Ayah Membawa Pulang Ibu Tiri, Setelah Melahirkan Adik Mereka Menghilang, 20 Tahun Kemudian Rahasia Terbuka

938

Erabaru.net. Kami adalah orang desa yang masih memegang kuat tradisi yang diajarkan nenek moyang.

Sekecil apapun kejadian di antara salah satu tetangga seluruh warga desa pasti bisa tahu, ‘saran dan pendapat’ pun ikut bertebaran di mana-mana.

Di masa kecil itu keluarga kami tidak memiliki barang-barang berharga seperti televisi, kecuali seorang teman bermain yang saya nilai baik lagi pula cerdik orangnya, dia itu adalah adik saya.

Ia patuh kepada saya dan mendapat pujian dan disenangi oleh orang-orang dewasa karena tidak nakal. Kalau memperoleh suatu barang baru ia selalu akan menunjukkan atau membiarkan saya yang terlebih dahulu memainkannya.

Ibu saya sangat cantik, paling tidak begitulah penilaian warga desa terhadap ibu saya, meskipun pada waktu itu belum mengerti apa cantik itu, dan saya hanya ikut-ikutan dengan omongan tetangga.

Ibu tersebut bukan ibu kandung saya, dan saya baru mengetahui hal itu pada saat sekarang.

Ketika itu ayah membawa seorang wanita cantik dari kota yang kemudian menjadi ibu (tiri) saya dan meminta saya memanggilnya ‘mama’.

Ia kelihatan murung karena sepanjang hari berada dalam rumah, saya tidak mengerti mengapa ia begitu, walau saya merasa lebih senang karena memiliki seorang mama baru.

Tak lama kemudian, adik laki-laki saya lahir. Ia berusia 3 tahun lebih kecil dari saya.

Suatu hari saya dan ayah pulang dari luar untuk suatu hal, tiba-tiba menemukan ibu dan adik saya sudah tidak berada di rumah.

Ayah kemudian terduduk lemas di atas bangku dan mengucapkan suatu yang saya tidak mengerti maksudnya. Katanya ibu sudah meninggalkan kita.

Saya tidak mengerti, tetapi terus berusaha untuk mencari ke keberadaan adik meskipun tidak berhasil, saya hanya bisa menangis dan menangis.

Bibi tetangga kemudian menggendong saya dan mengatakan saya anak yang kasihan.

Akhirnya saya percaya bahwa mama dan adik sudah pergi meninggalkan saya dan ayah.

Setelah itu terdengar rumor bahwa mama itu  wanita buangan orang lain, tetapi dibawa pulang oleh ayah, bahkan mengatakan bahwa adik saya pun tidak jelas siapa ayahnya, dan seterusnya.

Sampai saya pun pernah ikut dilibatkan dalam rumor negatif yang tak berdasar itu.

Kemudian mereka menghindari berkomunikasi, menjauhi keluarga saya.

Ayah ingin sekali untuk pindah dari desa tetapi tidak tahu harus pergi ke mana.

Karena itu, selama 20 tahun kita tinggal di sana kita terpaksa menderita dilecehkan warga desa.

Pada saat itu perasaan benci terhadap mama juga ayah sempat muncul dalam hati saya.

20 tahun kemudian, saya sudah bekerja dan memiliki keluarga di kota.

Meskipun suami saya tidak peduli terhadap rumor-rumor kurang berdasar itu, tetapi tidak begitu dengan ibunya atau mertua saya.

Saya yang sudah tidak mau memikirkan hal itu, terpaksa harus mengambil sikap.

Saya sudah lama tidak pulang desa untuk menengok ayah saya tetapi sering berbicara dengannya melalui sambungan telepon.

Saya masih takut dengan perrasaan benci yang mungkin masih tersisa dalam hati, bagaimana andai meletus pada saat  kita bertemu.

Sampai suatu hari saya mengangkat sebuah sambungan telepon yang memanggil saya dengan kakak, itu adalah suara adik ketika memanggil saya.

Mendengar suara itu, airmata pun keluar membasahi pipi. Ia mengatakan bahwa dirinya sudah bertemu dengan ayah yang sudah terlihat tua, bukan lagi ayah yang berada dalam bayangan kita dahulu.

Mendengar ceritanya, airmata saya makin deras mengalir.

