Oleh: Cheng Jing

Abad lalu paruh kedua, di Asia Tenggara pernah berkali-kali terjadi peristiwa rasialis berskala besar terhadap etnik Tionghoa. Banyak yang tidak mengetahui bahwa peristiwa itu sangat erat kaitannya dengan politik “Ekspor Revolusi Kekerasan” dari Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Ucapan Mao Zedong Membuat PKM Terjerumus Dalam Pertarungan Intern

Ditengah arus penuntutan kemerdekaan dari berbagai bangsa di dunia, 1955, Malaysia yang berada dibawah jajahan Inggris melakukan pemilu untuk kali pertama dan mendirikan pemerintah otonomi federal, perwakilan PKM (Partai Komunis Malaysia) dan pemerintah otonomi mengadakan perundingan di Hualing.

Akan tetapi, partai politik yang mewakili kepentingan orang Melayu yakni UMNO, dalam pemilu keluar sebagai pemenang mutlak, UMNO pun menuntut PKM, “Jika ingin berunding, PKM harus menyerah terlebih dahulu!”

Pada saat itu PKT (Partai Komunis Tiongkok) bersama PKUS (Partai Komunis Uni Soviet) mengusulkan agar PKM mempertahankan kekuatannya, dan mengubah bentuk perjuangan dari perang gerilya menjadi bentuk perjuangan politik ilegal.

Perundingan Hualing gagal. Pada 8/1957 Malaysia menyatakan kemerdekaannya dibawah naungan British Commenwealth. Pada 1959, jumlah tentara Front Pembebasan Nasional PKM menurun hingga tinggal 600-an orang dan terpaksa berpindah ke Thailand selatan.

Awal 1960-an, RRT dan Uni Soviet bermusuhan. Mao Zedong beranggapan telah tiba saatnya ia menjadi pemimpin revolusi dunia, maka memberitahu para pemimpin partai komunis negara-negara Asia Tenggara, revolusi akan segera melanda negara-negara Asia Tenggara dan memprediksi pemerintah Vietnam, Kamboja, Thailand dan Malaya akan mengalami keruntuhan.

Pada Juli 1961 melalui Deng Xiaoping selaku sekjen PKT saat itu, Mao menyampaikan pendapat bahwa jangan mengubah politiknya disaat “Asia Tenggara sedang mengalami perubahan besar.”

Setelah beberapa kali melakukan perundingan dengan pimpinan PKM lainnya, akhirnya Chen Ping memutuskan menerima usulan Beijing dan memutuskan untuk melepas politik “perubahan arah” yang telah dicanangkannya 18 bulan sebelumnya.

Akhirnya, PKM mengangkat senjata lagi dan kembali ke dalam hutan mulai melakukan perjuangan bersenjata. Chen sibuk mondar-mandir antara Beijing dan basis perjuangan yang berada di perbatasan Malaysia – Thailand. Mao Zedong memberi petunjuk “minta berapa diberi berapa”. Radio ”Suara Revolusi” milik PKM tersebut diatas pada saat itulah didirikan.

Chen Ping dalam buku memoirnya mengingat kembali keadaan saat itu, “Kami setiap tahun menyampaikan anggaran bantuan kepada RRT. Mata uang anggaran menggunakan US$, namun kami bisa meminta mata uang yang kami butuhkan. Beijing dapat menambah anggaran kami seiring perubahan keperluan kami. Kondisi seperti itu terus berlanjut hingga pemberian bantuan diberhentikan pada 1989.”

Sejak itu,  pemerintah Malaysia dan Thailand terus melakukan pengepungan dan pembasmian kekuatan bersenjata PKM. Sedangkan PKM terus menerus melakukan perlawanan dan penyerangan terhadap angkatan bersenjata pemerintah serta mendirikan basis perlawanan di dalam hutan.

Siapapun tidak dapat menyangkal, banyak orang tak berdosa termasuk anggota keluarga sendiri telah menjadi korban dari tindakan keduabelah pihak.

Hingga akhir 1960-an, perjuangan bersenjata PKM pada dasarnya telah mengalami kekalahan. Menurut pemberitaan, serangan yang dilakukan PKM telah mengakibatkan 11.000 orang tewas, diantaranya lebih dari 2.500 orang adalah penduduk sipil.

200 Orang Dibunuh Dalam Perseteruan Internal PKM

Bersamaan mengekspor revolusi, PKT juga tidak lupa mengekspor “pertarungan garis partai”.

Pada Januari 1967, RRT sedang terjerumus dalam Revolusi Kebudayaan, ditengah perundingan dengan PKM, Kang Sheng selaku konsultan Kelompok Revolusi Kebudayaan PKT pernah mewakili PKT melakukan rapat dengan PKM, yang menggembar-gemborkan pandangan terhadap masalah pertarungan dua garis politik PKM yang terjadi di internal PKT. Mengkritik keras Wang Jiaxiang (Menteri Departemen Internasional Sentral Komite PKT) yang menyangkal ideologi Mao Zedong tentang perebutan kekuasaan dengan kekuatan bersenjata.

“Mereka (Liu Shaoqi, Deng Xiaoping dan Wang Jiasiang) begitu berani meminta kalian mengubah bentuk perjuangan, tidak pernah mengajukan persetujuan dari saya dan menanyakan pendapat saya,” ujar Mao tatkala menemui mereka.

Pada 1969, PKM juga melakukan gerakan pembersihan anasir anti revolusi secara besar-besaran. Banyak anggota partai yang dicurigai tanpa melalui persidangan, langsung dihukum mati atau disingkirkan, disaat itu Chen Ping dan petinggi partai lainnya sedang berada di RRT. Jauh dari pangkalan PKM di dalam hutan Malaysia – Thailand.

Pembunuhan yang ngawur menyangkut mereka yang tidak bersalah, sehingga menimbulkan perpecahan di dalam kelompok PKM di berbagai daerah, mengakibatkan terjadinya pertumpahan berdarah yang paling besar dalam sejarah PKM pada 1969 – 1970, berdasarkan data statistik, sedikitnya lebih dari 200 orang terbunuh dan ratusan orang mengalami pembersihan.

Pembersihan internal PKM yang sangat sadis dan pertempuran antara para kelompok, membuat PKM mulai terpecah belah. Pada Februari 1970 PKM (kelompok revolusioner) keluar dari PKM, pada Agustus 1974 terpecah keluar lagi PKM kelompok Marxis-Leninis.

Pada 1983 dua kelompok bergabung mengklaim dirinya sebagai Partai Komunis Malaysia, sedangkan Chen Ping di-cap sebagai “Revisionis”. Akhirnya kekuatan komunis semakin lemah. (tys/rp)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular