Unik, Wanita Jerman yang Bertahun-tahun Membentang Spanduk untuk Wisatawan Tiongkok

253
Ursula dari Cologne Jerman menggelar spanduk klarifikasi fakta di alun-alun depan Katedral Cologne yang banyak dikunjungi wisatawan terutama dari daratanTiongkok. (Epoch Times)

Oleh: Zhu Lan

Katedral Cologne (Kölner Dom) adalah salah satu obyek wisata yang paling terkenal di Jerman,  juga merupakan salah satu tempat yang disinggahi oleh banyak wisatawan Tiongkok.

Di depan gereja, hampir setiap akhir pekan selalu dapat terlihat sosok nyonya Ursula wanita Jerman tersebut, dia berprofesi sebagai asisten teknikal ilmu biologi dari University Hospital, sekaligus seorang praktisi Falun Gong.

Sebagai seorang Barat, penampilannya membuat terkejut banyak wisatawan Tiongkok.

Sejak 2005, Ursula senantiasa menggelar spanduk dengan para rekannya di depan Katedral Cologne, melakukan klarifikasi fakta tentang penindasan kejam terhadap praktisi Falun Gong di daratan Tiongkok kepada penduduk lokal maupun wisatawan mancanegara.

Ia juga mengumpulkan tanda tangan petisi, dengan harapan melalui aksi-aksi tersebut mendesak masyarakat internasional terus bersuara menuntut Partai Komunis Tiongkok/PKT untuk segera menghentikan penindasan.

Kegiatan rutin aksi damai dan klarifikasi fakta para praktisi Falun Gong di depan Katedral Cologne (Kölner Dom). (Network Graphics)

Beruntung setelah mempraktikkan ajaran Dafa menjadi lebih toleran

Ursula dilahirkan di sebuah keluarga Kristen yang taat, selama masa pertumbuhannya dia sering merenung mengenai kehidupan, banyak pertanyaan, tetapi tidak kunjung menemukan jawabannya.

Kemudian dia pernah menjalani suatu periode ateisme, hanya percaya apa yang terlihat dan semua hal yang nyata saja.

Seiring dengan tumbuhnya pengalaman hidup, Ursula samar-samar merasakan bahwa jiwa manusia itu tidaklah begitu sederhana, seharusnya masih eksis beberapa hal di luar dunia ini.

Untuk itu dia mulai mencoba berlatih yoga, meditasi, Tai Chi dan lain-lain, dengan harapan dapat menemukan jawabannya.

Pada suatu hari pada Mei 2001, adik lelakinya yang telah berlatih qigong (dibaca: Ji Kung, ilmu pengolahan Qi) selama beberapa tahun, membawa pulang koran perkenalan Falun Dafa.

Pada waktu itu Ursula sangat tertarik pada Tai Chi, juga sudah berlatih selama enam bulan, ketika mengetahui adiknya ingin berlatih Falun Gong, dia pun membaca koran itu dan merasa tertarik, lalu mereka berdua sepakat untuk mendatangi tempat latihan Falun Gong lokal.

Kemudian Ursula mempertahankan setiap minggu pergi ke tempat latihan. Secara khusus, disaat meditasi dia merasa takjub, “Seolah sedang tidak berada di planet Bumi, suatu perasaan yang sulit diutarakan.”

Awalnya, Ursula tidak mengerti apa itu kultivasi, hanya sempat menemukan bahwa setelah berlatih, kualitas tidurnya berubah menjadi lebih baik, energik dan jarang sakit.

Dengan mempelajari buku-buku dari Falun Gong secara terus menerus dan berlatih dengan tekun, Ursula menemukan bahwa dengan sering menggunakan “Sejati, Baik, Sabar” dalam kesehariannya, mengontrol kata-kata dan perbuatannya, serta apabila menemukan masalah segera mencari ke dalam (introspeksi) terlebih dahulu, walhasil, hatinya menjadi tenang dan penuh toleransi.

“Dulu saya sering bertengkar dengan suami,  ketika marah besar bahkan sering membanting peralatan makan. Setelah berkultivasi, saya sering berkata pada diri sendiri, suami saya adalah benar, yang saya lakukan adalah salah, dan kontradiksi pun segera menghilang,” ujar Ursula.

Sang adik bersama-sama dengannya mulai berlatih Falun Dafa, kakak perempuannya sekitar empat bulan kemudian juga mulai berlatih. Sang kakak bernama Karin sering mengejar hal-hal spiritual.

Ibu Ursula adalah seorang umat Kristen yang taat dan sangat mendukung anak-anaknya berlatih Falun Dafa. Juga pernah membaca buku Falun Gong dan menemukan bahwa setelah membacanya lebih mudah untuk memahami kata-kata Kristus dalam alkitab.

Selama 14 tahun penganiayaan mempertahankan mengklarifikasi fakta kepada wisatawan Tiongkok

Sebagai seorang Jerman, Ursula dengan mudah melihat kesamaan PKT dengan rezim Hitler 70 tahun silam. Kediktatoran Hitler dan Komunis adalah pelecehan bagi kemanusiaan, seperti pembentukan kamp-kamp konsentrasi dan propaganda penghasutan. Jerman memiliki Gestapo Nazi, PKT memiliki kantor 610.  Bahkan kejahatan PKT lebih buruk lagi, hanya saja kini belum terungkap sepenuhnya.

Disana sering ada wisatawan Tiongkok, ada yang dibawa guide/ketua rombongan, ada pula yang datang dengan bebas.

Pada satu kesempatan, sekelompok turis Tiongkok setelah melihat spanduk, semuanya menatap ke Ursula dan teman-temannya, dan bahkan tidak mendengar ketika sang guide memanggil mereka.

Menurut pengalaman, dari perubahan ekspresi orang-orang ini Ursula tahu bahwa pikiran mereka sedang mencerna apa yang terlihat oleh  mata mereka yang sangat berbeda dengan yang mereka dengar di Tiongkok.

Kebetulan pada saat itu seorang polisi Jerman datang dan berjabat tangan dengan Ursula. Para wisatawan itu semakin terperangah, kenapa yang berlatih Falun Gong tidak ditangkap malah disalami polisi?

Meskipun ada hambatan bahasa, tapi hati Ursula merasa sangat sedih bagi para warga daratan Tiongkok itu yang (berkat sensor) hanya mendengarkan kebohongan dari pihak partai.

Tidak hanya wisatawan Tiongkok yang tergetar menyaksikan adegan di depan Katedral Cologne, tetapi juga banyak turis Barat sering menyampaikan apresiasi dan dukungan atas upaya Ursula dan para kawan-kawanya, serta mereka dengan khidmat menandatangani petisi menentang penganiayaan yang disodorkan.

Para praktisi Falun Gong dari seluruh dunia yang terus-menerus mengklarifikasi tentang kebenaran lebih dari satu dekade, telah membuat semakin banyak orang memahami fakta yang disampaikan.

Ursula juga menemukan bahwa beberapa tahun pertama karena ada banyak wisatawan Tiongkok yang telah menelan mentah-mentah fitnahan PKT, ekspresi mereka acuh, ada yang benci, atau bahkan ada yang menghujad, tetapi dalam beberapa tahun terakhir fenomena ini semakin berkurang.

Ursula menyatakan selama penganiayaan belum berakhir, dia tidak akan berhenti dan terus akan mengklarifikasi fakta kepada wisatawan asal Tiongkok di depan Katedral Cologne. Mengakhiri penindasan, agar lebih banyak lagi orang-orang yang yang terselamatkan, adalah harapannya. (hui/whs/rmat)