Matt Garlock sulit mendengar apa yang dikatakan teman-temannya meskipun mereka sudah berteriak, namun hasil uji pendengarannya adalah normal. Penelitian terbaru menyebutnya sebagai “kehilangan pendengaran yang tersembunyi”.

Ilmuwan telah menemukan bukti bahwa suara keras – dari konser rock dan sejenisnya – merusak pendengaran dengan cara yang tak terduga sebelumnya. Kerusakan pendengaran ini tidak segera tampak dan tidak muncul dalam hasil uji pendengaran standar.

Namun dengan seiring waktu, peneliti Harvard ,  M. Charles Liberman mengatakan, kehilangan pendengaran yang tersembunyi dapat merampok kemampuan kita untuk memahami percakapan dalam suasana yang bising, yang semakin buruk seiring bertambahnya usia, di mana menyebabkan dering terus-menerus di telinga.

Intinya: “Kebisingan lebih berbahaya dari yang kita duga.”

Untuk memahami penelitian Liberman, itu membantu untuk mengetahui sebera kita mendengar.Ketika suara memasuki telinga, suara disambut oleh sel rambut. Sel rambut mengubah gelombang suara menjadi sinyal yang dibawa oleh saraf ke otak. Seseorang dapat kehilangan sel rambut karena berbagai alasan – suara keras, beberapa obat, atau faktor penuaan – dan pendengaran kita menghilang seiring hilangnya sensor tersebut, inilah yang diukur oleh uji standar audiogram yang mengukur seberapa lembut suara yang dapat kita dengar di lingkungan yang tenang.

Dalam penlitian  Liberman ini menunjukkan bahwa ada jenis kerusakan lain yang tidak membunuh sel rambut, tetapi yang mengarah ke pengalaman seperti Matt Garlock.

Matt Garlock adalah seorang insinyur yang berusia 29 tahun yang tinggal di dekat Boston, adalah mantan penggemar  konser rock.

“Saya tiba di rumah dan mendengar dering di telinga yang berlangsung selama beberapa hari dan kemudian hilang,” kata Matt Garlock.

Pada tahun 2015, Matt Garlock menjalani uji audiogram dan hasilnya adalah normal.

Musim gugur yang lalu, Matt Garlock membaca berita penelitian yang ditulis oleh Liberman, yang merupakan tindak lanjut karya Liberman sebelumnya yang membuktikan bahwa suara keras merusak hubungan halus antara sel rambut dengan saraf yang membawa sinyal pendengaran ke otak.

Gejalanya tidak hanya berupa dering terus-menerus di telinga, namun lama kelamaan akan kesulitan memahami percakapan dalam suasana yang bising.

Matt Garlock menerima email salah satu rekan  Liberman dan dengan sukarela untuk turut serta dalam tindak lanjut penelitian beliau.

Hubungan antara sel-sel rambut disebut sinaps, dan sel rambut tertentu memiliki banyak sinaps. Penelitian pada hewan menunjukkan kehilangan lebih dari setengah dari sinaps tidak memberi dampak terhadap hasil audiogram.

Tetapi Liberman mengatakan bahwa kehilangan sinaps yang cukup banyak akan mengikis pesan saraf untuk sampai ke otak, memusnahkan detail yang sangat penting untuk memilah percakapan supaya terdengar dalam suasana bising.

“Salah satu indikasi yang menggembirakan dari penelitian terhadap hewan adalah bahwa obat mungkin dapat memacu saraf untuk menumbuhkan kembali sinapsis yang hilang. Sementara ini, tutuplah telinga dengan penutup bila berada di tempat yang bising atau saat menggergaji,” kata C Liberman, yang memegang saham keuangan di sebuah perusahaan yang sedang mencoba untuk mengembangkan pengobatan tersebut.(NTDTV/Vivi/Yant)

Share

Video Popular