Erabaru.net. Pendidikan saya tidak tinggi, karena orang tua tidak mampu membiayai saya sekolah.

Jadi setelah lulus dari SMA, saya kerja di bidang kontruksi.

Meskipun susah, tapi lumayan bagus juga buat melatih fisik saya.

Bukankah ini lebih baik buat tubuh daripada pekerja kantoran yang selalu duduk dibawah tiupan sejuk AC di kantor?

Tetapi karena tempat konstruksi itu kebanyakan laki-laki, sehingga, tidak ada kesempatan berkenalan dengan perempuan.

Saya baru mengenal seorang teman perempuan yang pertama setelah dikenalkan oleh salah satu teman saya.

Dia adalah seorang mahasiswi, tampak polos saat baru berkenalan, selalu memandang saya dengan tatapan malu, dan saya pibadi juga tertarik oleh kepolosannya.

Jadi, kami pun mulai berkencan.

Dia benar-benar cantik dan menarik di masanya sebagai seorang pelajar, bahkan berkencan saja dia menggunakan uangnya sendiri, tidak ingin saya terlalu banyak mengeluarkan uang.

Perasaan saya padanya juga semakin kental, belakangan setelah lulus dan mulai terjun ke masyarakat mencari pekerjaan, tapi tidak berjalan sesuai harapan, kemudian saya bilang tidak apa-apa, aku akan menghidupimu.

Dan ia sangat tersentuh ketika itu, tapi tak tahunya justeru itu adalah awal dari semua kesalahan.

Saya menanggung biaya hidupnya, sehari-hari saat santai ia selalu keluar jalan-jalan, dan menghabiskan cukup banyak uang, ketika saya menegurnya, ia malah menyalahkan uang yang saya berikan kurang, sambil membandingkan uang bulanan dari yang diberikan cowok temannya.

Karena saya mencintainya, jadi saya coba bersabar.

Tapi tak tahunya, dia malah ingin mengakhiri hubungan setelah satu tahun hidup bersama.

Saat itu, saya sendiri tak menyangka bisa setenang itu, dan ketika saya tanya alasannya.

Dia bilang karena saya miskin dan bekerja sebagai tukang yang tidak punya masa depan.

“Masyarakat sekarang ini lebih mengutamakan materi. Orang-orang baru akan menghormatimu kalau kamu kaya dan sukses. Sebaliknya kalau miskin, maka kau bukan siapa-siapa!” katanya dengan berapi-api.

Sementara saya hanya tersenyum.

Dengan cemberut ia berkata, “Apa yang kamu tawakan ?”

Saya diam saja, kemudian mengambil buku tabungan dari laci dan perlihatkan kepadanya

Melihat angka pada buku tabungan itu, dia pun terpaku sejenak, kemudian berkata tergagap-gagap, “Kamu, bagaimana bisa memiliki begitu banyak uang?”

“Saat pulang kerja, saya sebenarnya sedang mempelajari pengetahuan finansial. Semua itu adalah hasil dari investasi, rencananya uang itu untuk penikahan nanti ……tapi tampaknya tidak ada kesempatan lagi.”

Saya tersenyum sambil memandangnya, tiba-tiba matanya berkaca-kaca dan menangis, Aku, aku tadi bercanda! aku masih tetap mencintaimu.”

Saya benar-benar kagum dengan aktingnya, tapi dengan perasaan sangat kecewa saya menyingkirkan tangannya yang menjulur ke arah saya, “Sekarang segera kemasi barang-barangmu dan pergi dari rumah saya”

“Tidak!”

Ia berlutut, “Aku mohon! Aku tidak tahu kamu memiliki begitu banyak uang, jadi saya ……”

“Lebih baik kau pergi saja dari rumah ini, satu jam setelah ini, saya tidak ingin melihatmu lagi!”

Usai melontarkan kata-kata itu, saya pun pergi, tapi tak tahan mata ini memerah juga menahan tangis.

Dari balik saku saya mengambil cincin kawin yang awalnya dipersiapkan untuknya, untung saja sebelum nikah, saya sudah melihat wujud aslinya.

Meskipun pengorbanan laki-laki itu terasa nyeri seperti disayat sembilu, tapi layak karena sebelum terlambat, sifat asli yang buruk dari calon isteri yang akan dinikahinya itu terkuak juga akhirnya.  (Jhony/rp)

Share

Video Popular