Kisah Menyedihkan dari Perkampungan Akrobatik Tiongkok, Anak-anak Berlatih Menyeimbangkan Batu-bata Sejak Usia 4 Tahun

325

Desa Kong Lou di Heze yang terletak di Shandong, Tiongkok yang juga dikenal sebagai “perkampungan akrobatik” telah melahirkan banyak ahli akrobatik terkenal.

Mereka yang berlatih di situ berhasil merangkul berbagai kemenangan di tingkat internasional.

Namun, anak-anak di daerah perkampungan tersebut harus berlatih keras dari kecil agar dapat menampung kehidupan keluarga di masa depan.

Sekolah akrobatik ini didirikan pada awal 1970 dan sampai sekarang, sekolah ini telah melatih lebih dari 1.000 orang anggota akrobatik yang cemerlang.

Anak-anak di perkampungan Kong Lou ini memulai latihan mereka dengan menyeimbangkan batu bata di atas kepala mereka. Hal ini merupakan dasar di dalam olahraga akrobatik.

Dimulai dengan hanya sepotong bata dan jumlahnya akan terus meningkat sedikit demi sedikit.

Mengingat desa ini begitu terkenal di Tiongkok, ada juga anak-anak dan orang dewasa berusia 30 tahun yang datang hanya untuk mempelajari akrobatik.

Dengan latar belakang keluarga miskin, dan setelah periode dua ke tiga bulan berlatih, mereka bisa pulang ke kampung halaman masing-masing dan membuat pertunjukan akrobatik.

Untuk setiap pertunjukan, mereka akan dibayar dengan upah sebesar 100 sampai 300 yuan.

Meskipun berhasil melahirkan banyak ahli akrobatik yang terkenal, tidak semuanya berhasil.

Sebagian dari mereka tidak mampu mengadaptasi dan menyesuaikan diri dengan kehidupan dan pelatihan insentif lantas mengambil keputusan untuk meninggalkan desa dan bermigrasi ke daerah dengan kondisi ekonomi yang baik.

Anak-anak 4 tahun yang datang dari provinsi Henan ini akan menangis setiap kali berlatih akrobatik.

Pelatih akan memegang dan meregangkan kaki mereka, sehingga menyebabkan rasa sakit yang teramat sangat!

Sejarah akrobatik di kampung Kong Lou dimulai sedini Dinasti Ming. Kini, ada lebih dari 100 aksi akrobatik dan antara yang populer adalah aksi menyepak mangkuk pada ketinggian yang luar biasa, menyeimbangkan diri di tali kawat, trik sepeda dan lain-lain lagi.

Pelatih turut mengusulkan untuk memasukkan tren terbaru di dalam sebuah presentasi dan tidak hanya tergantung pada keterampilan saja.

Beberapa anggota akrobatik terkenal akan pulang kembali ke kampung tersebut dan menjadi pelatih.

Selain berlatih secara normal, mereka turut berlatih ketika melakukan pekerjaan rumah seperti mengayuh sepeda ke toko ritel.

Mereka yang datang ke perkampungan akrobatik ini akan belajar memasak, mencuci pakaian dan melakukan pekerjaan rumah. Tampaknya, pelatihan yang diberikan tidak terbatas pada aksi akrobatik saja.

Pendiri sekolah akrobatik yaitu Kongyang ketika diwawancarai pada 2012 menyatakan hajatnya untuk membangun sebuah perkampungan akrobatik tetapi pada 2013, ia telah mengalami kecelakaan yang menewaskannya.

Anak lelaki Kongyang yaitu Kongwei, memutuskan untuk menghubungkan impian ayahnya dengan mendirikan sekolah ini.

Demi membiayai kehidupan keluarga agar hidup nyaman, anak-anak ini telah melalui berbagai penderitaan dan siksaan di desa ini. Hanya melihat dari aspek fisik tubuh mereka saja sudah membuat kita merasa sedih.

Anak-anak ini saja yang mengetahui bagaimana perasaannya untuk berlatih di bawah kondisi begitu rupa. (erabaru.net/rp)