakan bahwa metode yang digunakan di dalam film pada akhirnya ingin mencapai satu tujuan, yakni mengembalikan fakta sejarah yang sesungguhnya.

Seperti untuk membuat pemandangan “darah menggenang ibarat lautan” di dalam peperangan itu, sutradara telah menggunakan banyak bukti riset, lalu merancang latar pengambilan adegan yang menyerupai kondisi pada saat itu. Juga seperti menampakkan pemandangan ibarat neraka bumi di Hacksaw Ridge yang begitu mengerikan.

Sutradara menghabiskan dana USD 50 juta (669 miliar rupiah) untuk meledakkan sebuah pertanian luas di luar kota Sydney, Australia, guna menciptakan pemandangan yang mirip akan ajang perang pada saat itu.

Jika dikatakan semua metode ini hanya sebatas memperlihatkan efek visual yang kontras, maka, yang benar-benar menyentuh sanubari penonton dan menggugah sisi kejiwaan mereka begitu kuat, bukanlah senjata yang canggih, melainkan sosok prajurit yang hanya membawa morfin (pereda sakit), kantung darah dan perban, bukan aksi membunuh, melainkan sosok agung penyelamat jiwa di tengah hujan tembakan.

Yang benar-benar menyentuh sanubari penonton dan menggugah sisi kejiwaan mereka begitu kuat, bukanlah senjata yang canggih, melainkan sosok prajurit dalam film “Hacksaw Ridge”, yang hanya membawa morfin (pereda sakit), kantung darah dan perban, bukan aksi membunuh, melainkan sosok agung penyelamat jiwa di tengah hujan tembakan. (internet)

Sosok ini tak hanya diperlihatkan pada peran di film ini, yang lebih penting lagi adalah, kisah seputar peran ini juga benar-benar eksis.

Di samping itu, juga ada sebuah plot nyata yang cukup mengharukan hati namun belum ditampilkan di dalam film.

Seperti setelah pemeran utama pria menyelamatkan 75 orang, meskipun kakinya cedera akibat ledakan granat dan 17 serpihan granat menembus kakinya, tapi ia tidak segera berteriak minta tolong, melainkan menunggu selama 5 jam di lokasi, sampai rekan timnya mendapati dirinya terluka, baru membawanya pergi dengan ditandu.

Juga seperti dalam perjalanan pulang, ia mendapati ada seorang serdadu yang luka parah. Ia segera turun dari tandunya dan membalut luka prajurit itu, lalu membiarkan prajurit itu menggunakan tandunya.

Saat menunggu pertolongan berikutnya, ia justru tertembak oleh seorang penembak jitu Jepang dan peluru itu menghancurkan lengan kirinya.

Bisa dilihat, bagaimana “Hacksaw Ridge” mampu menyusup dan menyentuh hingga ke sanubari penonton, kuncinya terletak pada materi yang nyata dan bagaimana sikap film ini mengembalikan fakta ini, dan melalui pribadi yang nyata menampilkan kekuatan kepercayaan spiritual yang agung.

Dibandingkan dengan film “Shangganling” hasil besutan sutradara PKT yang semu dan membesar-besarkan bahkan mendistrosi fakta sejarah perang. Di samping mempopulerkan semangat tertentu, juga hanya semacam eksistensi yang semu, besar tapi hampa.

Selain itu, kepalsuan seperti ini juga dibangun di atas pondasi “memberi label” pada musuh. Berbeda dengan “agresor Amerika”, di film ini yang bermaksud merebut Shangganling (Bukit Shan Gang), dengan senjata mendapatkan apa yang tidak bisa diperoleh di meja perundingan adalah dua hal yang sangat berbeda, perang tersebut merupakan penipuan atas perang Baimashan.

Amerika melakukan Perang Shangganling, adalah agar bisa mengurangi tekanan pada posisi strategis pertahanan di Baimashan.

Bagi yang memahami sejarah peperangan ini mengetahui, bahwa “Perang Shangganling” sebenarnya adalah suatu ajang perang “yang tidak adil” dimana Korea Utara hendak mencaplok Korea Selatan.

Oleh karena itu, PKT yang waktu itu “membantu Korut” juga merupakan tindakan melawan keadilan. Walaupun demikian, PKT tetap mengirimkan satu juta lebih prajuritnya ke Korea Utara untuk menjadi umpan bedil dan meriam.

Dalam perang pencaplokan yang dikobarkan Korut ini “pasukan RRT yang ikut bertempur mencapai 3 juta orang, dan hampir 200.000 orang cedera/cacat”.

Selain menjadi pengorbanan yang sia-sia, pada akhirnya kalah perang  dan PKT tidak hanya kehilangan prajurit dan perwiranya, bahkan juga dipaksa menandatangani kesepakatan gencatan senjata, dan sama sekali tidak mendapat keuntungan barang secuil pun.

Pasukan PKT dan tantara rakyat Korut tidak hanya diusir kembali ke belakang garis “damarkasi tiga delapan”, wilayah Korut bahkan juga menyusut sebanyak 1.500 mil persegi dibandingkan sebelum perang, dan tanah yang hilang itu adalah wilayah yang kaya akan gas alam.

Jika demikian, keseluruhan fakta sejarah sejak awal hingga akhir tidak ada sedikit pun yang patut dipuji dan dihormati. Akan tetapi, walaupun demikian, jika pembuatan film “Shangganling” dapat mengembalikan pemandangan dan kondisi sesungguhnya saat terjadi perang ketidak-adilan ini, dan membawakan pesan dan renungan bagi penontonnya, mungkin akan bisa menimbulkan efek tertentu yang diharapkan.

Namun dilihat dari “latar belakang merah/komunis” sutradaranya, karya seperti itu tidak akan mungkin bisa tercipta, juga tidak akan mungkin bisa ditolerir oleh PKT.

Oleh karena itu, tidak mampunya RRT membuat film seperti “Hacksaw Ridge” pada dasarnya bukan karena masalah cara atau teknik, melainkan karena fakta sejarah yang sesungguhnya, dan terkait dengan pemelencengan sejarah di bawah sistem pemerintahan PKT.

Memang pada semua karya seni pasti memiliki unsur hiperbola, atau membesarkan keadaan, namun latar belakang sejarah yang ada tidak bisa bertolak belakang dengan fakta yang ada.

Hal yang lebih penting lagi adalah, begitu sutradara menyatakan bahwa karyanya mengembalikan lagi sejarah, maka penonton akan semakin tidak bisa mentolerir manipulasi dan rekayasa apa pun.

Jika sebuah film pada akhirnya hanya menyisakan kesan membohongi dan menipu pada penontonnya, maka pasti akan menuai cibiran, dan juga cercaan. Kalau sudah demikian, hak berbicara apa lagi yang perlu diperjuangkan? (sud/whs/rmat)