Oleh: DR. Frank Tian, Xie

Pada festival film internasional di kampus tahun ini, film Spanyol “Butterfly” yang dibuat pada 1999 terkait erat dengan nasib rakyat dan juga masa depanTiongkok.

Bocah Spanyol di dalam film ini, bahkan musisi desa mendambakan gadis dari timur, dari Tiongkok yang dilihatnya di dalam sebuah komik, sebagai pasangan hidupnya. Film Eropa memiliki makna yang sangat mendalam yang bisa diresapi dalam waktu cukup lama.

Kisah film “Butterfly” terjadi di sebuah desa kecil di barat laut Spanyol di era 1930. Desa kecil ini sebenarnya sangat menyerupai desa kecil atau kampung di Tiongkok, hanya saja cara berpakaian yang berbeda, yang dimakan bukan nasi melainkan keju dan ham, tapi suasana desa yang tenang dan damai.

Gaya hidup di desa, pemandangan alamnya, serta pria dan wanita yang lugu dan sederhana, hubungan antar manusia, hubungan pria dan wanita, semuanya sangat mirip dengan desa di Tiongkok.

Pemeran utama di film adalah anak laki-laki yang dijuluki “Moncho”, putra seorang penjahit, yang baru saja masuk sekolah. Guru di sekolah sangat ramah, tapi merupakan seorang atheis, sedangkan orang tua anak itu adalah pengikut agama yang religious. Pada saat itulah meletus perang saudara di Spanyol, bahkan desa kecil yang jauh dari ibukota Madrid pun terimbas olehnya.

Perang sipil Spanyol (Guerra Civil Española) adalah perang saudara yang terjadi di Republik Spanyol ke-2 sejak Juli 1936 sampai April 1939, Tiongkok kala itu juga sedang sengit-sengitnya berperang melawan agresor Jepang.

Bagi Profesor Stevenson di kampus kami yang berdarah Skotlandia, perang saudara di Spanyol itu dengan perang antara Nasionalis dan Komunis di Tiongkok waktu itu, agak berbeda dengan perang sipil utara dan selatan di Amerika, bukan karena perbedaan golongan dan wilayah, melainkan “perang saudara” antara sesama keluarga, antara sesama teman, dan lingkungan tetangga.

Setelah Negara Republik Spanyol yang pertama runtuh, republik yang kedua memanfaatkan kekuasaan pemerintah untuk menentang agama, mengintervensi dengan keras agama Katolik, melarang penyebaran agama dan menertibkan kelompok agama.

Salah satu pihak yang berperang adalah Presiden Manuel Azaña bersama tentara pemerintah republik, para kaum anarkis dan barisan rakyat sayap kiri. Sedangkan di pihak lain adalah Francesco Franco bersama dengan tentara rakyat Spanyol dan kaum Falangis sayap kanan.

Barisan rakyat sayap kiri mendapat bantuan dari Uni Soviet dan Meksiko, sedangkan tentara rakyat sayap kanan anti-komunis yang dipimpin Franco mendapat dukungan dari Jerman, Italia dan Portugal.

Konflik ideologi ini, memperlihatkan perang antara kekuatan komunis melawan kekuatan anti-komunis internasional, jadi masyarakat beranggapan perang sipil Spanyol ini adalah awalan dari PD-II.

Sebanyak hampir 20.000 pasukan Jerman, lebih dari 70.000 pasukan Italia, 20.000 pasukan Portugal dan 4.000 orang Inggris, pada ikut ambil bagian dalam perang sipil Spanyol ini.

Jumlah tentara Uni Soviet yang ikut berperang tidak banyak, tapi amunisi dan senjatanya meluber, apalagi Uni Soviet yang licik menuntut pemerintah Republik Spanyol untuk membayar persenjataan dengan emas miliknegara yang ada di bank. Persenjataan senilai lebih dari USD 500 juta itu telah menghabiskan 2/3 cadangan emas milik Spanyol!

Perlu diketahui, waktu itu Spanyol memiliki cadangan emas ke 6 terbanyak dunia, emas milik Spanyol yang dikirim ke Uni Soviet waktu itu, sebagian untuk membayar persenjataan, sisanya untuk disimpan sementara di Uni Soviet.

Emas yang disimpan di Prancis, semua sudah dikembalikan oleh Prancis pasca perang, sedangkan emas yang dikirim untuk disimpan di Uni Soviet lenyap tak berbekas.

Pejabat Uni Soviet yang mengenang kata-kata Stalin yang mengatakan, “Orang-orang Spanyol jangan pernah bermimpi bisa melihat emas mereka lagi, sama seperti mereka tidak pernah bisa melihat telinga mereka sendiri.”

Warga Tiongkok waktu itu sibuk berperang melawan Jepang, namun masyarakat Barat sangat menyoroti perang ini dan ikut ambil bagian, manusia pada ajang perang ini untuk pertama kalinya menggunakan pesawat membombardir kendaraan tank, juga pertama kalinya melakukan bombardier besar-besaran terhadap perkotaan.

Penulis AS Hemingway sebelum menulis karya terkenalnya berjudul “The Old Man and The Sea”, juga menulis banyak hasil liputannya dan prosa terkait perang sipil Spanyol ini, tapi waktu itu ia juga meninggalkan agama Katolik yang diyakininya.

Perang saudara Spanyol membuat manusa merasa sangat ketakutan, karena kedua pihak yang berperang saling membantai tawanan perang, dan antar sesama warga sendiri juga saling membunuh karena perbedaan agama.

Akhirnya Franco berhasil menduduki Barcelona, Tentara Nasionalis memenangkan perang, Republik Kedua hancur. Franco memulai pemerintahan bertangan-besinya selama 40 tahun, menumpas habis kaum pro-komunis dan tokoh sosialis, dengan cara diplomatik yang luwes, ia berhasil membawa perekonomian Spanyol melejit setelah PD-II. (sud/whs/rp)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular