Selain Kamera Wartawan BBC, Apa Lagi yang Dihancurkan?

178
Reporter BBC John Sudworth ketika dikeroyok preman desa yang disewa oleh aparat hanya lantaran hendak mewawancarai seorang warga di provinsi Hunan yang akan didampinginya mengajukan petisi menuju Beijing. Semua peralatan kamera mereka dihancurkan. Setelah dipaksa menandatangani “surat pengakuan kesalahan” baru boleh meninggalkan lokasi. (internet)

Oleh: Cheng Xiaorong

Melihat berita baru-baru ini tentang “menjaga stabilitas”, kata awalan “di…” sungguh luar biasa! Wartawan asing “di-serang”, tokoh HAM “di-wisatakan (dipaksa harus ke luar kota untuk jangka waktu yang ditentukan penguasa. Red.)”, warga petisi “di-hadang dan di-tahan kota”, pengacara “di-wawancara, di-buat mengaku”, banyak pesan QQ (sejenis yahoo di RRT)“di-blokir”.

Di tengah kepasifan, kebebasan dan harga diri telah pudar; ketidakberdayaan dan kemarahan, adalah sikon kehidupan rakyat yang sesungguhnya.

Tahun ini sebelum “Lianghui (Dua Kongres Partai Komunis Tiongkok/PKT yang diadakan bersamaan: Kongres Rakyat Nasional dan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok, yang tahun ini diadakan pada 5 Maret)”, PKT telah memperbesar kekuatan “pemeliharaan stabilitas”, melakukan pengetatan keamanan meningkat, pemblokiran internet semakin ketat dan strategi pengawasan ekstra ketat terhadap warga yang mengajukan petisi ke Beijing.

Untuk kongres “Lianghui” tahunan, rakyat juga tidak berharap banyak. Tapi karena kongres mengakibatkan banyak ketidaknyamanan, rasa tidak senang, tidak puas, dilecehkan bahkan amarah, yang ironisnya benar-benar terjadi pada rakyat dan memukul hati rakyat.

2 Maret 2017, reporter Reuters Philip Wen memberitakan dari Beijing, dengan mengumpulkan kesulitan para warga yang mengajukan petisi.

Philip menuliskan, “Ini adalah permainan menyedihkan kucing menangkap tikus, yang selalu terulang dari tahun ke tahun. Tapi selama periode Lianghui yang sensitif ini, permainan seperti ini semakin lebih sengit.”

Artikel itu khususnya mengungkap pengalaman warga desa Duolun di Mongolia Dalam bernama Wang Fengyun. Dia sudah Sembilan kali ke Beijing untuk menuntut keadilan karena pemerintah daerah memaksa untuk mengambil alih tanahnya.

Akan tetapi pemerintah Duolun justru menangkap dan menuntut Wang Fengyun, bersama suami dan ayahnya mereka dituding “memprovokasi keonaran”. Walhasil, Wang Fengyun pun menjadi terdakwa.

Di pengadilan, pihak pemerintah daerah menunjukkan bukti, yang menyatakan selama lima tahun demi bisa “membujuk” Wang Fengyun agar tidak mengajukan petisi mereka telah menghabiskan biaya sebesar RMB 335.000 (647 juta rupiah) yang di dalamnya termasuk biaya lembur pengawasan terhadap Wang, biaya “keamanan ekstra”, dan uang makan 10 orang staf.

Dokumen itu cukup untuk membuktikan bahwa tindakan Wang Fengyun itu “sangat berbahaya”. Di bulan ini, kasus Wang Fengyun akan disidang. Jika divonis bersalah, maka Wang dan keluarganya terancam dipenjara selama 5 tahun.

3 Maret lalu, reporter BBC bernama John Sudworth merilis artikel yang mengungkap dirinya beserta timnya diserang secara anarkis ketika melakukan liputan di provinsi Hunan.

Sudworth mengatakan, “Ada sekelompok orang menghadang di jalan menuju ke rumah seseorang yang akan diwawancara. Beberapa menit kemudian, mereka menyerang kami dengan menghancurkan semua kamera yang kami bawa. Setelah meninggalkan desa itu, sekitar 20 orang warga desa yang anarkis mengejar dan mengepung kendaraan kami. Kemudian datanglah sejumlah polisi berpakaian seragam dan dua orang pejabat urusan luar.”

Di tengah ancaman bakal terjadi tindakan anarkis, Sudworth dipaksa untuk menghapus semua hasil rekamannya, dan menandatangani “surat pengakuan kesalahan” baru boleh meninggalkan lokasi kejadian.

Sudworth mengatakan, mereka menemui seorang warga yang mengajukan petisi yang bernama Yang Linghua.

