Apakah Perang Dagang AS-Tiongkok Sudah Dimulai?

327
Apakah perang dagang antara AS dengan RRT sudah dimulai, tergantung penilaian setiap orang, akan tetapi upaya Presiden AS Donald Trump membangkitkan kembali kekuatan militer AS terus menggelegak. Foto adalah helikopter marinir US Marine One mendarat di kapal induk USS Ford yang sedang dibangun. (Getty Images)

Oleh: DR. Frank Tian, Xie*

Sebulan Presiden Trump menjabat, banyak janjinya telah ditepatinya. Tetapi cap sebagai negara pengendali mata uang yang diberikan Trump terhadap RRT/ Republik Rakyat Tiongkok serta janji untuk mendefinisi ulang hubungan dagang AS dengan RRT, masih bergemuruh besar namun tidak terlihat hasilnya.

Soal perang dagang AS dengan RRT apakah sudah dimulai, berbagai pihak memiliki pandangan yang berbeda. Mengenai akibat dari perang dagang tersebut dan bagaimana peluang menang kalahnya, juga banyak komentar simpang siur terkait duel terakhir perdagangan AS-RRT. Bahkan akibatnya yang bersifat bencana, apakah dapat dihindari, pun menjadi ujian sesungguhnya bagi para bijak yang membuat keputusan.

Apa yang bisa dikategorikan sebagai perang dagang (trade war), bagaimana perang dagang dalam sejarah digelar, dan bagaimana pula berakhirnya?

Yang dimaksud dengan perang dagang adalah suatu tindakan paham proteksionisme yang diterapkan antar negara, satu pihak menaikkan bea masuk untuk membalas negara lain yang telah menerapkan pajak tinggi terhadap ekspor negara tersebut. Perang dagang modern juga sering merupakan konsekuensi dari perdagangan bebas, globalisasi dan integrasi ekonomi global.

Menurut pakar ekonomi, akibat dan besarnya biaya dari perang dagang dan perang ekonomi mungkin tidak sama. Seperti RRT yang menerapkan subsidi ekspor, Amerika dan negara normal lain sulit untuk membalasnya, karena negara normal tidak akan begitu mudah memberikan subsidi bagi bidang usaha atau bisnis tertentu, sehingga tidak bisa melakukan balasan.

Tapi ada satu hal yang disepakati para ahli ekonomi, yakni ketika dua negara terlibat perang dagang, negara miskin akan lebih mudah mengalami kerugian dibandingkan negara kaya.

Dengan kata lain, secara prinsip umum, jika terjadi perang dagang antara RRT dengan AS, maka yang akan lebih menderita adalah RRT, bukan Amerika.

Sifat dasar dari perang dagang adalah memasuki pasar dan membuka pasar. Selain metode perang dagang dengan menaikkan bea masuk, sebenarnya masih banyak lagi “metode perang” lain yang digunakan oleh berbagai negara di dunia, seperti sanksi dagang, sanksi ekonomi, perang mata uang, perang bea cukai, bahkan perang candu, perang daun teh, perang buah pisang, dan lain-lain.

Rakyat Tiongkok mengalami perang candu, ini juga semacam perang dagang. Dari defisit dagang sampai perang candu, hingga akhirnya perang militer dengan senjata.

Perang candu pertama antara Tiongkok dengan Inggris adalah suatu ajang perang dagang, karena peristiwa Pembakaran Candu di Humen oleh Lin Zexu pejabat tinggi utusan pusat, kaisar Dinasti Qing pun menurunkan titah memutuskan perdagangan dengan Inggris selamanya, Inggris berang dan mengobarkan perang demi membuka kembali pintu negara Tiongkok.

Dinasti Qing gagal dan terpaksa harus menandatangani “Treaty of Nanjing”, perang telah membuka gerbang pasar Tiongkok yang tertutup rapat. Perang candu  yang kedua menyebabkan ditandatanganinya “Treaty of Tianjin” dan juga “Beijing Treaty” yang memaksa Dinasti Qing membuka Tianjin menjadi pusat dagang, meminjamkan wilayah Hongkong dan Kowloon pada Inggris, serta mengijinkan tenaga kerja Tiongkok diekspor ke luar negeri.

Perang dagang dalam sejarah juga pernah terjadi Perang Pisang. Di saat warga AS belanja kebutuhan sehari-hari di pasar, mungkin tidak pernah terpikir jika di balik pisang yang harganya tiga puluh sen satu pon, terdapat banyak cerita.

