Ketika Brooke dan pasangannya menerima kabar gembira bahwa mereka bakal mendapatkan anak kembar, mereka sudah pasti sangat antusias.

Namun, kegembiraan mereka berubah duka ketika mereka diberitahu salah satu dari anak kembar mereka tidak dapat diselamatkan saat kehamilan Brooke memasuki usia 24 minggu.

“Saya hanya mampu menangis,” ujar Brooke. Proses kehamilannya sangat sulit sehingga hanya seorang saja anak kembarnya yang mampu hidup.

Saat melakukan tes ultrasound di Florence Alabama Clinic, Brooke telah diberitahu bahwa anak kembarnya yang masih berada di dalam kandungan meninggal akibat Twin to Twin Transfusion Syndrome atau TTTC.

Sindrom yang agak luar biasa ini menyebabkan salah satu dari anak kembar itu tidak dapat menerima aliran darah yang memadai. Kebanyakan bayi kembar yang mengalami sindrom ini tidak dapat diselamatkan.

Anak kembarnya yang dapat diselamatkan, Walker, lahir bersama kembarnya yang sudah meninggal dunia, Willis, pada Maret 2007.

Menurut Brooke, kelahiran mereka disambut dengan rasa pahit manis. Brooke merasa bersyukur tapi sedih pada saat yang sama.

Walker tumbuh dengan rasa ikatan dengan kembarnya itu, meskipun dia sudah tiada.

Pada tahun 2012, Walker duduk di sebelah tanah kuburan kembarnya sambil ngobrol tentang hari pertamanya di TK. Dia juga suka menulis kepada kembarnya itu.

Brooke menerima keakraban antara dua anak kembarnya itu. Kata Walker, “saya tahu kembar saya sedang mengamati dan menjaga saya.”

Keluarga tersebut gemar mengunjungi kuburan Willis. Semua anak-anak Brooke dan pasangannya, Michael, akan turut sama mengunjungi.

Setiap tahun, mereka membawa balon ke kubur Willis sempena perayaan hari lahir Walker dan Willis.

Brooke dan Michael kini mengumpulkan dana dengan menggelar kampanye kesadaran tentang TTTC untuk menyelamatkan nyawa bayi yang terkena dengan sindrom ini.

Sejauh ini, mereka telah mengatur dua kampanye penggalangan dana untuk amal TTTC. (Erabaru.my/Yant)

Share
Tag: Kategori: MISTERI SERBA SERBI

Video Popular