Masih ingatkah Anda akan sepucuk surat meminta tolong dari sebuah kamp kerja paksa di RRT, ditemukan di AS pada hari Thanksgiving 2012?

Surat itu menggemparkan dunia. Kini, si penulis surat minta tolong itu akhirnya telah tiba di luar negeri, ia menerima wawancara ntdtv.com lewat telepon.

Ringkasan isi surat yang menghebohkan itu, “Tuan, jika Anda kebetulan telah membeli produk ini, mohon serahkan surat ini kepada organisasi HAM dunia. Ribuan orang yang ditindas oleh pemerintah PKT disini akan berterima kasih dan mengenang Anda untuk selamanya.”

Kemudian pada 2014, jaringan TV kabel CNN Amerika berhasil menemukan penulis surat minta tolong itu, waktu itu ia yang masih berada di daratan Tiongkok diwawancara dengan nama samaran “Zhang Liang”.

Di tahun yang sama seorang produsen film dokumenter RRT bernama Du Bing juga menuangkan kisah “Zhang Liang” dalam buku yang berjudul “Raungan Masanjia” yang diterbitkan di Hongkong.

Akhir 2016, penulis surat meminta tolong itu akhirnya berhasil lari dan tiba di luar negeri serta mengungkap nama aslinya, yakni Sun Yi.

“Menyebarkan informasi penindasan, ini adalah hal yang sudah sepantasnya dilakukan. Di kamp kerja paksa yang lain dan di penjara lain, juga banyak orang yang melakukan hal yang sama. Dan begitu juga dengan saya, waktu itu saya menulis lebih dari 20 pucuk surat, sama sekali tidak ada berita apa pun selama bertahun-tahun, saya juga sangat putus asa. Hingga akhirnya, mungkin berkat Tuhan, salah satu surat saya muncul di Amerika, ini juga di luar dugaan saya,” kata Sun Yi si penulis surat.

Sun Yi yang telah berusia sekitar separuh abad itu bekerja di Beijing Zhongyou Logging Company, lantaran pada 2001 ia mulai berlatih Falun Gong, lalu dipecat oleh perusahaannya.

Setelah itu selama belasan tahun lamanya, Sun Yi telah berkali-kali ditangkap dan dipenjara secara ilegal, juga mengalami berbagai siksaan dan penindasan.

Sejak Februari 2008 hingga September 2010, Sun Yi dijebloskan ke dalam kamp kerja paksa Masanjia, selama di Masanjia ia harus melakukan kerja paksa, disanalah ia menulis surat minta tolong tersebut.

“Waktu itu karena kertas terlalu kecil, hanya secarik kecil, saya menulis berkali-kali, dan setiap surat isinya berbeda. Surat yang terungkap ini mungkin yang terakhir saya tulis, terbagi menjadi beberapa bagian, setiap poin pentingnya saya tuliskan, lebih tenang dan rasional. Tahanan disini setiap hari dipaksa bekerja selama 15 jam sehari, tidak ada libur, jika tidak akan disiksa dengan kejam, dipukul, dianiaya fisik, dan hampir tidak mendapat upah. Umumnya tahanan di situ disekap dan divonis ilegal kerja paksa selama 1 sampai 3 tahun, di antaranya banyak praktisi Falun Gong yang tak berdosa. Mereka mengalami hukuman yang lebih berat daripada tahanan lain,” ungkap Sun Yi.

Meskipun menceritakan kehidupan di kamp kerja paksa itu secara tenang, tapi Sun Yi sendiri sebenarnya merupakan salah seorang yang mendapat hukuman paling kejam di Masanjia.

Berbagai jenis hukuman seperti “digantung”, “dipan mati”, “ranjang jepit” dan lain sebagainya, itulah jenis-jenis hukuman yang harus dialami sendiri oleh Sun Yi selama ditahan di Masanjia.

Dan menulis surat minta tolong di Masanjia, adalah hal yang luar biasa berbahaya. Suatu kali seorang praktisi Falun Gong lain hendak menyalin surat Sun Yi untuk diperbanyak, surat asli disembunyikan di bawah dipannya, tapi ditemukan saat ada inspeksi mendadak bilik penjara.

“Waktu itu ketika surat ditemukan, kapten sipir sangat berang, amarahnya meledak, lalu ia berhasil menerjemahkan surat itu (yang aslinya ditulis dalam bahasa Inggris), dan menggelar rapat, sangat keras, rekan praktisi ini disiksa dengan berat, seingat saya ia disengat listrik di sepanjang sore hari, dipaksa mengaku siapa yang telah menulis surat itu, rekan praktisi itu tidak bisa Bahasa Inggris, yang bisa Bahasa Inggris di sana mungkin cuma saya. Rekan praktisi itu sangat tegar dan berhasil melalui siksaan kejam itu, ia tidak mengatakan sepatah kata pun,” kata Sun Yi.

Ketika surat minta tolong itu terungkap di AS, Sun Yi telah dua tahun keluar dari kamp Masanjia (salah satu kamp kerja paksa yang paling brutal di RRT).

Ketika di seberang lautan sana gempar karena menerima surat minta tolong yang ditulisnya, di dalam negeri Tiongkok berita tersebut disensor ketat. Dan meskipun sistem hukuman kamp kerja paksa akhirnya ditutup pada 2013, tapi penindasan PKT terhadap praktisi Falun Gong masih terus berlanjut hingga saat ini.

Setelah April 2016, Sun Yi baru saja menyesuaikan lagi kehidupannya, lagi-lagi ia dihadapkan lagi dengan kondisi penindasan serius yang dialaminya beberapa tahun sebelumnya, polisi menggerebek rumahnya, ia juga ditangkap karena menghadiri persidangan praktisi Falun Gong yang lainnya.

Sun Yi terpaksa harus berpisah dengan istrinya dan meninggalkan Tiongkok. Tapi ia masih mengkhawatirkan para praktisi Falun Gong lainnya yang ditindas, juga mengkhawatirkan pengacara Jiang Tianyong yang selama ini membelanya dan “dihilangkan”.

Sun Yi berharap agar mereka semua segera meraih kebebasan. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular