Menurut Deloitte & Touche: Indonesia Akan Menjadi Pabrik Dunia Yang Menggantikan RRT

206
Gelombang kebangkrutan pabrik-pabrik di zona segitiga Zhuhai silih berganti, pemandangan lama sebagai “pabrik dunia” tak lagi eksis. (Getty Images)

Oleh: Liu Yi

Kantor akuntan publik terkenal dunia yakni Deloitte & Touche beberapa hari lalu menyatakan bahwa Malaysia, Indonesia, Thailand, India dan Vietnam, akan menggeser posisi RRT sebagai pabrik dunia dalam lima tahun mendatang. Julukan bagi kelima negara tersebut dengan abjad depan nama masing-masing negara disebut sebagai “MITI-V”.

Lima Negara Akan Menjadi Pabrik Dunia yang Baru

Menurut surat kabar “Economic Daily” Hongkong   22 Februari lalu, salah satu dari empat kantor akuntan publik paling terkenal dunia yakni Deloitte & Touche LLP beberapa hari lalu melakukan survey terhadap CEO perusahaan.

Hasilnya menunjukkan bahwa dalam lima tahun mendatang Malaysia, Indonesia, Thailand, India, dan Vietnam akan menjadi negara ekonomi terbesar dengan biaya produksi rendah yang akan memproduksi komoditas dagang padat karya seperti busana, mainan, produk tenun, produk elektronik konsumen dasar dan lain sebagainya. Kelima negara tersebut akan menjadi pabrik dunia yang baru.

Berita menyebutkan, kelima negara tersebut memiliki kondisi yang tidak sama, badan ekonomi yang berbeda ini masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan yang unik, akan tetapi India akan mengungguli lawan-lawannya.

India berpotensi untuk menjadi aikon produsen berbiaya produksi rendah. September tahun lalu Huawei telah mengumumkan akan memproduksi 3 juta unit ponsel pintar setiap tahunnya di India, sedangkan Foxconn akan menginvestasikan USD 10 milyar (133,7 triliun rupiah) untuk membangun pabrik pembuat iPhone.

Keunggulan India yang unik adalah kombinasi antara tenaga kerja berteknik tinggi dan juga rendah, serta memiliki pasar raksasa dengan 1,2 milyar jiwa konsumen. Meskipun masih terdapat banyak kaum miskin, namun pendapatan mereka terus meningkat.

India memiliki penduduk berpendidikan layak lulusan perguruan tinggi dalam jumlah besar, yang bisa memenuhi kebutuhan tenaga kerja seperti insinyur produksi, desainer dan pengawas. Hal ini relatif membuat India sangat unggul dibandingkan dengan negara MITI-V lainnya.

Carlo Bonura selaku penanggung jawab perusahaan konsultan risiko politik Oxford Analytica wilayah Asia Tenggara berpendapat, Thailand dan Malaysia lebih memfokuskan diri pada industry berteknologi menengah dan tinggi, dan bukan sebagai pusat produksi berbiaya rendah.

Thailand memiliki industri otomotif, elektronik, pangan, dan kimia yang besar. Sementara Malaysia memiliki industri kimia, mesin, dan pengolahan karet. Sedangkan Vietnam memiliki keunggulan terbesar yakni biaya tenaga kerja yang rendah.

Pamor RRT Sebagai Pabrik Dunia Telah Sirna

Beberapa tahun terakhir, seiring dengan terus menurunnya investasi asing ke RRT dan terus hengkangnya pabrik ke luar dari RRT, pamor negeri tirai bambu sebagai pabrik dunia pun telah sirna.

Januari 2017 lalu, terungkap bahwa perusahaan teknologi AS yakni Oracle melakukan PHK terhadap 200 orang karyawan risetnya di Beijing, mereka diminta untuk mengundurkan diri sebelum tanggal 31 Maret 2017.

9 Januari 2017, McDonald’s telah menjual hak franchise-nya di RRT dan Hongkong kepada CITIC Group dan Carlyle seharga HKD 16,1 milyar.

7 Januari 2017, produsen harddisk terbesar dunia yakni Seagate mengumumkan akan menutup pabriknya di Suzhou, dan mem-PHK sekitar 2000 orang karyawan.

