Ketika Kehidupan Tidak Sesuai Harapan, Beranilah Melepas Sesuatu yang Kita Pegang Erat-erat

324

Seorang pria di dalam hutan sedang dikejar oleh seekor harimau. Ia terpaksa menggunakan seluruh kekuatannya untuk lari menghindar. Tetapi tiba-tiba ia menghentikan langkah larinya.

Karena di depan adalah jurang, beruntung ia masih mampu menghentikan langkah, bila tidak ia terpaksa harus berpamit dengan dunia fana.

Dalam situasi yang sangat gawat itu ia harus cepat memutuskan, tindakan apa yang akan diambil.

Ia menengok ke bawah arah jurang, terlihat ada sebuah ranting kering dari pohon besar menjelujur keluar. Di saat itulah akal kancilnya muncul dan tanpa pikir panjang ia langsung melompat lalu memeluk erat-erat ranting tersebut.

Takdir sedang tidak memihak dirinya, ranting itu ternyata sudah cukup rapuh dan berbunyi kreteg. kreteg hampir putus akibat tidak kuat menahan beban tambahan ini.

Ia jelas tidak berani melepaskan pegangannya, karena hanya itu yang bisa ia perbuat.

Di bawah kakinya itu, dasar jurang tidak terlihat.

Ia kemudia tersentak oleh pikiran, “Apakah sudah waktunya untuk menemui ajal?”

“Oh, Sang Sadar tolonglah aku ! Asalkan saya bisa tetap hidup, apa saja yang Kau pinta akan saya turuti”.

Pada saat seperti itu, ia hanya bisa berdoa memohon dengan sangat kepada Sang Sadar.

Tiba-tiba terdengar suara yang penuh kasih dari langit mengatakan, “Benarkah ?”

Meskipun sempat dibuat terkejut, tetapi ia cepat menenangkan diri dan menjawab : “Benar ! Benar ! Tolonglah aku !”

Suara yang mungkin bisa berasal dari Sang Sadar di langit itu kembali mengatakan, “Untuk menolong kamu hanya ada satu cara. Kamu betul-betul harus percaya dan memiliki keberanian. Apakah kamu percaya kepada saya? Apakah kamu bisa melakukan seperti yang saya minta?”

Ia coba memandang langit, tetapi yang terlihat adalah sorotan mata tajam dari harimau yang masih sedang menunggu di atas. Dalam situasi seperti itu suara kreteg, kreteg justru terdengar semakin keras.

“Sang Sadar, tolonglah aku, asalkan aku bisa selamat apapun akan saya lakukan”.

“Baiklah bila begitu, satu-satunya permintaan saya adalah …” suaranya pelan tapi terdengar jelas.

“Lepaskan pegangan mu !”

Satu detik …

Dua detik …

Satu menit telah lewat.

Satu menit lagi sudah berlalu.

Akhirnya, ia memberanikan diri untuk melepaskan pelukan yang dilakukan dengan kedua tangannya, jelas ia jatuh ke dasar jurang.

Entah berapa lama ia berada dalam kondisi tidak sadarkan diri, tetapi akhirnya siuman juga.

Ia menemukan dirinya berada di atas bak truk yang penuh dengan tumpukan jerami.

Banyak orang berkata ia sangat mujur bisa jatuh tepat di atas bak yang ’empuk’ ini.

Tetapi semua orang itu tidak tahu jika ia melepaskan pegangan itu 2 menit lebih cepat, ia akan jatuh ke atas truk yang bermuatan ‘keras’, dan jika sedikit lebih lambat, maka ia akan jatuh ke jalanan yang penuh dengan batu kerikil.

Dalam kehidupan ini, banyak kesempatan yang akan membuat kita enggan untuk melepaskan sesuatu yang sudah berada dalam ‘kepalan tangan.’ Seperti terobsesi dengan pacar sebelum menikah, bertengkar demi keuntungan materi dan manfaat, sampai tak segan-segan untuk menggadaikan kepribadian dan hati nurani.

Memegang erat hal-hal ini seolah takut untuk melepaskannya. Sama seperti pria dalam contoh di atas yang memeluk ranting tua di tebing.

Kalau hal-hal yang membuat kita terpesona itu tidak berbeda dengan ranting tua yang berada di atas tebing, maka kita tak punya alasan untuk tidak berani melepasnya.

Hal-hal yang membuat kita terpesona itu tidak selalu lebih baik, mungkin ia juga sudah rapuh seperti ranting itu, tak layak untuk dipeluk, dijadikan tumpuan. Hanya saja kita tidak mampu melihat fakta di depan sehingga tidak memiliki keberanian untuk melepas.

Ketika kita enggan melepas kenangan manis yang dibuat bersama pacar lama, bahkan terus dibiarkan hidup dalam pikiran. Maka kita tidak akan menyadari bahwa ada seorang gadis yang lebih baik sedang menanti.

Dan ketika kehidupan berjalan kurang sesuai dengan yang kita harapan, kita harus ingat bahwa itu mungkin merupakan peringatan buat kita agar secepatnya melepas sesuatu yang kita pegang erat-erat. Di saat satu pintu ditutup oleh Sang Pencipta, biasanya ada pintu lain yang akan dibukakan untuk kita. (Sinatra/rmat)