Pada 1974, sejumlah negara pengekspor pisang di Amerika tengah dan selatan meniru cara OPEC, membentuk “Organisasi Pengekspor Pisang” (UPEB). Ini adalah semacam kartel yang bersifat monopoli, mereka berupaya bernegosiasi dengan kelompok monopoli yang dibentuk oleh tiga perusahaan buah-buahan AS.

Waktu itu hasil investigasi PBB menunjukkan, setiap dolar AS yang dibelanjakan oleh warga AS, hanya kurang dari 17 sen yang diterima di negara Amerika selatan yang mengekspor pisang.

Tadinya UPEB berencana menaikkan bea ekspor pisang, tapi karena kemudian terungkap bahwa perusahaan monopoli ekspor pisang menyuap presiden Honduras dan pejabat Italia, maka “Organisasi Pengekspor Pisang” pun bubar.

Selama empat puluh tahun reformasi keterbukaan, Partai Komunis Tiongkok/PKT tetap menerapkan paham proteksionisme dagang, perilaku ini sebenarnya tidak ada bedanya dengan pemerintah Manchuria (Qing).

Setelah PKT mendapatkan perlakuan istimewa dari AS, bernegosiasi dengan GATT, dan bergabung dengan WTO, PKT tetap tidak mau melepaskan paham proteksionisme-nya terhadap perdagangan.

Ijin impor RRT, subsidi ekspor, pengembalian pajak ekspor, pengendalian nilai tukar mata uang dan berbagai penghalang lainnya semua itu adalah tindakan proteksionisme perdagangan.

Dalam hal ini, sebenarnya selama ini terhadap negara rekan dagangnya yang terbesar dan sumber surplus terbesar yakni Amerika, PKT telah melakukan suatu perang dagang yang diam-diam, bergerilya dan tidak bersuara.

Beberapa periode pemerintahan Partai Demokrat tutup sebelah mata akan hal ini, tidak berani menghadapinya, karena berbagai alasan.

Setelah Trump menjabat, sebenarnya sebelum menjabat,Trump juga telah mengungkap perang ekonomi PKT terhadap AS, dan telah dikemukakan sebagai agenda kerja, dan juga bersiap-siap untuk memberikan reaksi yang kuat pada PKT.

Mengapa ada yang mengatakan bahwa perang dagang antara RRT-AS telah dimulai?

Ini adalah karena, perang mata uang yang terkait dengan perang dagang, bagi sejumlah orang sudah dimulai. Menkeu Brazil Guido Mantega sudah memperingatkan 7 tahun silam, perang mata uang di seluruh dunia telah dimulai. Yang dimaksud dengan perang mata uang adalah, setiap negara berebut melemahkan mata uangnya, untuk mendapatkan keunggulan perdagangan.

Sebuah negara karena nilai tukar mata uang yang rendah, produk ekspornya lebih kompetitif di pasar dunia, produk dari negara-negara lain hendak memasuki negara itu semakin lebih sulit. Mantega percaya bahwa perang mata uang internasional sudah dimulai pada 2010, banyak pejabat pemerintah dan para pakar keuangan juga setuju dengan pandangan ini.

Cara untuk melemahkan mata uangnya, termasuk pengendalian aset, pengendalian mata uang asing dan pelonggaran kuantitatif (QE).

Perdebatan sengit terkait nilai tukar RMB antara RRT dengan AS, dan konflik antara Jepang dengan negara zona Euro, Jepang dan Bank Sentral Eropa pada 2015 masih menerapkan kebijakan pelonggaran kuantitatif, itu adalah wujud perang mata uang. Gada pemukul yang diayunkan Trump yakni “RRT adalah negara pengendali mata uang” juga berasal dari sini.
Kebijakan PKT saat ini sepertinya adalah jurus untuk menetralisir serangan Amerika sebelum Trump benar-benar bertindak, dengan cara pendekatan diplomatik dan bermanuver, untuk menekan sampai seminim mungkin kerugian pihak RRT akibat perang dagang ini.

Saat ini, tingkat pendekatan diplomatik antara RRT dengan AS masih belum begitu tinggi, Trump hanya secara simbolis menyapa Komisi Kenegaraan PKT, pendekatan antar pejabat menengah kedua belah pihak seharusnya dilakukan lebih intensif.

Hubungan dagang RRT-AS bisa dikatakan ibarat bebek sedang berenang di tengah danau, di permukaan terlihat tenang, tapi di bawah air gerakannya sangat gusar. Jadi meskipun perang dagang RRT-AS walaupun belum resmi memasuki skala konflik, tapi penjajakan kekuatan, menelaah keadaan satu sama lain, bahkan ada kontak pada bagian tertentu, seharusnya sudah memasuki tahap penerapan. (sud/whs/rmat)

*John M. Olin Palmetto Professor in Business University of South Carolina Aiken