Nyawa Ibu Terselamatkan Gara-Gara Bayinya Menolak Menghisap ASI

417
Bayi dan ibu memiliki hubungan bathin yang kuat memang sulit untuk dipungkiri. (Fotolia)

Oleh Zhang Bingkai

Kata orang, bayi dan ibu memiliki hubungan bathin yang kuat tampaknya memang benar. Seorang bayi laki-laki Inggris melalui cara mendadak tidak mau menghisap ASI untuk ‘memberitakan’ kepada ibunya bahwa ada bibit kanker dalam payudaranya. Karena tepat waktu pergi berobat ia akhirnya terbebas dari bahaya yang mengancam.

Sarah Boyle, wanita berumur 26 tahun yang tinggal di Staffordshire, Inggris setahun lalu melahirkan seorang bayi laki-laki sehat yang diberi nama Teddy.

Sarah gembira melihat bayinya terus tumbuh dengan mengkonsumsi ASI setiap hari. Namun, pada saat Teddy berusia 5 bulan, ia merasakan keluarnya ASI payudara sebelah  kanan tidak selancar yang kiri, dan bentuknya pun terlihat sedikit mengecil, walau itu tidak sampai menarik perhatian khususnya.

Saat Teddy berumur 6 bulan, ia mulai menolak menghisap ASI dari payudara sebelah kanan. Dan Sarah mulai curiga dengan kegelisahan yang ditunjukkan oleh si kecil setiap kali ia ‘dipaksa’ menghisap ASI dari payudara sebelah kanan.

Karena itu Sarah jadi teringat bahwa pada 2013 ia telah diagnosa dokter ada benjolan di dalam payudara sebelah kanannya. Dengan demikian ia pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan ulang yang hasilnya masih sama, yaitu benjolan yang termasuk kanker jinak.

Setibanya di rumah, ia menemukan Teddy lebih reaktif ketika dikasih minum ASI dari payudara kanan. Ia bahkan menangis dengan sekuat tenaga sampai suaranya terdengar dalam satu rumah.

2 bulan kemudian, Sarah menyadari bahwa Teddy sedang memberitakan kepadanya ada sesuatu yang tidak beres dalam payudara sebelah kanan. Akhirnya ia memutuskan untuk menuntaskan pemeriksaan medis.

Media Inggris ‘Daily Mail’ pada 19 Februari 2017 mengutip ucapan Sarah memberitakan bahwa Teddy jelas merasakan perbedaan rasa air susu yang keluar dari kanan dengan yang kiri, oleh karena itu ia menolak mengkonsumsinya.

Betul juga, melalui USG dan pemeriksaan biopsi lebih lanjut dokter menemukan terjadi perubahan kondisi benjolan pada payudara kanan Sarah yang sekarang sudah masuk ke dalam subtipe TNBC yang akan lebih mudah untuk memburuk menjadi kanker ganas. Jadi diagnosa dan pengobatan dini sangat penting artinya.

“Dokter mengatakan bahwa ia belum pernah mengalami mukjizat seperti ini. Saya beruntung sekali karena memilih menyusui bayi, jika tidak maka kanker jenis ini tidak mudah terdeteksi,” kata Sarah.

Sarah yang menerima kemoterapi tepat waktu dengan gembira mengatakan, “Si kecil Teddy adalah pahlawan saya. Kalau bukan karena dia, saya tidak akan curiga terhadap pemburukan kondisi benjolan itu”.

Sarah mengutip saran dokter mengatakan bahwa menyusui bayi itu bisa mempererat hubungan bathin ibu dengan anak.

“Tidak cuma itu saja, Teddy bahkan telah menyelamatkan saya”, katanya.

Sarah, bersama suaminya Steven yang kini berusia 28 tahun telah sepakat untuk menjalani operasi pengangkatan kedua payudara Sarah setelah periode kemoterapi berakhir nanti. (Sinatra/rp)