Awal November 2016, Marks & Spencer mengumumkan akan menutup 53 outlet-nya di seluruh dunia dan mem-PHK sekitar 2100 orang. Dan total 10 outlet yang ada di RRT ditutup semuanya.

Awal September 2016, Citibank telah menjual seluruh saham yang dimilikinya atas GF Bank (Guangdong Development Bank) kepada China Life Insurance senilai RMB 19,7 milyar. Satu dekade lalu, Citibank membeli 20% saham GF Bank seharga USD 620 juta.

Akhir Mei 2016, produsen lampu terbesar dunia Philip mengumumkan menutup perusahaannya di Shenzhen dan mem-PHK seluruh karyawannya.

Februari 2016, Nokia mengumumkan menutup pabriknya di Jinqiao, Shanghai, setahun sebelumnya Nokia juga telah menutup empat pabriknya di RRT.

Menurut berita “Gold Online” 23 Februari lalu, data statistik nasional Partai Komunis Tiongkok/PKT menunjukkan bahwa investasi asing berupa asset tetap tahun 2016 di RRT hanya sebesar USD 121,2 milyar atau turun sebesar 62,94% hanya dalam lima tahun dibandingkan pada 2011 yakni sebesar USD 327 milyar.

Di samping itu menurut data yang dirilis Departemen Perdagangan PKT pada 16 Februari lalu menunjukkan bahwa Januari lalu investasi asing yang direalisasikan turun 14,73% atau hanya sekitar USD 12 milyar saja.

Biaya Tinggi dan Lingkungan Tak Bersahabat Faktor Utama Hengkangnya Investasi

Hengkangnya banyak perusahaan asing dari RRT terutama adalah karena meningkatnya beban biaya lahan dan upah buruh, membuat keuntungan perusahaan menurun.

Menurut Nikkei Chinese Network tanggal 21 Februari lalu, upah pekerja di RRT terus meningkat dengan kecepatan 10% setiap tahunnya, sedangkan perusahaan sepatu Asahi Shoes Factory mengatakan, “Di RRT, upah pekerja dalam 10 tahun terakhir sudah melonjak hingga 7 kali lipat.”

Dan kini biaya produksi di RRT hanya 4% lebih rendah jika dibandingkan dengan AS.

Kedua, lingkungan investasi di RRT sudah tidak lagi bersahabat. America Chamber of Commerce in China melakukan survey 18 Januari lalu yang menunjukkan, lebih dari 80% anggotanya di RRT mengatakan bahwa sekarang perusahaan asing sudah tidak begitu disambut baik lagi seperti dulu, dan sekitar seperempat perusahaan berencana untuk keluar dari RRT.

Sementara EU Chamber of Commerce in China juga merilis laporan yang menunjukkan: proses hukum PKT terhadap perusahaan asing sangat tidak transparan. Apalagi menghadapi sensor internet, tidak adanya jaminan hukum, hambatan pasar dan berbagai halangan lainnya, membuat perusahaan Eropa dan Amerika kehilangan kepercayaannya terhadap pasar Tiongkok.

Selain itu, PKT sangat lemah dalam hal melindungi hak cipta intelektual, kian sengitnya persaingan usaha dan lain-lain juga penyebab hengkangnya perusahaan asing.

Di saat perusahaan asing hengkang membawa pergi modalnya, juga berarti hilangnya lapangan kerja.

Akhir Desember 2016, Departemen Perdagangan PKT mempublikasikan “Laporan Investasi Asing di RRT” menunjukkan bahwa menurut perkiraan, jumlah lapangan kerja yang diserap oleh seluruh perusahaan investasi asing mencapai lebih dari 45 juta orang, atau setara lebih dari 10% rasio lapangan kerja perkotaan di RRT.

Selain itu, perusahaan investasi asing juga secara tidak langsung menciptakan pengolahan produk terkait, layanan, serta pekerjaan terkait lainnya. Seiring dengan terus hengkangnya investasi asing, tingkat pengangguran di RRT pun terus meningkat. (sud/whs/rmat)