Akibat perang saudara, “setengah warga Spanyol telah tewas”. Kini menyaksikan perang ini lagi, tetap terasa menakutkan. Berbagai kekuatan internasional, berbagai ideologi, berbagai keyakinan dan kepercayaan, terlibat duel disini.

Setelah perang, orang asing pun pergi, yang tertinggal di Spanyol hanya seonggok puing-puing. Tidak ada seorang pun tahu berapa banyak korban yang tewas, tapi para sejarawan memperkirakan, jumlah korban tewas sekitar 500.000 orang.

Di desa itu, karena perang saudara, masyarakat tiba-tiba menjadi saling bermusuhan, yang pro pada pemerintah republik, kaum anarkis, dan tokoh sayap kiri pro-komunis, bermusuhan dengan yang pro pada tentara Nasionalis, kaum Falangis, penganut Katolik taat, dan sebagian kaum atheis. Karena adanya perselisihan ini, desa yang tadinya damai menjadi tidak lagi damai, penculikan pembunuhan, eksekusi, pemberontakan, terjadi dimana-mana.

Bocah lelaki yang menjadi pemeran utama, tidak tahu harus berpihak kepada siapa, sangat bingung, di antara ayah ibu, guru, tetangga dan teman-temannya.

Ia bisa saja menuruti perintah orang tuanya agar ia melempar batu pada pengacau atau orang-orang yang pro-komunis, tidak masalah. Tetapi jika disuruh agar melempari gurunya dengan batu, ia tidak mengerti mengapa. Akhirnya dari lubuk hatinya yang belia itu, terlontar kata-kata yang tidak sesuai awal dan akhirnya, saling kontradiksi, dan membingungkan.

Perbedaan terbesar di tengah masyarakat Tiongkok saat ini adalah dua kelompok besar yakni kelompok yang beragama dan yang tidak beragama. Perlawanan dari Falun Gong terhadap Partai Komunis Tiongkok/PKT selama hampir 20 tahun ini sesungguhya adalah perseteruan antara pengikut Tuhan dengan kaum atheis, adalah ajang adu kekuatan antara kebenaran dan kejahatan.

Film di “Butterfly” menginspirasi penonton, ketika masyarakat bergolak, menjelang terjadinya perubahan besar, manusia akan mengalami serangkaian ujian dalam hal moral.

Tapi manusia tak akan tahu ujian itu apakah telah datang, mereka hanya tahu di tengah perubahan besar ini, mereka harus menentukan pilihan. Pilihan ini, sebenarnya tak terpisahkan dengan moralitas, konsep dan perilaku serta keteguhan terhadap kebenaran pada diri seseorang.

Spanyol pada 1936, etika masyarakat dan hukum lenyap seketika, kelemahan, kebejatan, kekejaman di dalam diri manusia yang telah lama tersembunyi dan terpendam seolah terlontar keluar, masyarakat terperosok ke dalam keputusasaan.

Tiongkok sekarang ini, bukankah juga mengalami hal yang sama? PKT sendiri telah menginjak-injak hukumnya sendiri, sekarang tak ada lagi hukum yang bisa diandalkan, bukankah ini akan menanam bibit kekecewaan masyarakat?

Bentrok dan konflik di dalam hati manusia, meliputi godaan paham komunis, penipuan oleh kaum atheis, pengaruh dari kaum anarkis, keteguhan terhadap konsep tradisi, keyakinan dan kepercayaan terhadap Tuhan. Mereka terbelit menjadi satu, di era yang kacau dan membingungkan ini, harus menentukan pilihan dari hati nurani.

Seperti bocah lelaki “Moncho” di film ini, orang yang tak berdosa terseret ke dalam politik, padahal di dalam hati mereka tidak rela, apalagi jika ada kesempatan mereka juga akan mengeluarkan seruan kebaikan dan murni yang sesungguhnya dari dalam hati mereka. (sud/whs/rp)

SELESAI

Share

Video Popular