Ia pun meminta maaf atas cerita yang membuat sedih.

Kemudian membuat janji untuk saling bertemu.

Saat bertemu dia yang mengendarai sebuah mobil sedan mewah dengan pakaian yang rapi itu saya langsung lari untuk menghampir dan memeluknya.

Ia mengatakan, “Kakak, maaf ya, saya mengatasnamakan ibu meminta maaf kepada kakak.”

Saya telah mendengar ibu saya mengatakan bahwa ayah terus menganiaya ibu, meskipun saya sadar kalau tanpa ayah saya juga tidak akan lahir di dunia ini.

Suatu hari ibu memutuskan untuk pergi dari rumah setelah mendengar ucapan ayah dalam sambungan telepon, ibu membawa saya kabur dari rumah ayah.

Tak disangka bahwa tabiat buruk ayah belum juga berubah, setelah ibu dipukul sampai mati, ia juga masuk penjara, tetapi belum juga menjadi jera.

Saat itu, saya masih duduk di bangku SMA, 2 orangtua itu yang satu meninggal, yang satu masuk penjara, saya sangat rindu untuk bertemu kakak, tetapi terus tidak berhasil mencari kalian, sampai saat ini usaha itu baru terlaksana.

Mendengar penjelasan ini, perasaan benci terhadap mama langsung lenyap.

Saya sadar bahwa ia juga seorang wanita yang memiliki kasih dan cinta.

Saya sebagai anak tiri tidak pantas untuk membencinya.

Dibandingkan dengan adik yang sudah menderita siksaan seperti ini pada usianya yang masih 10 tahun, kesulitan yang saya alami tidak banyak berarti.

Adik kemudian mengatakan, ia sekarang sudah memiliki perusahaan dan memiliki tabungan yang tidak kecil.

Ia langsung mengeluarkan sebuah kartu bank yang bersaldo 600.000 Yuan untuk disodorkan kepada saya, meminta saya menerimanya.

Saya tolak tetapi ia terus mendesak.

Sampai akhirnya saya terima dengan syarat hanya untuk titipan.

Saya pikir kelak dikembalikan kepadanya pada saat ia membutuhkan dana.

Adik kemudian saya ajak ke rumah untuk bertemu dengan suami saya yang tak menyangka bahwa saya memiliki seorang adik berduit.

Mertua saya yang paling menyolok dalam menunjukkan sikapnya.

Malam hari kepada suami saya ceritakan ikhwal titipan uang 600.000 Yuan.

Mungkin karena kelancangannya, ibu mertua keesokan harinya mempengaruhi saya untuk membeli sebuah apartemen dengan uang itu.

Saya tolak, tetapi kedua orang itu mengatakan saya bodoh.

Setiap hari selalu mengungkit-ungkit masalah ini, membuat pikiran jadi pusing untuk mengatasinya.

Tanggapan ahli.

Keluarga mertua Anda mengubah sikap setelah mengetahui bahwa adik Anda itu orang kaya.

Jelas apa yang mereka lihat adalah uang, ingin memanfaatkan adik Anda untuk mengubah ‘nasib’ mereka.

Tetapi perlu diingat bahwa uang itu meskipun adalah milik adik, tetapi kalian sesungguhnya tidak sedarah-daging, walau Anda juga mempercayai adik, tetapi bila suatu hari sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan antar kalian, apakah Anda mampu mengembalikan dana tersebut? Ini perlu diingat.

Membeli tempat tinggal bukan hal sepele, jumlah uangnya besar.

Anda sebaiknya menyarankan mereka supaya berdiri di kaki sendiri untuk membeli segala sesuatu yang diperlukan.

Paling tidak dana itu disimpan saja untuk penggunaan yang bersifat darurat bila ada.

Siapa tahu hidup ini akan menemui hal-hal yang tidak terduga, uang itu mungkin dapat digunakan untuk mengatasi masalah.

Apalagi Anda telah berjanji untuk membantu adik Anda menyimpankan dana tersebut untuk kelak dikembalikan kepadanya.

Jika keluarga suami masih saja mendesak Anda untuk membeli rumah, maka sebaiknya uang itu dikembalikan saja kepada adik dan katakan kepadanya tentang apa yang terjadi dalam rumah tangga Anda.

Percayalah, adik akan menaungi keadaan Anda. (Sinatra/rp)