Tiga tahun silam, reporter BBC pernah mewawancara kakak dari Yang Linghua yang bernama Yang Qinghua, waktu itu dia dalam perjalanan ke Beijing untuk mengajukan petisi.

Ketidakadilan yang dialami oleh keluarga Yang adalah lahan milik mereka telah dicaplok, dan ayah mereka dianiaya sampai tewas saat terjadi konflik.

Saat ini Yang Qinghua dan ibunya telah dikenakan tahanan rumah secara ilegal. Kali ini, repoter BBC berencana untuk menyertai Yang Linghua pergi ke Beijing mengajukan petisi, tak disangka mereka dihadang, setelah itu reporter pun kehilangan kontak dengan Yang Linghua dan keluarganya.

Sudworth menuliskan, “Kami telah mewawancarai pejabat pemerintah Beijing, apakah bisa memberi jaminan keselamatan keluarga Yang Linghua. Di saat yang sama sehari sebelum digelarnya Lianghui, banyak warga yang justru paling membutuhkan perwakilan, sedang menghadapi penindasan serupa. Meskipun sudah menandatangani surat penyesalan, saya tidak akan meminta maaf karena telah mewawancarai mereka.”

Kamera yan dihancurkan, jelas dan nyata, sungguh mengejutkan. Yang dipaksa mangaku bersalah adalah seorang warga asing yang berusaha membantu para pencari keadilan. (internet)

Kamera yang dihancurkan, jelas dan nyata, sungguh mengejutkan. Yang dipaksa mangaku bersalah adalah seorang warga asing yang berusaha membantu para pencari keadilan. Rakyat yang mengajukan petisi pun “menjadi bersalah”, wartawan juga “bersalah”, pengacara juga “bersalah”.

Ribuan orang yang “bersalah” itu dikepung dan dihadang, hanya untuk menjamin agar “Lianghui” berjalan lancar. Inilah keunikan dari pemerintahan PKT, ironis dan memilukan.

Biro Petisi Pusat (di Beijing) mengatakan, setiap tahunnya tempatnya menerima 6.000.000 berkas. Kasus Wang Fengyun dan Yang Linghua hanyalah dua dari enam juta berkas itu.

April tahun lalu, Xi Jinping pernah menginstruksikan, pejabat daerah harus menyelesaikan sengketa warga lebih baik, mendesak mereka supaya segera meredam masalah sebelum terjadi konflik.

Akan tetapi faktanya adalah, untuk mencegah seorang Wang Fengyun mengajukan petisi, pejabat daerah lebih rela mengeluarkan dana 647 juta rupiah, tapi tidak mau menggunakan dana ini untuk menerima aspirasi warga dan memberikan keadilan bagi warga.

Alasannya adalah jika berpihak pada pemohon petisi Wang Fengyun, maka akan menyinggung kepentingan serentetan pejabat korup. Para pejabat korup itu tentu saling melindungi dan saling berkonspirasi, sehingga rakyat di lapisan paling bawah pun tertekan terus, dan menjadi korban dari sistem pemerintahan PKT ini.

Kasus serangan terhadap wartawan BBC ini, ada netizen mengkritisi, “Ini hanya aksi untuk memamerkan pada rakyat Tiongkok apa yang selama ini mereka sebut dengan kuat, di balik stabilitas saat ini hanyalah kebohongan dan kekerasan. Inilah wajah asli penjahat komunis ini. Rakyat yang menuntut keadilan ditangkap dengan tuduhan mengacaukan keamanan masyarakat. Rakyat yang mengumpulkan harta dirampas dan dibagi antara para pejabat dan kelompok yang berkepentingan. Pekerja lapisan bawah hanya mendapat upah sekedar untuk mengisi perut, itu pun masih dihutangi upahnya. Pemerintah dan para preman berkonspirasi menindas rakyat.”

Mengapa, mengajukan petisi yang sesuai dengan aturan hukum dan wajar, justru menjadi suatu ajang permainan kucing-kucingan?

Mengapa, rakyat yang taat hukum dan kenyang siksaan dan derita, justru menjadi tikus yang diburu?

Mengapa, Wang Fengyun dan Yang Linghua, tidak sebaik nasib Qin Xianglian (sebuah kasus malpraktek hukum yang pernah ditangani oleh judge Bao) 1000 tahun silam?

Dimanakah letak genderang keadilan yang bisa dibunyikan itu?

Mengapa ada orang yang mengatakan “saya tidak bisa melihat harapan?”

Di Hunan di desa itu, yang dihancurkan selain kamera milik wartawan, juga keadilan dan kebenaran serta harapan banyak orang. (sud/whs/rmat)