- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Penelitian Mengungkapkan Peran Limpa pada Kecemasan Berkepanjangan Setelah Stres

Para ilmuwan mengungkap petunjuk hubungan antara otak dan sistem kekebalan tubuh pada penderita akibat stres jangka panjang.

Penelitian baru merincikan hubungan tersebut, khususnya pada tikus, di mana sel darah putih yang berlimpah di dalam limpa akan mengirimkan pesan ke otak yang mengakibatkan perubahan perilaku setelah tikus mengalami stres berulang.

“Kami menemukan bahwa sel kekebalan di dalam limpa dapat berkontribusi pada kecemasan kronis yang menyertai stres psikologis,” kata Daniel McKim, seorang mahasiswa pascasarjana di Ohio State University dan penulis utama penelitian tersebut.”Temuan kami menekankan kemungkinan sistem kekebalan tubuh merupakan target terapi baru untuk pengobatan kondisi kesehatan mental”.

Penelitian ini merupakan bagian dari serangkaian penelitian terkait disajikan pada tanggal 13 November 2016 di San Diego pada Neuroscience 2016, pertemuan tahunan Society for Neuroscience.

Co-penulis dan penasihat Daniel McKim, yaitu John Sheridan dan Jonathan Godbout, menjelaskan interaksi rumit antara kekebalan tubuh dengan stres pada hewan yang telah mengalami “kekalahan sosial yang berulang kali” dalam upaya untuk akhirnya meningkatkan kesejahteraan seseorang yang mengalami tekanan psikologis jangka panjang. John Sheridan adalah direktur asosiasi Institute Ohio State for Behavioral Medicine Research dan seorang profesor biosains. Jonathan Godbout adalah seorang profesor ilmu saraf.

Dalam penelitian ini, trio ilmuwan ini menentukan bahwa perubahan sel kekebalan berlangsung menetap selama hampir satu bulan setelah tikus mengalami stres.

“Stres muncul untuk meminta pelepasan sel induk dari sumsum tulang ke limpa, di mana sel induk akan berkembang menjadi sel darah putih, atau monosit, dan jumlahnya semakin banyak dari waktu ke waktu, sehingga limpa menjadi reservoir sel yang mengalami peradangan,” kata Godbout.

“Kemudian limpa menjadi reservoir sel inflamasi.”

Sheridan mengatakan kini limpa dipahami sebagai bagian integral sensitisasi yang terjadi setelah stres berkepanjangan pada tikus, yang menyebabkan kecemasan dan masalah kognitif lainnya.

“Ini seperti memori stres,” kata Godbout.

Dalam karya mereka sebelumnya, peneliti Ohio State telah membuktikan peningkatan prevalensi kecemasan jangka panjang dan depresi pada tikus terkena stres kronis, model yang telah dibandingkan dengan gangguan stres pasca-trauma pada orang yang lain.

” Mungki kecemasan adalah hal yang baik untuk kelangsungan hidup … tetapi akan menimbulkan masalah apa bila berlebihan di dalam sistem kekebalan tubuh, “kata Godbout.

“Kami mulai mengumpulkan rincian lebih lanjut mengenai komunikasi dua arah antara otak dan tubuh, serta tubuh dan otak,” kata Sheridan.(Epochtimes/Vivi/Yant)